Episode Putcast kali ini menghadirkan Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM. Ia membawa perspektif segar sekaligus berani dalam melihat arah gerakan mahasiswa hari ini.
Berangkat dari latar belakang pendidikan non-formal di Omah Dongeng Marwah, Tiyo tumbuh dalam ekosistem belajar yang tidak lazim. Kebebasan berpikir, eksplorasi diri, serta tradisi literasi menjadi fondasi utamanya.
Ia tidak hanya dibentuk oleh kurikulum. Pengaruh besar justru datang dari perjumpaan dengan gagasan kritis, tokoh inspiratif, dan pengalaman kreatif seperti teater, film, serta diskusi intelektual sejak usia muda.
Dari situ lahir cara pandang yang tajam, reflektif, dan berani. Ia terbiasa mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap mapan, baik dalam pendidikan maupun kehidupan sosial-politik.
Kegelisahan Tiyo Ardianto
Dalam obrolan ini, Tiyo membedah kegelisahannya terhadap kondisi Indonesia. Menurutnya, Indonesia sedang berada di persimpangan krisis, baik secara politik maupun ekonomi.
Ia juga menyoroti menurunnya kepercayaan publik terhadap lembaga negara. Selain itu, ia juga melihat adanya potensi ketidakstabilan fiskal.
Di sisi lain, gerakan mahasiswa dinilai semakin terfragmentasi dan menyempit dari waktu ke waktu. Dengan gaya bicara yang filosofis namun tetap taktis, sosok BEM UGM ini mengajak kita melihat ulang peran mahasiswa.
Apakah masih relevan sebagai representasi formal, atau justru perlu kembali menyatu sebagai bagian dari gerakan rakyat?
Ia juga menyinggung tantangan generasi muda hari ini. Salah satunya adalah “penjajahan algoritma” yang membuat gerakan menjadi serba cepat, instan, dan mudah padam sebelum mencapai hasil nyata.
Soal Kritik dan Refleksi
Tiyo tidak berhenti pada kritik. Ia juga menawarkan refleksi dan arah berpikir yang lebih solutif. Ia menekankan pentingnya keberanian yang lahir dari kesadaran dan pengetahuan.
Bukan sekadar spontanitas atau keberanian sesaat. Ia juga mengenalkan konsep “mencangkok” diri. Artinya, belajar dari banyak perjumpaan untuk memperkaya perspektif dan memperkuat sikap.
Selain itu, Tiyo Ardianto menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Ia menyoroti efisiensi anggaran, penguatan ekonomi daerah, dan perampingan birokrasi sebagai langkah penting untuk mencegah krisis.
Semua disampaikan dengan nada lugas, tetapi tetap argumentatif. Pesannya jelas, di tengah situasi yang tidak menentu, suara kritis bukan sekadar ekspresi. Itu adalah bentuk tanggung jawab.
Pada akhirnya, perbincangan ini bukan hanya ruang dialog. Ini juga menjadi ajakan untuk lebih waspada, lebih sadar, dan lebih berani mengambil peran dalam menjaga masa depan bangsa.













