MOJOK.COSaya pernah mendekam di dalam sebuah penjara lawas peninggalan zaman kolonial Belanda dan bergumul dengan hantu kepala terpenggal.

Selama mendekam hampir lima tahun di penjara Lapas Kelas II A Muara Padang, berbagai pengalaman “keras” dan unik bin nauzubillah telah saya lalui dengan suka cita nan terpaksa. Salah satunya pengalaman mistis.

Seperti kebanyakan tempat di Indonesia, selalu ada mitos tentang hantu, lengkap dengan latar belakang yang mengiringi.

Secara geografis, Lapas Padang terletak di tepi pantai. Pas menghadap laut. Sayang, sebagai napi, kami tidak bisa menikmati syahdunya senja di tepi laut sambil menyeruput kopi kangen macam anak indie. Kami hanya bisa menatap luasnya laut sambil menempelkan wajah ke jeruji besi yang melintang di jendela.

Mau gimana lagi, di penjara itu tetap nggak berasa pantainya. Cuma ada tembok tinggi, besi sel tahanan, dan tikus-tikus tak tahu diri sebesar kucing. Sudah di pinggir laut, pas muara pula.

Tetua di kampung saya pernah berkata bahwa hantu dan jin jahat itu suka mendiami “dua pertemuan”, seperti kamar mandi, pertemuan kotor dan bersih, dan muara, yaitu tempat bertemunya laut dan sungai. Artinya, secara denah lokasi, tuh penjara memang berlokasi di tempat kesukaan para makhluk astral.

Sudah lokasinya sangat mendukung kehidupan makhluk halus, kegiatan favorit napi dan sipir adalah bertukar kisah horor. Apalagi kalau lagi jaga malam. Makin ngeri, makin pada kecanduan.

Jadi begini ceritanya. Lapas Padang tempat saya “bermukim” ini merupakan tempat paling seram di Kota Padang. Mulai dari hantu yang seharusnya seram sampai usil setengah mati semuanya ada.

Salah satu tempat paling ulala di penjara ini adalah Blok H, satu-satunya blok yang tidak pernah terjamah renovasi sejak zaman kolonial. Oleh sebab itu, bentuk asli dari blok ini tetap terjaga.

Blok H yang sempit banget ini terletak di antara bangunan-bangunan baru. Oleh sebab itu, sinar matahari hampir tidak bisa masuk ke blok ini. Mungkin sinar matahari saja malas berkunjung ke blok sialan ini. Lembab, kalau hujan dikit pasti banjir. Pokoknya ini blok celaka betul.

Namun, karena kondisinya yang sialan betul, Blok H cocok dijadikan blok isolasi. Tahanan yang bandel dan susah diatur bakal dilempar ke blok ini. Blok H ini terdiri dari lima kamar berjejer berukuran 3×3 meter. Biasanya, per kamar di blok ini akan dihuni enam sampai delapan orang.

Baca juga:  Menunggu Durian Jatuh, Eh Ternyata Kepala Copot

Ada satu kamar di Blok H yang tidak boleh diisi tahanan, yaitu kamar H 5, kamar paling ujung. Konon, kamar H 5 sudah lama dikosongkan karena tahanan yang menginap di sana pasti kesurupan selama berhari-hari, susah sekali disembuhkan, bahkan sampai ada yang bunuh diri.

Penjara yang merekam banyak tragedi

Sebagai penjara yang sudah berdiri sejak 1911, Lapas Padang menjadi saksi dan merekam berbagai macam tragedi. Dulu, penjara ini memang paling ditakuti para narapidana. Sudah sempit, gelap, pengap, horor pula.

Konon, pada zaman kolonial, kamar-kamar di Blok H adalah sel penyiksaan. Para tahanan dimasukkan begitu saja, berdesak-desakan, bahkan hingga meninggal dunia.

Kejadian lebih seram terjadi pada zaman pendudukan Jepang. Pada masa itu, Kamar H 5 merupakan kamar khusus pemenggalan kepala. Hingga kini, para tahanan bandel dan sipir masih mencium bau darah pada malam-malam tertentu.

