Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Sekolah Tanpa Jurusan dan Gugatan pada Sistem Pendidikan 

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
2 Juli 2022
A A
Sekolah Tanpa Jurusan dan Gugatan pada Sistem Pendidikan Terminal Mojok

Sekolah Tanpa Jurusan dan Gugatan pada Sistem Pendidikan (Buku Mojok)

Share on FacebookShare on Twitter

Judul: Sekolah Tanpa Jurusan
Penulis: Gernatatiti
Penerbit: Buku Mojok
Ketebalan: 170 halaman
Tahun Terbit: 2022

Buku Sekolah Tanpa Jurusan adalah catatan harian dari seorang fasilitator Sanggar Anak Alam (SALAM) untuk jenjang setara SMA, Gernatatiti. Dalam buku ini, ia bercerita banyak hal tentang SMA SALAM tersebut mulai dari persiapan awal pembentukan, penyusunan kurikulum, hingga tahap pengimplementasian di kelas.

Sekolah Tanpa Jurusan yang diterbitkan oleh Buku Mojok ini dibuka dengan kata pengantar yang bernas dari Roem Topatimasang. Melalui kata pengantar tersebut, kita diajak untuk melihat betapa banyak sejarah peradaban manusia yang tercatat, bermula, atau bahkan berubah secara signifikan berkat keberadaan catatan harian. Salah satunya adalah catatan harian Wallace dan Charles Darwin yang di kemudian hari melahirkan teori yang menggemparkan dunia, dan bahkan masih menjadi topik diskusi hingga hari ini, yaitu penyaringan alami dan daya bertahan pihak terkuat.

Hal tersebut mengingatkan saya pada sebuah nasihat lawas tentang menulis. Bahwa satu-satunya cara untuk bisa menulis adalah dengan berlatih menulis, seburuk apa pun dan sesederhana apa pun tulisan tersebut. Mungkin catatan harian yang kerap kita sepelekan itu, di kemudian hari akan menjadi modal besar dalam membangun kemampuan kita menulis. Atau dalam skala lebih luas, seperti yang dikatakan oleh Roem Topatimasang dalam kata pengantarnya, barangkali catatan harian tersebut dapat menjadi tonggak peradaban dengan caranya sendiri.

Melalui buku Sekolah Tanpa Jurusan, kita akan banyak belajar tentang hal-hal yang mungkin tidak akan kita dapat sekalipun kita sudah mengikuti program wajib belajar 12 tahun yang digaungkan pemerintah. Seperti misalnya pengetahuan sederhana bahwa silabus dan modul sebenarnya adalah sekumpulan cara belajar yang disusun untuk dipraktikkan di kelas oleh pengajar.

Sebagian dari kita hanya tahu bahwa silabus adalah setumpuk kertas tebal yang kerap dikeluhkan oleh para guru, akibat penyusunannya yang rumit dan membutuhkan banyak waktu.

Saya besar di lingkungan pengajar sekolah konvensional. Jadi, saya hafal betul keluhan-keluhan yang ibu saya ucapkan tatkala harus menyusun sejumlah instrumen pengajaran termasuk silabus tersebut. Sekalipun begitu, sebelum membaca buku ini, saya tidak pernah benar-benar memahami bahwa silabus sejatinya adalah cara belajar yang perlu disusun dan diimplementasikan oleh pengajar. Yang saya ingat tentang silabus hanyalah tumpukan kertas yang jadi bahan gerutu ibu saya.

Dari buku ini kita juga akan dibekali pengetahuan tentang bagaimana sebuah kurikulum dirancang. Ia tidak datang dari ruang hampa, melainkan datang dari riset serta konteks yang melatarbelakangi.

Baca Juga:

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Keluh Kesah Alumni Program Akselerasi 2 tahun di SMA, Kini Ngenes di Perkuliahan

Saya tidak tahu riset seperti apa yang dulu digunakan oleh Kemendikbud untuk merancang kurikulum pendidikan formal, tapi rasa-rasanya jika melibatkan siswa, hanya sedikit sekali porsinya. Terlihat dari banyaknya protes yang datang dari siswa maupun orang tua siswa tentang betapa tidak relevannya kurikulum yang sering gonta-ganti nama itu.

