Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Memahami Drama Penangkapan Pemerkosa di Pesantren Jombang dari Perspektif Mantan Santri 

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
8 Juli 2022
A A
Memahami Drama Penangkapan Pemerkosa di Pesantren Jombang dari Perspektif Mantan Santri  Terminal Mojok pondok pesantren

Memahami Drama Penangkapan Pemerkosa di Pesantren Jombang dari Perspektif Mantan Santri (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Mari mencoba memahami drama penangkapan pemerkosa di Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Jombang dari perspektif mantan santri.

Pertama dan paling utama, kita perlu bersepakat bahwa kekerasan seksual adalah kejahatan yang sama sekali tidak perlu diperhalus, apalagi dicari sisi benarnya. Lebih-lebih kalau dilakukan oleh seseorang yang mengaku memeluk agama Islam, kekerasan seksual jelas-jelas sudah melanggar induk hukum Islam, maqashid syariah, khususnya bagian hifdzun nafs (menjaga diri) dan hifdzun nasl (menjaga garis keturunan dan atau kehormatan). Jadi, kalau ada yang membela pemerkosa dengan dalih agama, lantaran dianggap sebagai tokoh agama, lebih berilmu, dll., jelas itu sebuah kesia-siaan yang tidak perlu dilakukan.

ADVERTISEMENT

Tapi, itu semua adalah pandangan kita sebagai makhluk non-santri. Kenapa begitu? Sebab, sebagai seseorang yang pernah tinggal di pesantren dalam waktu 6 tahun, saya cukup paham dengan bagaimana santri “dididik” di dalam pesantren.

Sebagaimana yang kita tahu, pesantren adalah lembaga yang hingga saat ini masih dianggap paling otoritatif dan sah dalam hal memberikan pendidikan agama Islam. Pasalnya, di pesantren banyak dipelajari kitab-kitab klasik karya ulama besar yang kemudian diajarkan secara turun-temurun selama berabad-abad. Pengajaran tersebut biasanya dilakukan oleh seorang pengasuh seperti kiai dan anak keturunannya. Sampai di sini, setidaknya kita bisa memahami kenapa keluarga kiai dihormati banyak orang. Kurang lebih karena dinilai memiliki kapasitas keilmuan lebih tinggi dibandingkan santrinya.

Masalah kemudian terjadi ketika label “lebih berilmu” itu dijadikan alat untuk membentuk sebuah relasi patron antara sang pengajar (dalam hal ini kiai dan keturunannya) dengan pemelajar (santri dan bisa juga sampai keturunannya).

Apa itu relasi patron?

Menurut Ridwansyah Yusuf Achmad, seorang asisten peneliti Kelompok Keahlian Perencanaan Wilayah dan Desa Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam detikNews, pola hubungan patron-klien merupakan aliansi dari dua kelompok komunitas atau individu yang tidak sederajat; baik dari segi status, kekuasaan, maupun penghasilan, sehingga menempatkan klien dalam kedudukan yang lebih rendah (inferior) dan patron dalam kedudukan yang lebih tinggi (superior). Dalam praktiknya, sang patron cenderung menekan klien yang berada di bawahnya sehingga terbentuk saling ketergantungan di antara keduanya.

Simpelnya, para santri yang merasa butuh ilmu itu kemudian menjadi pihak yang inferior dan bergantung hidup kepada sang kiai sebagai pihak yang lebih superior.

Baca Juga:

Temanggung yang Terkenal Nyaman Bisa Bikin Orang Jombang Nggak Betah

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

Contoh dalam kehidupan keseharian di pesantren, ribuan santri rela bahkan cenderung mengharapkan bisa dipekerjakan tanpa bayaran di rumah kiai dengan harapan mendapat berkah dari pekerjaannya tersebut. Tak jarang mereka bahkan dianggap sebagai santri yang memiliki “kasta” lebih tinggi dengan sebutan “santri ndalem” ketika melakukan pekerjaan tersebut.

Apakah mereka terpaksa? Atau berat hati? Sama sekali tidak, semuanya dilakukan dengan sukacita, ikhlas, dan senang hati.

ADVERTISEMENT

Ini juga yang agaknya terjadi pada drama penangkapan pemerkosa yang kebetulan anak dari seorang kiai kenamaan di Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Jombang. Banyak orang yang mengira bahwa para santri di pondok pesantren telah dicuci otaknya, dipaksa membela, dan lain-lain.

Tapi, saya cukup yakin bahwa perlindungan yang diberikan oleh para santri kepada si pemerkosa tersebut dilakukan tanpa paksaan sedikit pun. Sebagai santri, mereka mungkin merasa bahwa upaya penangkapan pemerkosa tersebut adalah juga upaya mempermalukan pesantren tempat mereka bernaung.

Belum lagi ditambah pernyataan dari sang kiai pendiri Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Jombang yang mengatakan kalau anaknya difitnah. Sudah barang tentu hal ini dipercaya 100% oleh santri-santrinya. Peduli setan dengan pemberitaan yang lebih akurat, kalau kiai sudah bilang A, maka A tersebut yang diyakini benar.