Saya pun pernah bandel ketika “mondok” di penjara ini. Saya ditempatkan di kamar H 4, sebelahan persis sama kamar H 5, karena baku hantam sama napi lain. Selama delapan bulan saya mendekam di kamar H 4 ini! Saya sudah membayangkan akan melewati waktu yang panjang dan mengerikan bersama hantu-hantu sialan. Namun, kenyataannya sungguh di luar dugaan.

Derita jadi hantu penjara

Pada malam pertama menjadi tahanan sel isolasi, saya memang agak sedikit was-was. Sialnya, malam pertama menjadi tamu di kamar isolasi pas banget sama malam Jumat. Saya bersama enam orang lain di kamar ini. Sekumpulan anak-anak bandel ceritanya.

Setelah puas ngobrol, kami mulai ancang-ancang tidur. Tikar dari kardus bekas kami gelar. Beberapa saat setelah kami merebahkan badan, ada angin kencang berhembus masuk kamar H 4. Angin kencang itu membawa bau anyir dari kamar sebelah. Wah ini pasti hantu kepala terpenggal peninggalan zaman Jepang.

Sontak saya duduk dan mencoba membangunkan teman di samping. Namanya Jek, napi dari Jakarta.

“Bau darah, Jek!”

Jek ikut duduk setelah saya bangunkan. Saya pikir dia takut seperti saya. Namun, beberapa detik kemudian, dia langsung berdiri dan menghampir pintu. Saya diam saja keheranan. Tanpa saya duga, Jek malah ngamuk-ngamuk.

Baca juga:  Penjara untuk Veronica Tan

“Setan kontol! Setan babi! Anjing kau! Gue mau tidur! Sini kau! Gue isap darah kau setan!”

Saya melongo mendengar sumpah serapah Jek. Karena suara Jek memang menggelegar, teman-teman bandel yang lain ikut terbangun. Bukannya menenangkan Jek, teman-teman terkasih itu malah nambahin makian yang jauh lebih kotor. Anehnya, setelah rentetan sumpah serapah itu, bau amis tidak lagi tercium.

“Masa setan takut sama setan,” kata Jek sambil tertawa terpingkal-pingkal. Saya mengiyakan saja. “Dasar bandel ya kalian semua,” batin saya.

Hampir setiap hari ada saja kejadian aneh di kamar H 5 itu. Selain bau amis yang tertib banget datang dan pergi, suara-suara aneh sering terdengar. Terutama dari kamar sel yang kebetulan kosong karena napi isolasi nampaknya sudah insaf.

Sampai dinyatakan “lulus” dari Lapas Padang, saya tidak pernah bisa yakin suara aneh yang terdengar itu suara orang lagi zikir menyebut nama Tuhan atau lagi meracau nomor togel. Namun, iramanya, tuh, seperti orang lagi zikir.

Di hari lain, ada suara orang lagi mandi. Padahal, di kamar H 5 tidak ada kamar mandi. Setelah itu, pasti ada suara orang bernafas, tapi terdengar kasar sekali. Suara rantai diseret kadang-kadang saja terdengar. Respons kami tetap sama. Ketika suara atau bau aneh mulai muncul, kami kompak menyemburkan sumpah serapah dan caci maki.

Saya, yang awalnya takut, lama-lama menikmatinya. Malah seperti menunggu keanehan terjadi. Menyemburkan sumpah serapah dan caci maki itu enak banget rasanya. Makin ke sini, saya makin yakin kalau mental itu memang menular. Saya jadi kasihan sama setan yang mencoba mengganggu kami.

Gimana nggak kasihan. Mereka hantu yang sudah lama ada di penjara sini, meninggal karena tragedi, eh setelah jadi hantu masih kena rundung pula. Bukan maksud melecehkan nama baik hantu. Namun, terkadang, mental napi-napi bandel memang terlalu tebal untuk ditakut-takuti. Kayaknya, satu-satunya hal yang kami takuti adalah batal dapat remisi saja, sih. Hehehe….

BACA JUGA Hantu Tanpa Kepala yang Seliweran di Kamar Mandi Pondok Putra dan kisah menyeramkan lainnya di rubrik MALAM JUMAT.