Belumlah Afdal Nyantrinya Seseorang Kalau Belum Gudikan – Terminal Mojok

Belumlah Afdal Nyantrinya Seseorang Kalau Belum Gudikan

Artikel

Avatar

Gudikan merupakan satu hal yang kehadirannya tak asing di tengah kehidupan pondok pesantren. Meski demikian, bukan berarti saya menganggap bahwa pesantren identik dengan gudik. Bukan berarti pesantren itu sarang gudik. Gudik di muka bumi itu ya mutlak. Tapi, nggak melulu tumbuh dan berkembang di pesantren aja.

Sebelumnya, mungkin ada yang belum familier dengan gudikan. Apakah gudik ini merupakan saudara tiri dari gudeg? 

Gudik atau scabies merupakan kondisi saat bagian tubuhmu itu gatal dan bernanah. Kalau nanah itu pecah dan mengering, bentuknya kadang berubah jadi koreng. Cenat-cenut cihuy gimana gitu. Wis pokoke, nelangsa.

Gudik biasanya muncul sebab lingkungan tempat tinggal dan air yang kurang bersih. Selain itu sih, karena orangnya juga jorok. Ups, akika bangeeet.

Untuk beberapa alasan, gudikan ini diidentikkan dengan kehidupan pesantren. Beberapa orang, bisa aja nggak terima dan nggak mau pesantren dikesankan sebagai tempat yang jorok dan kumuh. Mungkin, karena selama tinggal di pesantren ia mendapatkan pengalaman yang baik. Biasanya pesantren yang kayak begitu cenderung pesantren modern. Tapi, yang saya rasakan sendiri sih, beda lagi.

Meski begitu, mau dikata sebersih, semodern, sementereng apa pun sebuah pesantren, karena lingkungannya padat manusia, rasanya kehadiran gudik tak akan terelakkan. Minimal ada satu kompleks atau satu kamar di mana scabies ini menyerbu. Apalagi jika satu kamar jumlah santrinya 15-30 orang, wah, seenggaknya ada satu atau dua santri yang gudikan.

Urusan gudikan nggak berhenti di situ. Dulu setelah lulus SD, waktu masih boncel dan ingusan, saya disuruh Bapak lanjut sekolah di pesantren. Yang terpatri dalam pikiran saya adalah ungkapan, “Kalau belum gudikan, belum jadi santri.” Saya yang memang dari awal mondok langsung gudikan, ya… lumayan terhibur dengan ungkapan yang melegenda itu. Setidaknya saya sudah afdal jadi santri.

Tapi, apakah benar status “santri” seseorang dibuktikan dengan gudikan?

Setelah mengembara di kehidupan pesantren kurang lebih selama 9 tahun, ditambah lagi dengan obrolan bersama Bapak, jawabannya, “Ya, ggak, laaah.” Ikat pinggangnya manaaa? Bukan ding. Logikanya manaaa?

Saya juga kurang tahu siapa atau kapan kali pertama ungkapan tersebut muncul. Tapi, yang jelas, ungkapan tersebut cukup bermanfaat. 

Secara nggak langsung, ungkapan tersebut mengajarkan betapa di balik musibah itu selalu ada hikmah. Soalnya begini. Normalnya, santri kalau lagi sakit itu pengin pulang ke rumah terus. Serius. Ya kangen emak lah, ya pengen ada yang ngurusin lah. 

Pokoknya hati terasa gelisah, tak tenang, tak tentram. Setelah mendengar ungkapan itu lagi, saya merasa bahwa esensi dari hidup di pesantren bisa disimpulkan secara singkat melalui gudikan.

Gudikan itu bisa masuk katergoti lagi sakit, kan. Tapi, kalau posisinya lagi hari aktif di pondok, gudikan ya gudikan aja. Ngaji tetap wajib, sekolah kudu masuk, makan ya beli sendiri, mandi ya mandi sendiri. Nggak ada yang menolong. 

Untuk beberapa hal yang ringan, teman masih bisa dimintai bantuan lah. Tapi, nggak semuanya begitu karena bakal ada banyak banget santri yang juga gudikan. 

Meskipun sebenarnya nyeri banget, tetap harus ditahan. Kecual kalau kondisinya sudah parah dan berborok. Nah, mungkin si santri juga bakal dikasih dispensasi.

Sebenarnya keterbatasan ruang “higienis” selalu ikut andil bikin gudikan menular ke banyak santri lain. Meskipun sudah ro’an (bersih-bersih) seminggu sekali, kalau hidupnya tetap beramai-ramai mah sama saja. 

Hadirnya gudik dalam kehidupan di pesantren dapat menjadikan seorang santri bersikap lebih sabar, bijak dalam menentukan, dan ikhlas dalam segala keadaan. Sabar untuk tetap nggak pulang. Bijak untuk menyikapi pembagian waktu antara sekolah, ngaji, dan membersihkan gudik. Ikhlas merasakan cenat-cenutnya kuman gudik sambil beraktivitas sepanjang hari.

Makanya, santri itu bakal bisa ngerasain vibenya mondok ya kalau udah gudikan. Soalnya kerasa banget prihatinnya. Tapi, bukan berarti tolok ukur menjadi santri ada di gudik. Ngawur ae.

BACA JUGA Misteri Sendok yang Selalu Hilang: Beli Selusin, yang Tampak Cuma Sebiji dan tulisan Nuriel Shiami Indiraphasa lainnya.

Baca Juga:  4 Stereotip Orang Jawa Ketika Merantau ke Luar Pulau

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
9


Komentar

Comments are closed.