Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Uneg-uneg Menjadi Nakes Honorer: Dipaksa Berbohong Soal Data Laporan

Redaksi oleh Redaksi
23 Oktober 2023
A A
Uneg-uneg Menjadi Nakes Honorer: Dipaksa Berbohong Soal Data Laporan MOJOK.CO

Ilustrasi Uneg-uneg Menjadi Nakes Honorer: Dipaksa Berbohong Soal Data Laporan. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sudah genap satu tahun saya berhenti menjadi tenaga kesehatan honorer (nakes honorer) di puskesmas sebuah kabupaten. Sebelum itu, perkenalkan, saya seorang nakes dengan gelar yang mungkin kedengarannya tidak begitu terkenal, yaitu sebagai Ahli Gizi. 

Ini merupakan pengalaman saya bekerja sesuai dengan bidangnya. Awal saya masuk kerja, teman-teman lain heran kenapa saya melamar pekerjaan ini, kenapa saya tertarik. Padahal mereka sudah ingin mengundurkan diri. 

Tentunya pada saat itu saya hanya berpikir bagaimana saya bisa bekerja sesuai dengan keilmuan dan lagi-lagi karena mencari pekerjaan itu sulit sekali. Akhirnya saya mulai mencoba jalani dengan sepenuh hati sebagai nakes honorer. 

Laporan yang tidak sesuai dengan kegiatan lapangan

Sehari-hari saya menyelesaikan tugas di dalam dan di luar gedung. Di dalam puskesmas saya melayani pasien yang berkunjung ke klinik gizi. Sedangkan di luar saya turun ke masyarakat untuk membuat program gizi berkaitan dengan masalah kesehatan di masyarakat. 

Setiap kegiatan tersebut dilaporkan kepada kepala puskesmas maupun dinas kesehatan kabupaten. Banyak sekali kejanggalan yang terjadi antara kegiatan dan laporan. 

Awalnya saya kaget, kok ga sesuai dengan kegiatannya. Kok, bisa membuat daftar hadir tanpa ada kegiatan, kok bisa mengada-ngada tanda tangan seakan-akan kegiatan berjalan. 

Dan yang paling membuat saya berat adalah membuat data palsu agar masyarakat terlihat sehat-sehat saja, tidak ada masalah. Contohnya saja, seperti yang sedang pemerintah gembar gemborkan, terkait kasus stunting. 

Data jumlah anak stunting yang ada di laporan tidak sesuai dengan jumlah stunting di lapangan. “Udah lah, yang penting data ini bagus. Ga ada data yang benar-benar real,” seperti itu tanggapan para nakes lain. 

Ternyata hal seperti ini sudah mendarah daging di instansi pemerintah yang saya kerja. Justru mereka menganggap saya yang baru di sana terlalu idealis, sok mau bantu orang, dan sebagainya. Saya tidak peduli dengan anggapan orang seperti apa, tetapi ini soal kesehatan masyarakat dan soal kegiatan sosial yang masuk dalam program pemerintah. Semudah itu melakukan kecurangan. 

Mencoba jalani sesuai alur jadi nakes honorer

Sebagai anak baru tentunya saya kaget dengan keadaan sebenarnya di dalam sebuah instansi kesehatan milik pemerintah. Namun, mau bagaimana lagi, saya akhirnya mencoba untuk menjalani sesuai alur yang “biasa dipakai” di sana. 

Setiap bulan saya selalu kebingungan tiap mau buat laporan. Bagaimana mau lancar, saya harus memikirkan data-data palsu yang bisa saya masukkan dalam laporan. Lalu apakah atasan tahu? Sangat tahu. 

Kalau di puskesmas sendiri mereka semua tau, dan menjadi hal biasa. Begitupun di “instansi atas”, semua tau, tetapi mereka menutupinya. Yaa seperti rahasia umum lah. Hal ini yang membuat saya semakin tertekan. 

Dalam setiap kegiatan apapun, terdapat uang atau honor kegiatan yang turun dari pemerintah. Tentunya hal ini yang para pegawai manfaatkan untuk mengada-ngada kegiatan. Rincian biaya juga tidak sedikit dibuat, tetapi honor yang nakes honorer terima tidak sesuai dengan rincian tersebut, alasannya masuk uang kas. 

Tekanan atasan yang membuat saya stress dan ingin sekali resign

Tiba lah bulan imunisasi nasional dan bulan pembagian vitamin A. Kebetulan untuk vitamin A itu merupakan tanggung jawab saya. Dua kegiatan ini berjalan bersamaan, di desa yang sama, di posyandu yang juga sama. 

