MOJOK.COMemadukan Matic, Fred, Bruno, dan Pogba adalah pekerjaan sulit. Namun, demi skuat ideal, Manchester United dan Ole Gunnar Solskjaer harus menemukan cara terbaik.

Apakah keberadaan satu pemain bisa mengubah peruntungan sebuah tim? Pemikiran yang seperti itu jarang terjadi. Namun, karena namanya saja “jarang”, bukan berarti tidak terjadi, bukan. Setidaknya, pemikiran itu dibuktikkan Manchester United setelah membeli Bruno Fernandes di Januari 2020.

Bruno Fernandes adalah pemain yang vokal, baik di atas lapangan maupun di ruang ganti. Pemain asal Portugal itu tidak segan-segan menegur rekannya di atas lapangan. Dia mengoreksi pemosisian diri atau mengkritik sebuah keputusan rekan yang berujung negatif untuk tim. Perlu kita akui, semua tim membutuhkan pemain seperti ini; yang punya visi dan berani speak up.

Bruno juga vokal di grup WhatsApp pemain-pemain Manchester United. Dia akan berbagi ide, menegur, komplain. Pada titik tertentu, ketika sebuah tim tengah kesulitan, bukan pelatih saja yang harus menyediakan ide. Pemain juga punya porsi untuk ikut berpikir. Terkadang, pemain yang cerewet itu memberi dampak positif.

Kedatangan Bruno berdampak positif pada dua pemain, yaitu Fred dan Nemanja Matic. Pemain baru Manchester United itu justru bermain lebih total ketimbang pemain lawas. Dia akan berlari lebih jauh, dan bergerak lebih cepat. Namun, tentu saja, semuanya dilakukan secara terukur. Bukan asal berlari saja seperti babi hutan yang sedang mengamuk.

Mungkin kita bersepakat untuk menggunakan kata “inspiratif” bagi kerja-kerja Bruno bagi Manchester United. Fred, yang ceroboh, sudah mulai berubah sebelum Bruno resmi bergabung. Kedatangan rekan kerja yang baru ketika Scott McTominay cedera, memudahkan kerja Fred. Silakan periksa catatan statistik Fred lalu gunakan untuk membaca caranya bermain selepas bulan Desember.

Bruno juga seperti menjadi penanda second coming Nemanja Matic. Pemain asal Serbia ini sudah berusia 31 tahun. Kariernya bersama Manchester United seperti tidak punya masa depan lagi. Namun, siapa sangka, Selasa (17/03) muncul kabar kalau manajemen Manchester United sudah mengaktifkan klausul one-year extension di dalam kontrak Matic.

Artinya, kontrak Matic secara otomatis diperpanjang selama satu musim. Klausul seperti ini jamak kita temui di dalam kontrak pemain-pemain senior. Klub jadi tidak perlu bersusah payah memperpanjang kontrak pemain senior ketika performanya bagus. Bahkan, kita sudah mendengar kalau manajemen Manchester United akan menyodorkan kontrak baru untuk Matic.

Baca juga:  Hari Tenang, Liverpool dan Mohamed Salah Menyatukan Pendukung Jokowi dan Prabowo

Ketika McTominay dan Paul Pogba cedera, Matic memang menjadi rekan kerja ideal untuk Fred. Duet ini yang mengawal 9 kemenangan Manchester United dari 11 laga terakhir. Duet ini pula yang menyokong kerja kreatif Bruno. Seperti kita ketahui, Bruno bisa bermain di posisi #8 (gelandang sentral) atau #10 (gelandang serang).

Satu hal yang perlu diingat adalah Matic bukan gelandang bertahan murni, pun juga dengan Fred. Kerja bertahan kedua pemain ini didasarkan kepada kolektivitas dan cara Manchester United bertahan. Keduanya terbantu dengan membaiknya performa MU secara keseluruhan. Dan perubahan itu ditandai oleh bergabungnya Fred.

Memadukan Pogba di lini tengah Manchester United yang mulai ideal

Lalu nama Pogba menyeruak….

