Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Pesantren Sering Diasumsikan sebagai Bengkel Moral, dan Kita Jangan Tersinggung

Aly Reza oleh Aly Reza
4 Juni 2020
A A
Nggak Usah Tersinggung kalau Pesantren Diasumsikan sebagai Bengkel Moral Kenangan Ramadan di Pesantren: Wadah Takjil Unik yang Sering Digunakan Santri Daftar Produk Obat Gatal yang Populer di Kalangan Anak Pesantren
Share on FacebookShare on Twitter

Seperti sudah saya duga sebelumnya, tulisan saya mengenai fenomena homoseks di lingkungan pesantren pastilah akan memantik banyak perdebatan. Dari hasil pantauan terakhir, kayaknya antara yang sepakat dengan yang menolak fakta tersebut—secara kuantitas—kedudukannya remis; 50-50 lah.

Dari sekian tipe komentar negatif, dari yang menuduh saya memfitnah (bikin hoaks), punya dendam pribadi, antek komunis, sampai yang ngancam mau membunuh segala, saya cuma terpancing dengan dua tipe komentar: menganggap isu tersebut nggak selayaknya diangkat di muka publik dan yang nggak terima jika pesantren seolah dijadikan sebagai tempat rehabilitasi.

ADVERTISEMENT

Baik, saya akan coba memberi sudut pandang saya—yang tentu sangat bisa disanggah—mengenai dua tipe komentar tersebut.

Pertama, sebagai santri dan sebagai muslim yang baik tentu sulit menerima kenyataan kalau dunia pesantren, yang sedianya merupakan lingkungan didaktis dan agamis, justru menyimpan fakta-fakta minor. Ada beberapa hal yang sebenernya bisa saja kita masukkan ke dalam kategori, laku sosial menyimpang. Tapi, malah jadi semacam kelumrahan kalau itu kasusnya di pesantren.

Misalnya, homoseks (mairil atau nyampet) tadi. Dalam tulisan sebelumnya sudah saya jelaskan, di beberapa pesantren (nggak semua yang ada di Indonesia loh, ya) maraknya kasus pemerkosaan sesama jenis ini semula dipicu oleh keterbatasan akses dengan lawan jenis. Akhirnya melampiaskan ke sesamanya sendiri. Ditambah lagi dengan sikap bodo amat dari pihak pesantren yang lambat laun membuat kasus-kasus kayak gini seolah jadi hal yang biasa. Dalam level yang lebih ekstrem, beberapa orang bahkan menyebutnya sebagai sesuatu yang identik dengan pesantren, sama seperti gudik.

Kebiasaan dan kelumrahan semacam ini kalau cuma berhenti selama nyantri sih, nggak masalah. Yang ditakutkan, salah-salah kebawa sampai lulus gitu, loh. Sebab, menurut pengakuan dari tiga teman saya, tetangga mereka ada yang masih suka gerayang-gerayang temennya sendiri sesama lelaki. Padahal, lulus dari pesantrennya sudah lama.

Ada juga fenomena gosob, meminjam milik orang tanpa izin. Saking lumrahnya kasus ini di lingkungan pesantren, muncul guyonan: Ah nggak mungkin kamu nggak pernah gosob selama nyantri. Terdengar sangat habit, bukan? Sama seperti ungkapan: Kalau belum gudiken, berarti nyantrimu belum sah.

Lagi-lagi, kalau misalnya kebiasaan gosob cuma cukup selama nyantri aja sih, no problem, Lur. Lha tapi kalau jadi bawaan kan berabe. Kasusnya nggak sedikit, kok. Misal, yang deket-deket di sekitar kita aja, deh. Kalau sampeyan kebetulan satu kosan sama alumnus pesantren, coba perhatikan gerak-geriknya. Kadang gitu ada yang masih suka minjem sepatu, tas, jaket, atau minta sabun, sampo, odol, tanpa sekalipun bilang (minta izin dulu) ke sampeyan.

Baca Juga:

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

Kalau kebetulan sesama alumnus pesantren, mungkin bisa maklum. Tapi, kalau sama orang yang nggak akrab sama kultur santri, ujung-ujungnya kan pesantren juga yang kena stigmaisasi. Contohnya saya sendiri yang pernah minjem helm tanpa izin, terus sama teman saya diomongi gini, “Dasar didikan pesantren, ahlul gosob.” Meski saya tahu teman saya ini cuma bercanda, tapi kan nggak enak banget tho, didengar? Kayak-kayak didikan pesantren ini salah kaprah.

Untuk kasus yang lebih fatal, arti gosob yang semula meminjam atau meminta tanpa izin bisa bergeser jadi mengambil tanpa izin, alias bisa juga disebut nyolong. Gosob itu kan emang minjemnya nggak izin, tapi tetep dibalikin. Lah kalau nyolong, udah nggak kedua-duanya. Contohnya tetangga saya sendiri, yang karena saking biasanya minjem tanpa izin dan tanpa dibalikin, alhasil malah pernah coba-coba jadi maling.

