MOJOK.COCengeng juga punya makna ‘lemah semangat’. Sebuah keadaan yang tengah dialami Arsenal, Mikel Arteta, dan Nicolas Pepe.

Ketika Manchester United dibantai Tottenham Hotspur dengan skor 1-6, Patrice Evra, pundit Sky Sports, terlihat sangat emosional. Sambil menahan tangis, Evra menegaskan bahwa beberapa pemain United butuh sebuah tamparan keras. Pak Evra, sekarang, giliran Arsenal yang butuh tamparan di pipi sekeras mungkin.

Tidak cuma Arsenal, tetapi Mikel Arteta dan beberapa pemain senior, termasuk Nicolas Pepe. Semua butuh tamparan keras karena keadaan sedang tidak baik-baik saja. Tamparan keras ini adalah sebuah kritikan untuk tim, pelatih, dan pemain. Ingat ya, ini kritikan, bukan cacian. Terkadang, orang sekarang tidak bisa membedakan mana kritikan, mana kebodohan dalam wujud caci maki semata.

Arsenal butuh tamparan keras supaya lekas sadar bahwa mereka terjerembab di peringkat 12 ketika Liga Inggris sudah hampir berjalan separuh jalan. Niat di awal musim untuk setidaknya masuk empat besar sangat tidak realistis jika Arsenal terlalu sibuk merasa terancam oleh tim-tim di bawah mereka.

Ingat, meskipun Manchester City ada di bawah Arsenal, posisi 12 bukan tempat yang layak. Singkirkan pula semua alasan bahwa kini banyak tim yang punya skuat bagus dan sedang tampil konsisten. Kesadaran seperti itu cuma akan menjadi candu dan membuat tim terlena.

Mikel Arteta juga perlu lebih “galak” ketika berbicara di depan kamera wartawan. Selepas ditahan imbang oleh Leeds United, Arteta menegaskan bahwa dia bangga dengan respons tim setelah bermain dengan 10 pemain karena Nicolas Pepe mendapat kartu merah yang bodoh sekali.

Ada kalanya seorang pelatih perlu menegaskan secara terbuka bahwa beberapa pemain tidak layak masuk tim. Beberapa pemain senior tidak hanya butuh ditegur di balik layar. Mereka harus sadar bahwa menit bermain melimpah yang tengah dinikmati tidak sepenuhnya aman.

Melindungi pemain dari cercaan wartawan itu sikap yang baik. Namun, ketika pemain tidak membayar kepercayaan itu, seperti ketegasan Evra, mereka butuh “ditampar oleh realita”. Menyerang pemain di depan wartawan memang berisiko, tapi merasa “dipermalukan”, terkadang perlu dilakukan. Sadar akan tanggung jawab itu penting maknanya. Tidak ada posisi yang aman, tidak ada menit bermain yang benar-benar langgeng.

Terakhir, tamparan juga perlu dialamatkan ke pipi Nicolas Pepe. Selepas ditahan imbang Leeds, mantan staf Arsenal, Freddie Ljungberg mengungkapkan bahwa Pepe itu seperti menahan perkembangannya sendiri. Dia seperti membatasi diri sehingga semuanya terasa monoton.

Apakah ini ada kaitannya dengan ide bermain Arteta? Jelas, tentu ada kaitannya. Oleh sebab itu, kritikan untuk Pepe bisa juga menjadi sebuah pengingat untuk Arteta secara tidak langsung.

Ada pernyataan yang menarik, lagi-lagi dari Evra, yang mengungkapkan bahwa selama bermain di Liga Prancis, Nicolas Pepe hampir selalu tersenyum. Dia terlihat sangat menikmati kehidupannya bersama Lille di Liga Prancis. Sebuah perasaan yang tidak lagi terlihat ketika berseragam Arsenal. Pepe mungkin tersenyum, bahkan tertawa lepas di lapangan latihan. Namun, performanya di pertandingan tidak menggambarkan kebahagiaan yang dibutuhkan pemain profesional.

