MOJOK.COAbou Diaby dan Eduardo akan selamanya menjadi penanda. Menjadi titik-titik aksara di sebuah prasasti bernama Arsenal. Prasasti yang saat ini kita pahami dengan satu kata: kegagalan.

Musim 2005/2006 ditandai oleh tiga perasaan besar; dua rasa kecewa yang luar biasa dan satu rasa excitement setelah musim usai. Dua perasaan kecewa diwakili oleh cederanya Abou Diaby dan final Liga Champions yang dirampok. Rasa excitement yang semakin memuncak setelah Emirates Stadium akhirnya bisa digunakan.

Liga Champions akan selalu bisa dikejar lagi. Entah kapan, jika kita sedang membicarakan Arsenal. Maksudnya, sebuah klub akan tetap bisa kembali ke panggung gemerlap itu lain waktu. Jangka waktunya panjang. Bisa terjadi di kehidupanmu sekarang atau lain kali. Jika jangka waktu sebuah klub untuk kembali ke Liga Champions masih panjang, tidak demikian dengan karier pemain.

Musim 2005/2006 itulah, untuk kali pertama, rasa kecewa karena cedera pemain begitu memukul saya. Waktu itu, saya belum tahu kalau sebuah tekel ke arah ankel Abou Diaby adalah permulaan dari sebuah horor panjang. Sebuah kesedihan yang diulang kembali ketika Eduardo da Silva patah kaki di Saint Andrew, kandang Birmingham.

Saya ingat betul “suasana” di sekitar cederanya Abou Diaby. Retak di bangian ankelnya dianggap sebagai “hujan setelah mendung gelap”. Sesuatu yang biasa. Hal yang pasti terjadi. Cedera selalu berkawan baik dengan atlet.

Satu hal yang mengganggu perasaan saya adalah ketika, beberapa tahun kemudian, Diaby berkata bahwa sebelum tekel keras itu, dia belum pernah cedera. Bagi pemain muda, cedera untuk kali pertama bisa merusak banyak hal. Apalagi cedera yang datang termasuk berat. Namun, di Mei 2006 itu, banyak orang yang belum tahu bahwa karier Diaby sudah seperti lilin yang hampir habis dilalap api.

Kedatangan Diaby, bersamaan dengan Emmanuel Adebayor, menghadirkan excitement baru. Kepergian Patrick Vieira meninggalkan ruang hampa di lini tengah Arsenal. Diaby, dengan kaki panjangnya, dengan tinggi badannya, dengan kepercayaan dirinya, membuat bayangan Vieira mulai dipupus secara perlahan.

Gilberto Silva dan Cesc Fabregas akan mendapatkan pelapis potensial. Sayang, semuanya berakhir dengan kata “tapi” dan “jika”. Sebuah kesedihan yang sama tertarik dari masa 2006 ketika karier Eduardo da Silva tidak lagi sama setelah laga di Saint Andrew.

Sama seperti Diaby, nama Eduardo memberikan excitement yang nyata. Kebanyakan fans Arsenal tidak mengenal Eduardo ketika datang di musim 2007/2008. Dia datang dari Dinamo Zagreb. Bersama-sama Luka Modric dan Vedran Corluka, mereka memikat Eropa.

Baca juga:  Hilangnya VAR Juventus vs Inter dan Liga Inggris di Australia: Kegoblokan Hari Ini

Fans Arsenal diberi petunjuk oleh Arsene Wenger kala itu. Beliau bilang: “Saya langsung tahu kalau dia pemain special. Sejarah hidupnya bisa menjelaskan banyak hal. Seorang pemuda dari Brasil yang berhasil beradaptasi di sebuah negara dengan kultur sepak bola berbeda. Jadi, saya percaya dia akan beradaptasi dengan cepat di Arsenal.”

Aroma kedatangan Eduardo di Arsenal persis seperti awal karier Diaby. Sama-sama diiringi harapan tinggi. Jika Diaby diidamkan menjadi penerus Vieira, Eduardo datang ketika Thierry Henry dan Freddie Ljungberg hengkang. Kepergian dua pemain legendaris itu menjadi penanda habisnya romansa invincible yang tersisa.

Eduardo tidak langsung mendapatkan “pijakan” yang ideal. Duet Robin van Persie dan Adebayor tampil sangat stabil. Duet itu mengantarkan Arsenal ke puncak klasemen. Untuk kali pertama sejak pindah ke Emirates, Arsenal kembali bisa mencoba menatap gelar juara Liga Inggris di kejauhan dengan kepercayaan diri.