Sampai sini masih heran nggak kenapa para capres itu rajin sekali tebar pesona ke tokoh pesantren? Ya karena begitu terbeli suara sang tokoh, “sendiko dawuh” bak dihipnotis lah para santrinya.

Hal ini ironis, mengingat sebagai tempat belajar, pesantren hendaknya menumbuhkan daya pikir kritis dan bernas alih-alih memonopoli kebenaran.

Hal lain yang juga mendasari terjadinya drama penangkapan pemerkosa tersebut adalah minimnya pendidikan seksual di pesantren. Ini saya rasakan betul selama 6 tahun jadi santri. Selain mempelajari kitab tentang menstruasi dan hukum-hukum fikihnya, tidak ada bahasan terkait kesehatan reproduksi apalagi pendidikan seksual lainnya.

Kalaupun ada, pembahasan lain tentang seksualitas hanya dibahas ketika mengaji kitab qurrotul uyun dan uqudulijain untuk “santri dewasa” yang dianggap hendak menikah. Tidak ada pengetahuan yang diberikan kepada santri terkait apa itu kekerasan seksual, bagaimana mencegah, melaporkan, dan lain sebagainya.

Sehingga sangat mungkin para santri yang tak memiliki pengetahuan tentang hal tersebut kemudian memilih pemahaman yang lebih mudah mereka terima, yaitu bahwa sang pemerkosa difitnah. Titik.

ADVERTISEMENT

Dari kejadian di pesantren Jombang ini saya berharap sekali pendidikan di pesantren direformasi. Relasi patron dihapus, pendidikan dilakukan secara lebih transparan, dan menumbuhkan cara pikir kritis para santri.

Pasalnya, santri dengan ilmu agama yang mumpuni sejatinya masih sangat kita perlukan seiring pesatnya kemajuan peradaban. Namun, kalau kualitas pendidikan pesantren tak juga segera diperbaiki, tak menutup kemungkinan masyarakat nantinya tak lagi percaya kepada output pesantren, melainkan lebih memilih belajar agama dari sumber-sumber yang tak jelas fondasi keilmuannya.

Penulis: Fatimatuz Zahra
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Drama Penangkapan Anak Kiai di Jombang Berakhir, MSAT Menyerahkan Diri ke Polisi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2022 oleh

Tags: Kekerasan SeksualPondok PesantrenPondok Pesantren Shiddiqiyyah Jombangsantri
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

Hal-hal terkait Jombang yang Bikin Saya Menanggung Malu di Perantauan

Hal-hal terkait Jombang yang Bikin Saya Menanggung Malu di Perantauan

28 November 2023
4 Cara Pengurus Mengatasi Santri yang Diganggu Makhluk Astral

4 Cara Pengurus Mengatasi Santri yang Diganggu Makhluk Astral

10 Juni 2022
Masak Pengabdian Santri di Pesantren Nggak Dihitung sebagai Pengalaman Kerja? Nggak Adil, Rugi dong!

Masak Pengabdian di Pesantren Nggak Dihitung sebagai Pengalaman Kerja? Nggak Adil, Rugi dong!

15 Februari 2024
purwokerto pesantren dekat kampus mojok

Buat para Maba, Ini 5 Rekomendasi Pesantren Dekat Kampus di Purwokerto

13 September 2020
aib kekerasan seksual kekerasan ekonomi dalam hubungan

Perempuan dan Segala Aib yang Melekat Pada Kami

31 Mei 2019
Belumlah AfdStereotip Menyebalkan Masyarakat Awam pada Lulusan Pondok Pesantren terminal mojok.coal Nyantrinya Seseorang Kalau Belum Gudikan santri pondok pesantren gudik terminal mojok.co

Belumlah Afdal Nyantrinya Seseorang Kalau Belum Gudikan

24 September 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Derita mahasiswa Unsoed, sudah kampus dan faslitasnya medioker, kini harus menahan malu karena rektornya korupsi Mojok.co

Derita mahasiswa Unsoed, sudah kampus dan fasilitasnya medioker, kini harus menahan malu karena rektornya korupsi

23 Agustus 2026
Magelang daerahnya nyaman, tapi nggak cocok untuk mahasiswa Mojok.co

Magelang daerahnya nyaman, tapi nggak cocok untuk mahasiswa

24 Agustus 2026
Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru Mojok.co

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru

22 Agustus 2026
Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama Mojok.co

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama

22 Agustus 2026
4 tips menghindari tempat kursus red flag di Kampung Inggris Pare, saya bagikan tipsnya agar kunjungan kalian tidak berakhir kecewa Mojok.co

4 tips menghindari tempat kursus red flag di Kampung Inggris Pare, saya bagikan tipsnya agar kunjungan kalian tidak berakhir kecewa

26 Agustus 2026
Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar Terminal

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar

21 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.