MOJOK.CODemi bertahan hidup di papan atas Liga Inggris, Arsenal perlu kembali ke prinsip dasar. Alhamdulillah, Arteta menyadari hal ini.

Manchester City ditahan imbang West Bromwich Albion (WBA) dengan skor 1-1- pada 16 Desember 2020. Mereka bermain buruk dan terlihat kering kreativitas. Selepas laga, Pep Guardiola ngobrol dengan beberapa staf.

“Setelah bermain imbang 1-1 dengan WBA, saya ngobrol dengan staf. Saya bilang ke mereka, ‘Saya tidak suka keadaan ini. Saya tidak suka dengan cara kami bermain.’ Terlepas dari hasil akhirnya, saya tidak suka dengan keadaan ini. Saya seperti tidak mengenali tim saya sendiri. Oleh sebab itu, kami akan kembali ke prinsip dasar dari cara kami bermain,” ungkap Pep.

Setelah menyadari ada yang salah dari timnya, Guardiola mengubah pendekatan. Gaya bermain City memang sedikit berubah. Tidak lagi terlihat “canggih”, misalnya pertunjukkan dua inverted wing back di sisi lapangan. City bermain dengan cara paling sederhana.

Namun, hanya dengan kembali ke prinsip dasar, City menjadi lebih kuat. Sejak bermain imbang dengan WBA, menyapu bersih semua laga. Tidak ada hasil imbang, semuanya berakhir dengan kemenangan.

Menjelang laga tandang ke rumah Burnley, pelatih Arsenal, Mikel Arteta, “kebetulan”, menjelaskan beberapa aspek yang perlu diperbaiki. Beberapa aspek yang dia maksud, antara lain:

Pertama, efisien ketika mengambil keputusan. Kedua, lebih cepat membuka ruang ketika momennya datang. Ketiga, lebih efisien ketika memanfaatkan peluang. Keempat, lebih bisa mengontrol laga. Kelima, lebih banyak melakukan aksi bertahan di wilayah lawan. Keenam, lebih sedikit kehilangan bola di wilayah sendiri. Ketujuh, lebih banyak bikin gol. Kedelapan, lebih kreatif.

Cukup banyak aspek yang perlu diperbaiki Arsenal. Namun, delapan aspek di atas bisa diringkas lagi menjadi tiga aspek, yaitu efisien ketika mengumpan bola, membuat peluang, dan bertahan. Pada akhirnya, semua aspek yang perlu diperbaiki Arsenal adalah usaha untuk kembali ke prinsip dasar sepak bola demi usaha bertahan hidup di Liga Inggris.

Terkadang, sebuah tim akhirnya tumbang oleh lawan bukan karena perbedaan kualitas. Misalnya Arsenal, tidak bisa bertahan hidup bukan karena jurang kualitas, tetapi kelemahan diri sendiri. Salah umpan, salah posisi, lambat mengambil keputusan, bingung, hingga mental yang rapuh.

Semuanya adalah prinsip dasar, bukan hanya untuk bertahan hidup di sepak bola atau kompetisi olahraga, tetapi di kehidupan ini. Arsenal dikenal dengan sepak bola indah, tapi jauh dari kata efektif. Padahal, untuk bertahan hidup, keindahan tidak selalu dibutuhkan.

Keindahan itu akan datang dengan sendirinya ketika Arsenal atau kita semua tahu caranya mengatasi permasalahan hidup. Buat apa jago bersolek atau mematut diri di depan cermin jika pada akhirnya kamu jadi pecundang di tengah kenyataan hidup?

Guardiola menyadari hal itu. Tidak selalu pemikiran yang rumit akan membuahkan solusi. Bermain simpel, bergerak secara efektif, disiplin ketika bertahan, dan efisien dengan peluang membuat mereka menjadi mesin perang yang dominan saat ini.

Fans Arsenal patut bersyukur Arteta menyadari kekurangan diri yang perlu diperbaiki untuk bertahan hidup. Apa jadinya seorang insan ketika tidak pernah tahu kelemahan diri sendiri? Dia akan selalu kalah oleh kehidupan, lemah, dan terlalu ringan menyalahkan orang lain.

Skuat Arsenal berisi pemain dengan kualitas. Di atas kertas, tidak terlalu jauh dengan para rival di 10 besar Liga Inggris, kecuali jika dibandingkan dengan skuat City. Namun, sejak satu dekade terakhir, masalahnya “berkutat di situ-situ saja”. Salah umpan, tidak waspada ketika bertahan, membuang banyak peluang, hingga mental yang terlalu tipis.

Fans Arsenal tidak boleh merasa puas dengan kondisi saat ini meski perbaikan di bawah Arteta sudah semakin terlihat. Posisi di luar empat besar bukan habitat asli klub dari London Utara ini. Demi usaha bertahan hidup di empat besar, memperbaiki diri dengan kembali ke prinsip dasar adalah keputusan yang bijak.

Namun, ingat, memahami teori beda urusan dengan mewujudkannya di atas lapangan. Trial and error masih akan terjadi. Apalagi Arsenal belum sampai di level City untuk urusan komposisi pemain. Kemampuan mengeksekusi teori akan menentukan nasib Arsenal di akhir musim ini dan perjalanan mereka musim depan.

Memperbaiki kelemahan sedini mungkin adalah langkah awal. Diiringi perbaikan komposisi skuat secara perlahan dan kepercayaan dari fans. Jika dua hal ini bisa diwujudkan Arteta, fans Arsenal baru bisa optimis menatap laga demi laga. Bukan lagi olahraga jantung yang bikin stres itu.

BACA JUGA Arsenal dan Fetish Mikel Arteta untuk Menyakiti Diri Sendiri dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Pemain Arsenal Patah Kaki Bukan Tragedi, Pemain Liverpool Cedera Semua Menangis: Antara Media Munafik dan Wasit Goblok