Iklan

Vitamin A diberikan sesuai dengan ketentuan usia 6 bulan sampai dengan 5 tahun, sedangkan kegiatan imunisasi juga bagi anak usia di bawah 5 tahun. Otomatis menurut data ini, jumlah anak yang mendapatkan vitamin A dan diimunisasi hampir sama. Tetapi kenyataan di lapangan tidak semudah itu. 

Anak-anak takut datang ke posyandu karena tidak mau disuntik. Belum lagi banyak orang tua yang tidak mempercayai manfaat imunisasi, atau orang tua yang hanya mau vitamin A saja, tetapi tidak mau imunisasi. 

Ini membuat data lapangan menjadi kurang, dan jumlahnya sulit untuk menarik kesimpulan. Seperti biasanya saya terpaksa memasukkan data lain, dibuat seolah-olah semua anak di desa tersebut minum vitamin A. 

Saya pikir ini kesalahan saya yang sudah sangat besar, tetapi kenyataannya bidan yang bertanggungjawab untuk program imunisasi lebih curang daripada saya. Data palsu dia buat dari anak yang sudah pernah imunisasi 4 atau 5 tahun yang lalu dan anak-anak dengan usia lebih dari 5 tahun mengubah tanggal lahirnya menjadi lebih muda. 

Ini supaya bisa masuk ke dalam laporan dan dianggap SAH oleh dinas kesehatan. Laporan ini yang membuat saya dimaki-maki oleh atasan, kenapa laporannya berbeda? Kenapa jumlah imunisasi lebih banyak? 

Kenapa kamu tidak bisa seperti bidan tersebut, dan lain sebagainya. Jujur dengan terpaksa saya mau saja, tetapi jika saya mengubah data lebih dalam lagi, saya jadi menambahkan data yang sebenarnya sangat tidak ada di lapangan. Dan ini akan berdampak pada pembuatan laporan di bulan-bulan berikutnya, berbeda dengan imunisasi yang hanya setahun sekali. Seperti makan buah simalakama saya ini. 

Pada akhirnya saya menyerah sebagai nakes honorer

Saya dibilang tidak bisa bekerja, tidak paham bagaimana alur pemerintahan, sampai mereka tanya, apa pekerjaan orang tua saya. “Oh pantes aja kalo bukan PNS, mana ngerti,” kata seorang dokter PNS yang katanya hal ini biasa.  

Jadi hal ini sudah sangat “biasa” dilakukan ya? Saya memang butuh pekerjaan, tetapi saya masih punya hati nurani. Pemerintah menggaji saya, maka saya kembalikan lagi pada masyarakat apa yang bisa saya lakukan. Menurut saya sudah yang terbaik yang saya lakukan.

Selama saya bekerja 8 bulan di sana, hampir setiap hari saya mendapat tugas pergi ke desa-desa untuk menjalankan program gizi. Selain itu, beberapa kali saya menggantikan nakes lain untuk hadir di suatu acara, atau menjadi narasumber. 

Tetapi apakah imbalannya sesuai? Sangat tidak sesuai. Kecurangan ini di depan mata saya sendiri. Honor dipotong sana sini. Mereka masih merendahkan saya. Saya tidak menyalahkan, tapi mungkin ini bukan tempat saya. Biarpun begitu, saya sangat berterimakasih atas kesempatannya. Dari sana lah saya punya bekal ilmu untuk membuat usaha sendiri dan membuka lapangan kerja untuk orang banyak. Dari sana juga saya belajar untuk membuka jasa konsultasi gizi mandiri, berbagi ilmu, dan menuai kebaikan. 

Salam sehat dari saya, seorang mantan tenaga honorer.

E Mayang, Serpong Utara, Tangerang Selatan

BACA JUGA Tukang Parkir di Jabodetabek Harus Study Tour ke Jogja dan keluh kesah lain dari pembaca Mojok di UNEG-UNEG

Keluh kesah dan tanggapan Uneg-uneg  bisa dikirim di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2023 oleh

Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

buku remy sylado.MOJOK.CO
Seni

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO
Esai

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

15 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO
Catatan

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Deni mahasiswa berprestasi dari UGM berkat puisi. MOJOK.CO
Sekolahan

Balas Budi ke Ibu yang Jual Cincin Berharga lewat Ratusan Puisi hingga Diterima di UGM Berkat Segudang Prestasi

14 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
Efek rutin olahraga gym, dulu dihina gendut dan jelek kini banyak yang mendekat MOJOK.CO

Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus

11 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
burung migrasi.MOJOK.CO

Menyusutnya Populasi Burung Migran Jadi Alarm Tanda Bahaya bagi Bumi

9 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.