Apakah fans Manchester United masih ingin melihat nama Paul Pogba ada di dalam 11 pemain utama setiap minggu? Saya akui, situasi Pogba bisa bikin kesal. Bagaimana tidak, agen si pemain yang bernama Mino Raiola itu tidak bisa ditebak rencananya. Mino sering bilang kalau Pogba akan bertahan. Namun, Mino juga tidak pernah tegas menyatakan tidak akan “mengiklankan” kliennya ke klub lain.

Namun, bagi saya, nama Pogba terlalu seksi untuk tidak disertakan ke dalam komposisi lini tengah yang mulai ideal. Oya, tolong dicatat, saya menggunakan istilah “ideal”, bukan “terbaik”. Dari ideal, bisa berubah menjadi terbaik. Namun, yang terbaik, belum tentu ideal. Misalnya ketika hanya menumpuk pemain mahal, tetapi tidak memperhitungkan kecocokan pemain, misalnya Los Galactico Real Madrid beberapa tahun silam.

Pogba adalah pembeda, di mata saya, tentu saja. Konkretnya begini:

Matic adalah pemain cerdas. Kemampuanya sangat berguna ketika Manchester United menguasai bola. Akurasi umpan dan pengambilan keputusannya sangat baik. Akun @utdarena menyebutnya sebagai “territorial advantage” dan saya setuju. Singkatnya, Matic jago menjaga penguasaan dan mendistribusikan bola dari sisi ke sisi.

Baca juga:  Tierney dan Bellerin, Laju Cepat Arsenal di Waktu yang Tepat

Sementara itu, Pogba adalah satu dari sedikit pemain di Eropa, dengan kemampuan umpan vertikal di atas rata-rata. Pogba, masuk ke dalam kelompok pemain yang jago dan sering melepas umpan vertikal ke daerah berbahaya lawan. Bahkan rata-rata umpan vertikal Bruno Fernandes pun masih dibawah Pogba.

Pemain lain yang tergabung dalam kelompok itu adalah Lionel Messi, Kevin De Bruyne, Neymar, Marco Verratti, dan Luis Alberto (pemain Lazio, kalau kamu belum tahu). Kenapa umpan vertikal perlu dibahas?

Bagi tim yang menguasai bola, terkadang terbentur oleh lawan yang bertahan dengan baik. Hasilnya, penguasaan bola menjadi tidak efektif. Kebanyakan orang akan berkomentar begini: “Muter-muter mulu. Tendang ke depan, kek. Bikin ngantuk”. Jenis komentar yang jamak kamu terdengar, bukan?

Kalimat itu tidak enak didengar, tetapi bisa menyederhanakan situasi di lapangan. Artinya, sebuah tim butuh ide baru, butuh inisiatif. Umpan-umpan vertikal ke daerah berbahaya menjadi sangat diharapkan. Dan bisa menjadi solusi ketika pertandingan menjadi buntu. Pogba, punya kemampuan itu.

Ini bukan soal pemain A lebih bagus ketimbang B. Fakta di atas berguna untuk menggambarkan bahwa Pogba bakal melengkapi lini tengah Manchester United yang mulai ideal. Matic dan Fred punya kemampuan menjaga penguasaan bola, Bruno sangat bagus di sepertiga akhir lapangan, dan Pogba punya umpan-umpan vertikal sebagai variasi.

Terakhir, yang dibutuhkan Manchester United adalah kreativitas Ole Gunnar Solskjaer menggunakan empat pemain ini. Memang tidak mudah memadukan empat gelandang ke dalam 11 pemain utama. Pasti akan ada yang dikorbankan. Di sinilah kualitas seorang pelatih diuji.

Ketika Ole juga semakin berkembang sebagai pelatih, Manchester United, mungkin akan punya komposisi pelatih-pemain yang ideal. Sebuah situasi yang mungkin sudah dirindukan fans MU setelah ditinggal pensiun “Bapak” beberapa tahun yang lalu.

BACA JUGA Manchester United Kini Lebih Bahagia Bersama Ole Gunnar Solskjaer atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.