Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

PMA PPKS, Langkah Progresif Kementerian Agama yang Patut Dirayakan

Erma Kumala Dewi oleh Erma Kumala Dewi
26 Oktober 2022
A A
PMA PPKS, Langkah Progresif Kementerian Agama yang Patut Dirayakan Terminal Mojok

PMA PPKS, Langkah Progresif Kementerian Agama yang Patut Dirayakan (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kementerian Agama meresmikan PMA PPKS. Sebuah langkah yang patut dirayakan.

Setahun belakangan ini berbagai kasus kekerasan seksual di institusi pendidikan keagamaan muncul ke permukaan. Yang paling menggemparkan mungkin kasus kekerasan seksual yang menimpa belasan santri di Bandung dengan terdakwa Herry Wirawan. Kasus serupa juga menjerat Bechi di Jombang, yang mana pengusutan kasusnya cukup alot karena ada campur tangan tokoh-tokoh pesantren yang sangat dihormati masyarakat. Nggak cuma di lembaga pendidikan Islam, pelecehan seksual juga terjadi di institusi keagamaan milik agama lain.

Dua kasus tersebut—dan kasus-kasus lain yang nggak terekspos media—adalah contoh potret fenomena gunung es kekerasan seksual di satuan pendidikan keagamaan. Kewajiban mematuhi guru menjadi dalih yang digunakan pelaku untuk menjerat korban yang nggak berdaya. Kasus kekerasan seksual banyak menyasar institusi pendidikan model asrama seperti pondok pesantren karena lemahnya pengawasan orang tua. Pelaku merasa punya kuasa penuh terhadap korban. Hal ini tentunya menjadi ironi lantaran pelaku adalah orang yang berwawasan agama yang semestinya paham soal dosa dan neraka.

Maraknya kasus pelecehan ini tentunya memancing respons keras dari masyarakat. Keresahan masyarakat dan urgensi penanganan isu kekerasan seksual dijawab oleh Kementerian Agama dengan meresmikan PMA No. 73 tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) pada tanggal 6 Oktober 2022.

PMA PPKS ini diberlakukan di seluruh satuan pendidikan formal, non-formal, maupun informal yang menginduk ke Kementerian Agama seperti madrasah, pesantren, dan satuan pendidikan agama lainnya. Hal yang menjadikan regulasi ini cukup progresif dan layak diapresiasi adalah upaya memasukkan rayuan, lelucon, siulan, dan menatap tanpa izin dengan nuansa seksual ke dalam kategori kekerasan seksual. Langkah ini menjadi pertanda bahwa pemerintah telah mendefiniskan kekerasan seksual secara holistik hingga ke ranah yang paling subtil.

Anehnya, kabar baik soal pengesahan PMA PPKS masih diwarnai dengan komentar kontra dan tanggapan sinis dari berbagai pihak. Saya rasa, kelompok kontra ini bisa dibagi jadi 2 golongan lagi.

Pertama, golongan yang malas membaca. Golongan ini dengan mudahnya kegocek headline berita Kementerian Agama Menetapkan Menatap sampai Bersiul sebagai Kekerasan Seksual tanpa membaca isi beritanya. Padahal di dalam beritanya sudah dijabarkan dengan jelas detail aturannya kalau mereka terlalu malas mencari manuskrip aslinya. Orang-orang seperti ini bahaya juga karena mudah termakan hoaks. Nggak heran kalau indeks membaca di Indonesia masih rendah, salahkan saja orang-orang semacam ini.

Kedua, golongan yang sudah baca detail regulasinya tapi masih nggak setuju. Saya curiga kalau mereka dulunya di sekolah—atau mungkin sampai sekarang—adalah pelaku catcalling di tongkrongan yang sakit hati karena nggak bisa lagi melancarkan aksinya. Kalaupun bukan, bisa jadi mereka kelompok yang suka suka victim blaming.

Baca Juga:

Tradisi Tahunan Datang, Sekolah Kembali Sibuk Merayakan Siswa Lolos PTN, sementara yang Lain Cuma Remah-remah

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Ada juga yang menganggap PMA PPKS ini nggak penting dan berpotensi jadi pasal karet. Orang yang punya pemikiran semacam ini agaknya picik sekali, seolah menganggap korban—yang mayoritas perempuan—akan selalu menyalahgunakan hukum untuk kepentingan pribadi. Kalau nggak mau terjerat aturan ini, ya nggak usah catcalling atau ngelempar tatapan mesum lah. Sudah jelas bahwa perintah menjaga hawa nafsu termaktub di dalam kitab suci agama apa pun. Terlepas dari standar moralitas buatan manusia, menjaga hawa nafsu adalah perintah Tuhan. Jadi semua agama telah melarang tindakan amoral yang berujung pada pelecehan dan kekerasan seksual.

Lagi pula, PMA PPKS diberlakukan di satuan pendidikan, yang mana harusnya tindakan urakan yang tak beradab itu nggak dilakukan oleh seorang yang terpelajar. Sudah saatnya kita berpihak pada korban, nggak usah banyak alasan!

Selama ini kekerasan seksual dimaknai sebatas tindakan pemerkosaan saja. Bahkan meraba dan kontak fisik lainnya dengan nuansa seksual masih menjadi hal yang dinormalisasi di masyarakat kita. Sehingga kalaupun korban melapor atau cerita ke pihak ketiga pasti jawabannya cenderung sama, “Ah cuma digituin aja kok, nggak diperkosa. Jangan-jangan cuma perasaanmu aja kali. Siapa tau orangnya nggak sengaja. Nggak usah memperpanjang urusan lah.”

