MOJOK.COSatu konsep dasar bernama hukum 5 detik itu yang memisahkan Arsenal dari masa depan. Sebuah konsep yang akan menjadi dasar dari banyak konsep di lain hari.

Arsenal menang. Untuk kali pertama. Setelah sekian lama. Kemenangan yang dirayakan gegap gempita. Oleh para pemain dan suporter di seluruh dunia. Mungkin, kayak gini rasanya jadi fans Crystal Palace atau Newcastle United, yang jarang merasakan kemenangan. Hanya kepada Manchester United kita bisa berharap mendapatkan kemenangan. Makasih, Setan!

Mikel Arteta menghadirkan perubahan itu secara instan. Arsenal, sebuah klub besar yang paling tertinggal dalam soal modernnya sebuah cara bermain, berubah menjadi lebih baik. Setidaknya mereka sudah bermain seperti selayaknya tim besar yang punya niat untuk mendominasi. Apalagi melawan sesama tim medioker seperti United.

Dan satu hal yang menjadi pembeda adalah visi “5 detik”….

Visi “5 detik” yang menjadi pembeda. Menjadi sebuah cara pandang yang ketika hilang, Arsenal kalah dari Chelsea. Lima detik yang saya maksud adalah 5 second law yang dipopulerkan oleh Pep Guardiola. Visi ini merupakan dasar dari counter-press, dari sebuah cara pandang yang juga disebut gegenpress dan dipopulerkan Jurgen Klopp.

Sederhana saja, visi ini menuntut pemain untuk segera merebut kembali penguasaan bola segera setelah direbut lawan. Lima detik saja, penguasaan bola harus direbut kembali. Dengan begitu, biasanya, sebuah tim akan mendapatkan kembali penguasaan di wilayah lawan. Lebih dekat dengan kotak penalti, artinya peluang lebih mudah diciptakan. Secara teori terlihat sederhana.

Baca juga:  Santi Cazorla: Legenda Arsenal dan Pengingat Beratnya Sebuah Proses Kebangkitan

Teorinya, sih, sederhana. Namun, eksekusinya sangat kompleks. Para pemain Arsenal dituntut punya stamina prima. Terutama untuk terus berlari selama 90 menit. Para pemain juga harus punya kesadaran akan pressing, yang mana tidak mudah untuk ditumbuhkan. Terakhir, koordinasi.

Hukum lima detik ini bukan cara pressing serampangan. Harus terkoordinasi. Para pemain saling mengisi ruang sedemikian rupa sehingga lawan kehabisan opsi umpan. Jika gagal melakukannya, pressing yang dilakukan akan sangat tumpul. Jika tumpul, lawan akan mudah menghindari gelombang pressing itu dan masuk ke wilayahmu.

Arsenal sudah sedikit bisa melakukannya, terutama di babak pertama ketika mengalahkan United. Orang akan melihat Aubameyang dan Lacazette menekan pemain United bersama-sama. Di belakang kedua pemain itu, Mesut Ozil dan Lucas Torreira mengawasi. Salah satu kejadian dalam pertandingan terlihat ketika Harry Maguire, bek termahal United, membuang bola ke tempat duduk penonton karena semua opsi umpan ditutup.

Kejadian kedua adalah ketika David De Gea salah umpan dan dipotong Nico Pepe. Sayang, tendangan melengkung Pepe hanya menerpa tiang gawang.

Hukum 5 detik ini juga yang membuat Arsenal begitu dominan di babak pertama, baik keitka melawan United maupun Chelsea. Bedanya, ketika melawan United, para pemain sudah sadar kalau konsentrasi penuh juga salah satu syarat menerapkannya.

Ketika pemain tidak konsentrasi dan lupa dengan konsep ini, Tammy Abraham menghukum. Mustafi, yang seharusnya langsung menekan Tammy, justru berlari mundur ke gawang sendiri. David Luiz juga alpa dengan tidak mengingatkan Mustafi untuk segera menekan. Tammy yang membelakangi gawang, punya kesempatan berbalik dan berakselerasi dengan bola.

Baca juga:  Lima Klub Sepak Bola yang Suporternya Selalu Menyebalkan

Kesadaran itu sudah muncul ketika melawan United. Selepas laga, David Luiz menekankan kalau Arsenal sudah siap bertarung dengan siapa saja. Namun memang, mereka belum siap secara fisik saja. Yah, paling tidak, secara mental Arsenal sudah memahami betapa pentingnya menerapkan sepak bola intensitas tinggi yang coba dibangun Arterta. Soal stamina bisa menyusul.

Lantas, apakah Gooner sudah boleh puas? Hanya dengan mengalahkan Setan? Jangan bercanda.

Hukum 5 detik dan positional play adalah dua konsep yang sudah diresapi secara tuntas oleh Liverpool dan Manchester City. Dua klub itu bukan hanya memahaminya saja, tetapi membuat model baru sebagai bentuk perkembangan lebih lanjut.

Arsenal baru ditahap perkenalan. Proses menjadi “klub modern” masih panjang. Sepak bola Arteta tidak mungkin sempurna hanya dalam satu atau dua bulan saja. Arsenal masih akan kalah. Mereka masih akan lupa dengan konsep yang sudah dipelajari. Proses belajar akan sangat berat dan menyedihkan.

Namun, kamu, Gooner, boleh optimis. Perkembangan ke arah positif adalah perubahan yang bisa dirasakan oleh semua orang. Perubahan yang terlihat, kok. Hanya dari tiga pertandingan terakhir. Dan satu konsep dasar bernama hukum 5 detik itu yang memisahkan Arsenal dari masa depan. Sebuah konsep yang akan menjadi dasar dari banyak konsep di lain hari.

BACA JUGA Pak Arteta, Skuat Arsenal Dibuldozer Saja atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.