Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Kehidupan Setelah Jam 5 Sore, Buku yang Mampu Berikan Pelukan dan Berbagi Beban Kehidupan

Utamy Ningsih oleh Utamy Ningsih
30 Juni 2022
A A
Kehidupan Setelah Jam 5 Sore, Buku yang Mampu Berikan Pelukan untuk Berbagi Beban Kehidupan Terminal Mojok

Kehidupan Setelah Jam 5 Sore, Buku yang Mampu Berikan Pelukan untuk Berbagi Beban Kehidupan (Buku Mojok)

Share on FacebookShare on Twitter

Judul: Kehidupan Setelah Jam 5 Sore
Penulis: Alifah Farhana
Penerbit: Buku Mojok
Ketebalan: 227 halaman
Tahun Terbit: 2022

Bagi saya, membaca satu buku yang isinya—baik itu secara keseluruhan maupun hanya sebagian—begitu dekat dengan pengalaman pribadi rasanya selalu menyenangkan. Rasanya seperti diajak berwisata ke masa lalu, untuk mengirim pelukan dan semangat kepada diri sendiri yang bingung dan kalut saat baru mulai mengenal beragam masalah dalam hidup. Dan buku Kehidupan Setelah Jam 5 Sore adalah salah satu buku yang menghadirkan rasa menyenangkan itu.

Kehidupan Setelah Jam 5 Sore berisi 30 tulisan pendek yang ditulis oleh Alifah Farhana dalam bentuk esai-esai reflektif. Dalam buku ini, Alifah bercerita tentang pengalamannya saat menjalani masa struggle pada usia 20-an tahun. Kalau kalian merasa relate dengan masalah-masalah yang dihadapi tiga bersaudara Yeom dalam drama Korea My Liberartion Notes, maka cerita-cerita dalam buku ini kurang lebih punya tema serupa, tentang berbagai macam beban anak muda.

Dalam rentang usia tersebut, Alifah mulai mencoba berkenalan dengan diri sendiri dan mulai merasakan perjalanan hidup yang berliku. Memasuki fase 20-an tahun bagi Alifah tak ubahnya memasuki arena perang yang penuh pertarungan, terluka, lalu berusaha bangkit untuk mengobati luka sebagai bagian dari upaya mencari jati diri.

Darah muda yang masih menyala-nyala, membuat Alifah menghabiskan banyak waktunya pada usia 20-an tahun dengan mengeksplorasi diri sendiri dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup. Sesuatu yang mungkin juga sedang atau pernah kita alami. Dari cerita yang berasal dari kejadian-kejadian di sekitarnya dalam lingkup keluarga, pertemanan/persahabatan, pekerjaan, hingga asmara, terangkum sudut pandang Alifah dalam melihat interaksi antramanusia dan Tuhan, konflik yang terjadi, dan kebingungan-kebingungan dalam mengambil keputusan.

Nah, dari cerita-cerita itulah saya merasa relate dengan apa yang diceritakan oleh Alifah. Meski alur cerita atau isi ceritanya tidak persis sama, setidaknya ada kesamaan dalam hal poin pelajaran hidup yang bisa dipetik setelah melalui satu peristiwa bermakna. Bahkan ada, lho, tulisan dalam buku ini yang bikin saya baru merasa, “Oh, ini maksud dari kejadian waktu itu,” atau “Ini nih alasan kenapa dulu saya bisa kayak gitu.”

Salah satu contohnya adalah tulisan berjudul Jangan Tunggu, Mungkin Ini Saatnya. Dalam tulisan tersebut, Alifah bercerita mengenai temannya yang sedih banget waktu tahu mantannya bertunangan, tetapi malah b aja ketika tahu bahwa sang mantan akhirnya benar-benar menikah.

Meski ceritanya berbeda, saya juga pernah punya pengalaman serupa dengan temannya Alifah. Ketika tahu mantan saya pacaran dengan sahabat saya sendiri, rasanya sakit banget. Namun, ketika tahu mereka sampai menikah, saya biasa-biasa saja. Lantaran diundang, saya juga datang ke nikahan mereka.

Baca Juga:

Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

Kabar Buruk Hari Ini: Perjalanan Seorang Mawa Kresna Selama Menjadi Jurnalis

Dulu saya berpikir bahwa perasaan b aja saya waktu itu tidak lain karena saya menghargai sahabat saya dan keluarganya yang sudah teramat baik. Namun, setelah membaca buku ini saya jadi dapat sudut pandang baru bahwa boleh jadi perasaan b aja itu muncul karena saya sudah telanjur menetapkan standar kesedihan yang tinggi sejak membayangkan bahwa mereka akan menikah. Makanya ketika apa yang saya bayangkan benar-benar terjadi, saya bisa biasa-biasa saja.

Secara utuh, melalui beberapa pengalaman Alifah dalam tulisan tersebut, kita diajak untuk melihat salah satu kebiasaan manusia yang berhubungan dengan indikator dan ekspektasi perasaan.

Tulisan lain yang juga bikin ngangguk-ngangguk adalah Ransel dan Koper. Ransel dan koper diibaratkan sebagai hati dan pikiran, sementara barang bawaan adalah masalah dalam hidup, dan proses memilih mana yang akan dimasukkan ke dalam ransel atau koper adalah proses pengambilan keputusan.

Dalam tulisan ini kita diajak untuk melihat bagaimana hati dan pikiran bekerja dalam merespons masalah yang datang. Berbeda dengan pikiran yang hanya sanggup memberikan penyelesaian sebatas dari apa yang pernah dialami, hati punya kelenturan luar biasa untuk melihat masalah.

Maka jika tetiba kita mendapatkan banyak masalah atau hidup membuat kita terkejut dengan hal-hal buruk yang menimpa, maka luaskan hati, lebarkan hati, dan sejenak… berhentilah berpikir. Kita semua butuh tenang sebelum berpikir (hal.80).