Akan tetapi, penyusunan kurikulum untuk SMA SALAM dilakukan dengan menjadikan keingintahuan siswa sebagai fondasi. Jadi, bisa dikatakan bahwa sejak penyusunannya kurikulum tersebut bersifat partisipatif. Kita juga akan diajari bagaimana melakukan risetnya, cara penyusunan kurikulum, hingga evaluasinya.

Mengingat riset yang dilakukan oleh Gernatatiti dan kawan-kawan dalam penyusunan kurikulum tersebut dilakukan secara mandiri, maka bukan hal yang mustahil jika hal tersebut kita lakukan sendiri untuk mendampingi anak-anak belajar di rumah untuk apa pun yang kita perlukan.

Salah satu ciri pembeda antara SALAM dengan dengan sekolah konvensional adalah pemberdayaan dan pembentukan nalar kritis. Dalam salah satu esai di bab akhir yang berjudul Merayakan Keberagaman Pengetahuan, Gernatatiti bercerita tentang riset mandiri yang dilakukan oleh anak kelas 5 SD tentang kebiasaan perokok. Dari perjalanan risetnya, ia mampu menyimpulkan bahwa kebanyakan orang menjadi perokok berawal dari rasa penasaran dan iseng untu mencoba. Lalu, ia menyarankan kepada para orang tua untuk tidak mengizinkan anaknya mencoba rokok, jika tak ingin anaknya tumbuh menjadi perokok.

Sesuatu yang sederhana, tapi nampaknya akan sulit didapat di sekolah konvensional yang gurunya lebih banyak disibukkan dengan perkara administratif.

Ada juga cerita tentang penyusunan rapor yang dilakukan bersama dengan para pelajar. Mereka dapat terlibat aktif dalam penilaian dan evaluasi serta turut memberi sudut pandang terhadap sistem pembelajaran di SALAM.

Setelah membaca buku Sekolah Tanpa Jurusan dan mempelajari perspektif sang fasilitator, saya jadi penasaran, kira-kira seperti apa ya perspektif para pelajar? Apakah mereka kesulitan beradaptasi dengan sistem yang barangkali sangat berbeda dengan sistem sekolah kawan-kawan di lingkungannya? Serta apa yang mereka rasakan, dapatkan, dan mungkin mereka sayangkan dari SALAM?

Meskipun buku ini sangat menarik untuk dibaca, namun tetap ada beberapa hal yang membuat saya tidak nyaman membaca buku ini.

Yang saya rasakan sebagai awam—sebagai produk sekolah konvensional—saat membaca buku ini adalah seperti disalahkan dan dibandingkan. Narasi dalam buku ini seolah benar-benar ingin menegaskan bahwa sistem sekolah egalitarian semacam ini adalah sistem terbaik. Sebagai contoh, banyak penggunaan diksi “berbeda dengan sekolah pada umumnya” dan sejenisnya yang mengawali sejumlah paragraf dalam buku ini.

Saya juga menangkap tendensi Gernatatiti untuk mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia yang dalam banyak hal memukul rata karakteristik para siswa, sehingga banyak yang tak mampu tumbuh sesuai panggilan jiwanya. Tentu hal tersebut adalah hal baik, mengingat masih banyak lubang pada sistem pendidikan kita.

Akan tetapi, satu hal yang seolah dilupakan, bahwa dalam beberapa situasi, tidak mungkin mengakomodir semua isi kepala. Apalagi jika kaitannya adalah dengan membangun sistem untuk sebuah bangsa sebesar Indonesia.

Bahkan, dalam buku ini pun, Gernatatiti mengamini hal serupa. Dalam artikel berjudul Membangun Kesepakatan, ia menceritakan tentang menu makan yang tak mungkin menuruti satu per satu selera siswa. Akhirnya, beberapa kali siswa kemudian diminta mengerti dan menghargai makanan apa pun yang tersaji di hadapannya.

Secara keseluruhan, buku ini cukup menarik untuk dibaca khususnya bagi para tenaga pendidik atau inisiator sistem pendidikan. Isinya yang detail dan berupa catatan harian membuat buku ini terasa “nyata” dan dekat dengan keseharian para pendidik.

