Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Wikimo Tokoh

Subagio Sastrowardoyo

Redaksi oleh Redaksi
10 April 2017
A A
TOKOH-SASTRAWAN-MOJOK

TOKOH-SASTRAWAN-MOJOK

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dunia sastra Tanah Air pernah heboh ketika pada 24 November 1972 MS Hutagalung menyebutkan nama Subagio Sastrowardoyo sebagai penyair Indonesia terkemuka, baru kemudian menyusul nama Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan WS Rendra. Akhirnya, sebuah “pengadilan puisi” pun digelar atas prakarsa Slamet Kirnanto di Bandung pada 08 September 1974.

Sebenarnya, siapakah sosok Subagio ini hingga kritikus MS Hutagalung menyebutkan namanya terdahulu baru kemudian nama-nama lainnya?

Sebelum dikenal sebagai seorang penyair, Subagio telah terjun dalam dunia musik keroncong, yang ketika zaman Revolusi lebih banyak “menenggelamkan diri” sebagai pelukis dan penyanyi. Pun di sekitar tahun 1950-an, penyair yang mulai dicatat namanya dalam peta perpuisian Indonesia melalui kumpulan puisinya Simphoni—terbit tahun 1957 di Yogyakarta—ini lebih menonjol sebagai pengarang cerpen daripada seorang penyair. Cerpennya yang berjudul Kejantanan di Sumbing pernah mendapatkan hadiah sebagai cerpen terbaik. Dalam cerpen dan sajak-sajaknya, banyak dilukiskan manusia yang gampang dirangsang oleh nafsu. Manusia-manusia Subagio adalah manusia-manusia yang dalam mempertahankan kewajibannya cenderung tergoda oleh sifat-sifat kedagingan.

Nama Subagio Sastrowardoyo sendiri mungkin bukan nama yang populer di kalangan masyarakat awam, meskipun nama keluarga Satrowardoyo cukup “ramah” di pendengaran melalui sosok Dian Sastrowardoyo yang memiliki pertalian darah dengan sastrawan yang satu ini. Terlahir pada 1 Februari 1924 di Madiun, Jawa Timur, beberapa pengamat sastra menempatkan puisi Subagio sebagai karya dengan bobot filosofis yang tinggi dan mendalam. Perumpamaan dan lambang yang digunakan oleh peraih Anugerah Seni dari Pemerintah RI pada tahun 1970 ini —untuk kumpulan sajaknya yang berjudul “Daerah Perbatasan”—juga dianggap dewasa dan matang serta tidak dapat ditafsirkan secara harfiah.

Selain sebagai seorang penyair, kritikus sastra, dan penulis cerpen, penulis buku kajian sastra berjudul Sosok Pribadi dalam Sajak serta Sastra Hindia Belanda dan Kita ini juga dekat dunia akademis. Sastrawan Indonesia ini pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa Indonesia Kursus B-I di Yogyakarta (1954-1958), Dosen Kesusastraan Indonesia di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1658-1961), Dosen UNPAD, Dosen SESKOAD, serta menjadi Dosen Bahasa dan Kesusastraan Indonesia di Universitas Flinders dan Adelaide. Di musim panas 1984, Subagio juga pernah menjadi instruktur tamu di Universitas Ohio dan mengajarkan bahasa Indonesia.

Bertahun-tahun menjadi Direktur Balai Putaka, Subagio Sastrowardoyo tutup usia di Jakarta pada 18 Juli 1995. Sebagai seorang penyair, dirinya beranggapan bahwa puisi adalah pantulan pribadi pengarangnya. Pendapat ini, jika diterapkan pada konsep kehidupan yang luas, mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam bertindak karena apa pun yang kita lakukan adalah cerminan diri kita.

Terakhir diperbarui pada 10 April 2018 oleh

Tags: Balai PustakaDian SastroKejantanan di SumbingSastra Hindia Belanda dan KitaSubagio Sastrowardoyo
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Menunggu Dian Sastro di Gudeg Ceker Mbok Joyo
Liputan

Menunggu Dian Sastro di Gudeg Ceker Mbok Joyo

30 Oktober 2021
ilustrasi Rekomendasi Lagu Karaoke buat Mbak Dian Sastro biar PPKM-nya Semakin Asyik mojok.co
Pojokan

Rekomendasi Lagu Karaoke buat Mbak Dian Sastro biar PPKM-nya Semakin Asyik

15 Juli 2021
Video

Q&A dan Giveaway Spesial Awal Tahun 2021

4 Januari 2021
Video

Klinik Kopi, Bisnis Tahan Pandemi ala Pepeng

29 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tukang pijat.MOJOK.CO

Lulusan Akuntansi Banting Setir Jadi Tukang Pijat: Dihina “Nggak Keren”, tapi Dapat Rp200 Ribu per Hari, Setara 2 Kali UMR Jogja

24 April 2026
Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos MOJOK.CO

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos

24 April 2026
Amplop nikahan jadi kebingungan untuk fresh graduate di Jakarta

Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya

24 April 2026
PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.