Generasi Z sering mendapatkan cap macam-macam, mulai dari kebanyakan mengeluh, gampang burnout, lembek sampai terlalu banyak istilah yang terkadang orang banyak tidak mengetahui. Namun, di mata Mbah Sujiwo Tejo, perkara generasi sekarang tidak sesederhana itu.
Dalam Obrolannya bersama Mojok, Mbah Tejo justru melihat sesuatu yang menarik dari generasi muda hari ini. Tentu, generasi saat ini mungkin berbeda pemikiranya dari generasi 1980-an. Tapi menurutnya, mereka juga tumbuh di dunia yang tantangannya jauh lebih keras.
Bahkan Menurut Mbah Tejo, anak-anak muda sekarang berani mempertanyakan hal-hal yang dulu dianggap selesai. Salah satunya soal bangsa dan negara.
Penilaian Mbah Tejo
Tak hanya itu ia juga menilai, generasi lama kadang terlalu mudah membandingkan pengalaman masa lalu dengan kondisi anak muda hari ini. Padahal, medan hidupnya sudah jelas berbeda.
Jika dulu satu orang mungkin bersaing dengan ratusan pencari kerja, sekarang kompetisinya bisa berlipat-lipat lebih keras. Dunia kerja juga tidak lagi berhenti pada persaingan antarkota atau antarprovinsi, melainkan global.
Internet membuat dunia semakin tanpa batas. Bisnis, pekerjaan, relasi, bahkan percintaan bisa lintas negara.
Soal Burnout, Insecure, dan Kebiasaan Memberi Nama pada Segalanya
Dalam obrolan ini Mbah Tejo juga menyoroti tentang kebiasaan zaman sekarang yang sering memberi nama pada hampir semua kondisi psikologis.
Bukan berarti istilah psikologis tidak penting. Masalahnya, kadang orang terlalu cepat mengidentifikasi dirinya berdasarkan istilah yang ditemuinya di internet.
Padahal, persoalan psikologis tetap membutuhkan diagnosis profesional. Dari sini Mbah Tejo mengingatkan bahwa ada bahaya ketika manusia terlalu gemar memberi label pada dirinya sendiri
Gen Z Mungkin Lembek, tapi Mereka Juga Kritis
Meski sempat menyebut generasi sekarang “lebih lembek”, Mbah Tejo tidak berhenti pada kritik.
Justru ia melihat keberanian intelektual yang menarik pada anak muda hari ini.
Mereka berani mempertanyakan demokrasi, negara bangsa, religiositas, bahkan konsep-konsep sosial yang selama ini diterima begitu saja.
Bagi Mbah Tejo, itu bukan semata tanda kerusakan generasi. Itu juga tanda bahwa mereka hidup di zaman yang membuat manusia terus bernegosiasi dengan identitas, teknologi, dan perubahan dunia.