Sangat jelas bahwa di masyarakat kita yang patriarki ini, kepedulian pada korban sangat amat minim, baik kepada korban bergender perempuan maupun laki-laki. Bahkan masyarakat cenderung menyalahkan korban entah karena penampilannya, kegagalannya membela diri selama dilecehkan, atau kecemasannya yang dianggap berlebihan. Padahal banyak kasus pelecehan yang menyasar orang-orang berbaju tertutup dan sopan. Begitu sulit menerima kenyataan bahwa kesalahan ada di otak pelaku yang terlampau mesum dan gagal mengendalikan syahwatnya. Ujung-ujungnya jalan damai menjadi akhir penyelesaian yang klise dan memuakkan, bahkan membuat pelaku nggak jera.

Masyarakat cenderung menilai bahwa kekerasan seksual itu layak diproses kalau ada kerugian fisik, semisal hilangnya keperawanan dan korban jadi hamil atau luka-luka. Kerugian psikologis yang diderita korban nggak pernah masuk dalam perhitungan yang serius.

Pengabaian kerugian psikologis juga mengakibatkan kasus-kasus pelecehan lain semacam catcalling dan kontak fisik non-penetrasi nggak pernah mendapat perhatian masyarakat. Padahal kondisi tersebut bisa membuat korban trauma seumur hidup.

Buat kalian para pelaku, mungkin catcalling adalah tindakan sepele yang kalian anggap bercanda. Tapi dalam sudut pandang korban lain cerita, apalagi kalau kejadian semacam itu sering dialami di masa kecil. Bisa jadi korban akan cenderung nggak nyaman berjalan sendirian di tempat umum karena nggak merasa aman, bahkan hingga usianya menginjak dewasa. Jangan pernah menganggap berlebihan kalau kalian nggak pernah merasakan. Lagi pula tindak pelecehan seksual yang lebih besar bersumber dari hal-hal kecil semacam catcalling, lelucon, dan memandang bernuansa seksual yang terus-menerus dinormalisasi masyarakat. Pembiaran ini membuat pelaku semakin ngelunjak.

Regulasi baru yang progresif ini sangat layak disambut dengan sukacita. Semoga eksekusinya di lapangan dapat berjalan dengan lancar dan dipatuhi seluruh pihak tanpa terkecuali. Sehingga nggak ada lagi peserta didik yang merasa nggak aman dalam institusi pendidikan tempatnya menuntut illmu.

Penulis: Erma Kumala Dewi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Menatap hingga Bersiul, Ini Daftar 16 Tindakan Kekerasan Seksual dalam Aturan Kemenag.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 Oktober 2022 oleh

Tags: Kementerian AgamaPesantrenPMA PPKSSekolah
Erma Kumala Dewi

Erma Kumala Dewi

Penggemar berat film kartun walaupun sudah berumur. Suka kulineran dan kekunoan.

ArtikelTerkait

Cooking Class buat Anak Kecil, Kegiatan dengan Dalih Life Skill yang Ngadi-ngadi

Kelas Memasak buat Anak Kecil, Kegiatan dengan Dalih Life Skill yang Ngadi-ngadi

3 Maret 2023
Pengalaman Belajar Ilmu Tenaga Dalam di Pesantren (Unsplash)

Pengalaman Belajar Ilmu Tenaga Dalam di Pesantren Berharap Bisa Rasengan Kayak Naruto

19 Mei 2025
standard AE7 snowman pulpen mojok

3 Alasan Pulpen Standard AE7 Lebih Baik ketimbang Snowman

11 Juli 2021
Namanya doang Study Tour, Aslinya Lebih Banyak Jalan-jalan daripada Studinya Mojok.co

Demi Kesehatan Mental Guru, Sebaiknya Study Tour Nggak Usah Diadain Aja

5 Februari 2025
3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

10 Maret 2024
Fenomena Sekolah Kekurangan Murid, Apa yang Salah dari Sistem Pendidikan Kita Terminal Mojok

Fenomena Sekolah Kekurangan Murid, Apa yang Salah dari Sistem Pendidikan Kita?

30 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
5 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Bandung dari Kacamata Orang Lokal, Nggak Kalah dari Kampus Negeri Mojok.co PTN

Tradisi Tahunan Datang, Sekolah Kembali Sibuk Merayakan Siswa Lolos PTN, sementara yang Lain Cuma Remah-remah

23 April 2026
4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak (Wikimedia Commons)

4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak, Daya Tarik Penjual juga Nggak Kalah Penting

28 April 2026
3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung, Iri kepada Kota Bandung Mojok.co

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

27 April 2026
Bantul Nggak Punya Bioskop, tapi Warlok Nggak Kekurangan Tontonan Menghibur karena Ada Jathilan hingga Lomba Voli Mojok.co

Hidup di Bantul Tanpa Bioskop akan Baik-baik Saja Selama Ada Jathilan hingga Tanding Voli

23 April 2026
Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali! sumenep, pamekasan

Menerka Alasan Bangkalan akan Terus Berada di Bawah Sumenep dan Pamekasan, padahal Kawasannya Masuk Kota Metropolitan

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka
  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau
  • Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido
  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.