Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Komunitas Sanggar Alam: Sekolah Alternatif yang Menjadi Ruang Hidup

Redaksi oleh Redaksi
4 Oktober 2025
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Diskusi buku “Sekolah Bisa Semerdeka ini: Narasi Warga Komunitas Sanggar Alam” menghadirkan dua narasumber utama Indah Widia Sari (fasilitator di Salam) dan Gracesyera (Salah satu orang tua murid yang aktif dalam komunitas tersebut).

Mereka berbagi pengalaman dan refleksi mendalam tentang bagaimana pendidikan bisa dijalankan secara lebih manusiawi, membebaskan dan berpihak kepada anak. 

Melalui kisah keseharian Komunitas Sanggar Alam, mereka menggambarkan bagaimana sekolah bisa menjadi ruang hidup yang penuh dialog, tempat tumbuh dan berkembang tanpa tekanan nilai, ujian, maupun kurikulum yang kaku.

Dalam obrolan ini muncul banyak hal menarik. Mulai dari riset anak-anak yang lahir dari minat pribadi, hingga peran orang tua yang ikut belajar bersama anak.

Indah menyoroti pentingnya proses komunikasi dan kesiapan mental untuk tumbuh di lingkungan Salam. Di sana, kesadaran perlahan terbentuk, dan empati berkembang seiring proses belajar.

Sementara Shera menceritakan dinamika mendampingi anaknya ketika mengikuti kegiatan sehari-hari yang membuat pembelajaran semakin bermakna.

Lebih jauh, keduanya juga menekankan bahwa Salam tidak memiliki kurikulum formal. Setiap anak bersama orang tua dan fasilitator membangun kurikulumnya sendiri. Nilai-nilai seperti kemandirian, keberagaman, kesetaraan tumbuh secara organik dari kegiatan sehari-hari. Buku “Sekolah Bisa Semerdeka ini” menjadi catatan tulus tentang perjuangan menjaga pendidikan yang berpihak pada anak bukan pada sistem.

Lantas bagaimana sekolah benar-benar merdeka tanpa kehilagan arah? Bagaimana pendidikan bisa tumbuh dari rasa syukur dan kesadaran?. Semua itu dikupas dengan hangat, jujur dan reflektif dalam diskusi ini.

Simak obrolan lengkapnya untuk melihat bagaimana Komunitas Sanggar Alam memaknai kemerdekaan dalam belajar

Tags: fesmo 2025Komunitas Sanggar Alamsalam

Terpopuler Sepekan

Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.