Penulis: Fatimatuz Zahra
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kehidupan Setelah Jam 5 Sore, Buku yang Mampu Berikan Pelukan dan Berbagi Beban Kehidupan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 Juli 2022 oleh

Tags: Buku MojokPendidikanSekolahSekolah Tanpa Jurusan
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

Menerka Alasan Guru Matematika Nggak Pernah Bolos Mengajar

Menerka Alasan Guru Matematika Nggak Pernah Bolos Mengajar

4 Maret 2024
karya fiksi UT kuliah ekonomi kuliah sastra kuliah online mahasiswa s-1 dan s-2 Sebagai Penulis, Saya Sering Disangka Romantis dan Bisa Menjadi Sekretaris kuliah online

4 Perbedaan UT dengan Universitas Lain

23 Agustus 2021
Mahasiswa Bandung yang Kuliah di ITB, UNPAD, UNPAR, UPI, dan UNISBA Punya Ciri Masing-masing terminal mojok.co

Orang Sukabumi Sebut UIN Jakarta Itu Cabang dan UIN Bandung Pusatnya

25 Oktober 2020
Pengalaman Jadi Anak Pindahan dan Hal Sepele Aja Dipermasalahkan terminal mojok.co

Materinya Itu-itu Saja, Kenapa Pelajaran Olahraga Tidak Semembosankan PKn?

4 Juli 2020
Tadika Mesra Harusnya Mengajarkan Upin Ipin dan Kawan-kawannya 5 Pelajaran Ini. Anak-anak Jangan Disuruh Menangkap Hewan dan Bikin Maket Terus!

Tadika Mesra Harusnya Mengajarkan Upin Ipin dan Kawan-kawannya 5 Pelajaran Ini. Anak-anak Jangan Disuruh Menangkap Hewan dan Bikin Maket Terus!

19 Juni 2024
Ikut Bimbel untuk Masuk PTN Itu Sebenarnya Tidak Perlu-perlu Banget, kecuali...  

Menjamurnya Bimbel Bukan karena Pendidikan Kita Ampas, tapi karena Mengajar di Bimbel Memang Lebih Mudah

12 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Mobil Bekas Harga Rp100 Juta-an yang Paling Masuk Akal Dimiliki sebagai Kendaraan Keluarga Mojok.co

7 Mobil Bekas Harga Rp100 Juta-an yang Paling Masuk Akal Dimiliki sebagai Kendaraan Keluarga

16 April 2026
Bangkalan dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia Mojok

Bangkalan Madura dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia

21 April 2026
Bukannya Menghilangkan Penah, Berwisata ke Curug Cimahi Justru Bikin Tingkat Stres Meningkat

Bukannya Menghilangkan Penat, Berwisata ke Curug Cimahi Justru Bikin Tingkat Stres Meningkat

18 April 2026
7 Sisi Terang Jakarta yang Jarang Dibahas, tapi Nyata Adanya: Bikin Saya Betah dan Nggak Jadi Pulang Kampung kerja di jakarta

Jangan Mencari Peruntungan dengan Kerja di Jakarta, Saya Cari Magang di Sini Saja Susah, Sekalinya Dapat Tidak Digaji dan Dijadikan Tenaga Gratisan

20 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Warga Depok Habiskan Hampir 2 Juta Rupiah per Bulan Cuma buat Kerja di Kawasan Senayan, Dedikasinya Tinggi!

16 April 2026
Konten Tutorial Naik Pesawat Nggak Norak Sama Sekali, Justru Amat Penting buat Mayoritas Rakyat Indonesia

Konten Tutorial Naik Pesawat Nggak Norak Sama Sekali, Justru Amat Penting buat Mayoritas Rakyat Indonesia

20 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • WNA Malaysia Pilih Lanjut S2 di UNJ, Penasaran Ingin Kuliah di PTN karena Dosen Indonesia yang “Unik”
  • Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga
  • Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!
  • Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran
  • Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang
  • Supra Fit: Motor Honda yang Nggak Bisa Saya Banggakan Bahkan Sempat Bikin Kecewa, tapi Justru Paling Berjasa Sampai Sekarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.