Lalu, tulisan yang membuat saya merenung cukup lama adalah tulisan berjudul Kehidupan Setelah Jam 5 Sore. Tulisan ini menarik saya untuk memikirkan lebih jauh, kehidupan seperti apa yang menjadi kehidupan setelah jam 5 sore versi saya?

Jika kehidupan setelah jam 5 sore adalah kehidupan yang saya dapatkan setelah memperjuangkan dan mengorbankan banyak hal, sudahkah saya mensyukurinya? Atau jangan-jangan saya belum menyadari apakah saya sudah punya kehidupan seperti itu? Sebuah kehidupan yang jujur, tempat saya pulang setelah menghadapi perlakuan baik atau buruknya dunia ini.

Pada intinya, membaca buku ini memperluas sudut pandang dalam melihat sebuah masalah. Tema yang diangkat dalam tulisan sangat relate dengan kehidupan anak muda yang mulai mempertanyakan banyak hal dalam hidup atau mulai kebingungan saat mengambil keputusan.

Apa yang Alifah sampaikan sebagai konklusi dari setiap masalah yang ia hadapi, boleh jadi berseberangan dengan apa yang sudah kita yakini selama ini. Namun, tetap menarik untuk diketahui sebagai sebuah sudut pandang berbeda. Toh, dalam hidup ini memang tidak semuanya harus seragam, kan?

Melalui beberapa tulisan dalam buku ini, Alifah juga cukup banyak memberikan motivasi dan kalimat penenang yang saat membacanya, rasanya seperti sedang menerima pelukan berbagi beban kehidupan. Nyaman dan menenangkan. Salah satu contohnya tulisan yang berjudul Untuk Semua Luka yang Terobati dan untuk Kemenangan Atas Peperangan dengan Diri Sendiri, Rayakanlah. Bagi saya yang baru saja memilih memberi dan meminta maaf demi kenyamanan dan proses berdamai dengan diri sendiri, tulisan tersebut sangat berarti. Menyentuh sekaligus menghibur.

Yang juga istimewa dari buku ini adalah kehadiran ilustrasi-ilustrasi yang bertebaran di beberapa halaman. Ilustrasi-ilustrasi tersebut bukan cuma sedap dipandang, tetapi turut menguatkan apa yang sedang diceritakan. Favorit saya adalah ilustrasi untuk judul Menjadi Bebas dan Siap? Apa Itu Siap? Kedua ilustrasi tersebut sangat mewakili apa yang sedang dibahas dalam masing-masing judul tulisan.

Menyantap buku ini sampai selesai akan sangat mudah mendapatkan kutipan-kutipan yang heartwarming. Terasa sekali bahwa Alifah menulis dengan hati. Sebagian kutipan mungkin akan terasa klise saat dibaca, tetapi bukan berarti tidak relevan lagi dengan kehidupan yang sedang dijalani.

Jadi, buat kalian yang suka membaca buku self improvement, buku ini patut dibaca. Recommended, Bestie!

Penulis: Utamy Ningsih
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Rezim Kerja Keras dan Apa-apa Saja yang Akan Terjadi di Masa Depan Kita.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Juni 2022 oleh

Tags: Buku MojokKehidupan Setelah Jam 5 Sorereview buku
Utamy Ningsih

Utamy Ningsih

Suka Membaca, Belajar Menulis.

ArtikelTerkait

Yang Menguar di Gang Mawar_ 11 Cerita Tentang Waras dan Gila terminal mojok

Yang Menguar di Gang Mawar: 11 Cerita tentang Waras dan Gila

7 November 2021
Enggan Jadi Keluarga Fasis: Kumpulan Surat dari Seorang Ayah untuk Anaknya

Enggan Jadi Keluarga Fasis: Kumpulan Surat dari Seorang Ayah untuk Anaknya

30 Januari 2023
Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan Kisah tentang Maut dan Hidup yang Saling Bertaut Terminal Mojok

Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan: Kisah tentang Maut dan Hidup yang Saling Bertaut

20 Januari 2023
Sekolah Tanpa Jurusan dan Gugatan pada Sistem Pendidikan Terminal Mojok

Sekolah Tanpa Jurusan dan Gugatan pada Sistem Pendidikan 

2 Juli 2022
Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat: 23 Esai Reflektif tentang Keimanan

Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat: 23 Esai Reflektif tentang Keimanan

9 Februari 2022
Diskusi Buku Lebih Nyaman Bersama Komunitas Baca Bekasi Books Club

Diskusi Buku Lebih Nyaman dan Seru Bersama Komunitas Baca Bekasi Books Club

31 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kelebihan Kos LV yang Jarang Disadari, Nyatanya Nggak Seburuk yang Diceritakan Orang kos campur

Pengalaman Hidup di Kos Campur: Sebenarnya Tidak Seburuk Itu, tapi Sebaiknya Memang Jangan Pernah Coba-coba Tinggal

13 Mei 2026
Sisi Gelap FISIP, Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik Terminal

FISIP Kehilangan “Taring” karena Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik 

7 Mei 2026
Karet Gas, Barang Paling Murah di Indomaret yang Jadi Penyelamat Banyak Orang Mojok.co

Karet Gas, Barang Paling Murah di Indomaret yang Jadi Penyelamat Banyak Orang

7 Mei 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

12 Mei 2026
Orang Jakarta Baperan: Panggilan ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Mojok.co

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

8 Mei 2026
Lagu Baru Sheila On 7 “Sederhana” Pas untuk Orang-orang Usia 30 Tahun Mojok.co

Lagu Baru Sheila On 7 “Sederhana” Pas untuk Orang-orang Usia 30 Tahun

9 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.