Momen bagi Eduardo datang ketika van Persise cedera ketika tugas negara dan Adebayor butuh rekan kerja. Striker yang akhirnya memilih Kroasia ketimbang Brasil itu menancapkan kukunya di tim utama dengan sebuah gol indah ke gawang Sheffield United. Menerima umpan diagonal dari Nicklas Bendtner di sisi kiri lapangan, masih agak jauh dari kotak penalti, Eduardo mengontrol bola sebelum melepaskan tembakan keras ke sisi kanan gawang Sheffield United.

Gol indah itu menjadi sebuah pengiring atau bisa kamu sebut sebagai penegas tingginya level Arsenal kala itu. Pada Februari 2008, Arsenal unggul lima poin dari Manchester United. Pundit menjagokan mereka akan tetap kuat di posisi satu sampai musim paripurna. Namun, sekali lagi, seperti yang dialami Abou Diaby, gemuruh excitement pudar dengan cepat.

Tanggal 23 Februari 2008, Arsenal tandang ke Saint Andrew. Birmingham ada di zona degradasi dan mereka bermain dengan segala kekuatan untuk setidaknya tidak kalah. Dan Birmingham tahu, Eduardo yang menjadi penanda laju Arsenal kala itu.

Pertandingan berjalan tiga menit. Kedua tim masih berusaha saling membaca, membayangi. Gael Clichy melepas umpan sederhana ke Eduardo. Martin Taylor, bek Birmingham langsung menekan dan ingin sesegra mungkin mengambil bola. Tekel menjadi pilihannya. Namun, Eduardo sudah membaca pilihan Martin Taylor itu. Dia tidak mengontrol bola, tetapi langsung mengumpan dengan satu sentuhan. Martin Taylor gagal menggapai bola, tetapi kakinya menghantam kaki Eduardo.

Tulang tibia dan fibula patah bersamaan. Patahan tulang itu merobek dan menembus otot. Takel Martin Taylor menghantam kaki Eduardo yang menjadi tumpuan gerak. Karena impak dari hantaman itu, ankel Eduardo ikut patah.

Baca juga:  Sehari Sebelum Piala Dunia 2018, Spanyol Malah Pecat Pelatih

Dua detik pertama, kejadian itu terasa sama seperti kejadian yang menimpa Abou Diaby. Namun, semua orang baru tersadar kalau horor sudah terjadi ketika Fabregas terlihat sangat panik. Dia meminta petugas medis untuk segera masuk lapangan. Alexander Hleb memalingkan muka, tidak berani melihat impak dari horor hari itu. Tangan kanannya membekap mulut. Hleb susah payah menahan muntah.

Mathieu Flamini marah dan mendekati wasit, ketika Adebayor hanya bisa menggelengkan muka dan menatap kosong ke arah lapangan. Horor sudah terjadi, suka tidak suka. Kaki Eduardo patah sempurna.

Jonathan Pearce, komentator BBC berbicara kepada audien. BBC tidak akan menayangkan cedera Eduardo karena sangat disturbing. Selama 7 menit 40 detik Eduardo mendapatkan perawatan di dalam lapangan. Dia ditandu keluar dengan mengenakan masker oksigen sebagai alat bantu. Tujuh menit 40 detik yang mengubah musim Arsenal.

“Menurut saya, orang ini tidak boleh bermain sepak bola lagi. Pikiran seperti apa yang ada di kepala Martin Taylor ketika bermain?” Arsene Wenger marah betul. Ketika ditanya apakah musim Eduardo sudah berakhir, Wenger menjawab dengan gusar: “Lebih dari musimnya yang sudah berakhir!”

Sejarah mencatat. Karier Eduardo hancur. Musim Arsenal hancur. Impian mengangkat piala Liga Inggris di stadion baru, hancur.

Mental para pemain Arsenal ikut hancur. William Gallas, yang kala itu menjabat kapten, tidak bisa mengontrol dirinya. Selepas laga, Gallas menendang papan iklan lalu terduduk dalam waktu yang lama di tengah lapangan, di tengah keheningan Saint Andrew. Sikap Gallas ini disayangkan banyak. Sebagai kapten, Gallas harus lebih kuat ketimbang lainnnya. Dia bahkan hampir berkelahi dengan Gilberto Silva.

Setelah laga itu, dari 21 poin yang tersedia, Arsenal hanya bisa mengumpulkan tujuh poin. Manchester United menyalip. Musim The Gunners usai dengan kegagalan yang terasa begitu getir. Kegagalan paling getir adalah ketika satu tanganmu sudah hampir menggapai keberhasilan untuk kemudian terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi.

Cedera. Begitu akrab dengan karier pemain. Cedera, menjadi karib Arsenal. Nama Abou Diaby dan Eduardo akan selamanya menjadi penanda. Menjadi titik-titik aksara di sebuah prasasti bernama Arsenal. Prasasti yang saat ini kita pahami dengan satu kata: kegagalan.

BACA JUGA 5 Detik yang Memisahkan Arsenal dari Masa Depan atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.