Namun, Nicolas Pepe harus menyadari satu hal… dia tidak lagi bermain di Prancis. Dia pemain Arsenal, dengan price tag selangit, dan punya ekspektasi yang lumrah tersemat di pundak pemain bagus. Dia akan disorot wartawan, menjadi bahan cacian fans, dan target provokasi pemain lawan. Pepe tidak bisa “bersembunyi” dari kenyataan. Arsenal dan Pepe tidak boleh “cengeng” dan menjadi lebih tangguh.

Kartu merah yang didapat Pepe di laga Leeds, konon katanya, diawali dari provokasi yang dilakukan Ezgjan Alioski. Dari rekaman pertandingan terlihat pemain Leeds itu menarik kaos dan berusaha melukai Pepe. Bukan sikap yang terpuji, tetapi  hal yang lumrah terjadi di kehidupan yang keras ini.

Pemain profesional harus bisa “mengusir” gangguan seperti itu dari dalam kepala. Ketika pemain pro gagal melakukannya, dia akan kehilangan kontrol diri. Seperti Nicolas Pepe yang menanduk Alioski. Ingat, Pepe bukan Zinedine Zidane. Pepe belum memenangi sesuatu.

Tamparan untuk Pepe ini juga bisa kamu alamatkan untuk Arteta dan Arsenal. Kali terakhir Arsenal mencetak gol dari open play, Donald Trump masih Presiden Amerika Serikat. Menyedihkan sekali. Pertahanan mungkin akan membantumu memenangi sebuah piala. Namun, kalau tidak bisa bikin gol, bagaimana cara sebuah tim bisa menang pertandingan?

Arsenal jelas sedang tidak baik-baik saja. Kalau saya saja sadar klub ini sedang dalam masalah, Arteta jelas tidak mungkin tidak menyadarinya. Perbaikan bisa dimulai dari mengubah pendekatan akan ide bermain. Singkirkan dahulu beberapa pemain yang menghambat perkembangan dan beri jatah menit untuk pemain muda. Toh risikonya sama saja. Kalau jelek, ya kalah. Kalau bagus, siapa tahu bisa menang.

Salah seorang fans Arsenal di Twitter mengungkapkan bahwa Nicolas Pepe itu bukan pemain sayap, tetapi inside forward. Ini opini yang menarik, mengingat bersama Lille dia banyak bermain berdekatan dengan striker dalam berbagai situasi serangan balik.

Arteta bisa mencoba memainkan Ainsley Maitland-Niles sebagai bek sayap kanan. Ketika Ainsley bermain di kanan beberapa kali, Pepe terlihat lebih leluasa untuk masuk kotak penalti. Sisi menyerang dalam dirinya bisa sedikit terpancing keluar. Kebijakan ini juga bisa dianggap sebagai rotasi untuk Hector Bellerin.

Artinya, Arteta punya kuasa untuk mengubah situasi, baik dari sisi cara bermain hingga menguatkan mental pemain. Bukan waktunya Arsenal untuk “cengeng” dengan banyak mengeluh dan mencoba “menghibur diri” ketika keadaan sedang tidak menyenangkan.

Ingat, kata “cengeng” tidak hanya berarti ‘mudah menangis’. Kata ini juga mengandung makna ‘lemah semangat’ dan ‘tidak dapat mandiri’.

Pada titik ini, Arsenal harus belajar banyak dari Liverpool. Banyak pemain tim utama mereka cedera. Namun, pemain pengganti sadar dengan tanggung jawab membawa emblem tim di dada. Mereka “secara mandiri” menumbuhkan kesadaran untuk tidak merepotkan tim di atas lapangan. Hasilnya adalah konsistensi tim, bukan perkara performa individu saja.

Arsenal bisa segera memacu diri untuk tidak cengeng. Dimulai dengan “cebok masalah” yang menempel di anus dan kemaluan sendiri. Singkirkan keraguan dan bermainlah dengan hati yang penuh.

BACA JUGA Mikel Arteta Perlu Bangun dari Mimpi Basah atau Arsenal Bakal Ejakulasi Dini Tiada Berarti dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Mesut Ozil Merasa Terzalimi, Toni Kroos Anggap Itu Omong Kosong