Untuk kasus yang pertama ini, saya cuma mau bilang, kenyaatan nggak mengenakkan ini suka atau nggak, terima atau nggak, tapi memang demikianlah yang terjadi. Dan ini harus dibahas bareng-bareng bust nyari problem solving-nya. Seperti apa titah Nabi: Sampaikan kebenaran walau itu pahit.

Kedua, ada asumsi dari pembaca berbunyi: Santri dengan kecenderungan seks menyimpang itu sebenernya udah bawaan dari sebelum nyantri. Atau sangat mungkin perilaku gosob atau nyolongan itu juga bawaan dari si anak sendiri. Nah, tujuan orang tua memasukkan anak-anaknya yang punya laku sosial menyimpang tersebut ke pesantren tidak lain tidak bukan ya buat benerin (nyembuhin) akhlak mereka. Istilah kata, rehabilitasi.

Asumsi tersebut kemudian disanggah oleh pembaca lain yang nggak terima kalau pesantren dianggap sebagai tempat rehabilitasi, atau bengkel barang-barang rusak. Kasarannya, buat ngurus orang-orang buangan. “Harusnya kalau emang tahu anaknya nggak bener, ya dibenerin dulu, dong, baru dimasukin pesantren. Biar nggak nularin virus busuk ke yang lain,” tulis salah satu akun yang mengaku pengajar di salah satu pesantren.

Begini, analogi sederhananya, kalau kita punya motor bobrok nih, ya, mestinya kan emang harus di bawa ke bengkel. Dan pihak bengkel tentu akan menanganinya dengan penuh gairah dan senang hati. Nggak ada tuh bengkel yang pas nerima pelanggan tiba-tiba marah-marah, “Heh, kalau udah tahu motor rusak, benerin dulu, dong, sebelum dimasukin ke bengkel!!!” Ya kalau tahu itu motor baik-baik aja, ngapain harus dibengkelin? Sama, kalau tahu akhlak anaknya udah bener, terus ngapain juga minta tolong bantuan dari pesantren buat diservis ulang?

Malah harusnya pesantren itu bangga karena mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat. Dianggap mampu memberi solusi bagi keresahan-keresahan para orang tua. Sama bangganya dengan bengkel yang rame pelanggan, ngerasa servisnya emang cukup menjanjikan dan nggak mengecewakan. Jadi, malah kelihatan lucu bin aneh kalau ada pihak pesantren yang kesinggung karena seolah-olah pesantren ini hanya opsi pelarian: Bengkel moral bagi orang-orang yang salah jalan. Emang itu fungsi adanya pesantren, Sanikem. Nggak cuma ngajarin ngaji, tapi juga retrospeksi diri. Paham, kan?

Lagian, ya, tugas dakwah Kanjeng Nabi yang utama itu kan, li utammima makarima al-akhlaq (untuk menyempurnakan akhlak). Catat, akhlak dulu, baru disusul ilmu. Nah, karena pesantren juga merangkap peran sebagai lembaga dakwah, maka emang harus siap lahir-batin buat ngurusin aspek-aspek perakhlakan, termasuk tuntutan buat ngelurusin akhlak orang yang kurang lurus. Gitooohhh.

BACA JUGA Bagaimana Rasanya Jadi Santri yang Pondoknya Dekat dengan Rumah? dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 November 2021 oleh

Tags: bengkel moralgosobPesantren
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Oknum Lora di Pesantren Kerap Bikin Jengkel, Bertingkah Seenaknya Bawa-bawa Nama Besar Bapaknya

Oknum Lora di Pesantren Kerap Bikin Jengkel, Bertingkah Seenaknya Bawa-bawa Nama Besar Bapaknya

21 Agustus 2025
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

30 November 2025
Masak Pengabdian Santri di Pesantren Nggak Dihitung sebagai Pengalaman Kerja? Nggak Adil, Rugi dong!

Masak Pengabdian di Pesantren Nggak Dihitung sebagai Pengalaman Kerja? Nggak Adil, Rugi dong!

15 Februari 2024
tebuireng dipati wirabraja islamisasi lasem pondok pesantren ngajio sampek mati mojok

Adipati Wirabraja dan Adipati Wiranegara, Inisiator Islamisasi Lasem yang Terlupakan

23 September 2020
Mempertanyakan Mengapa Santri Dilarang Punya Rambut Gondrong terminal mojok.co

Mempertanyakan Mengapa Santri Dilarang Punya Rambut Gondrong

11 Desember 2020
Mempertanyakan Mengapa Santri Dilarang Punya Rambut Gondrong terminal mojok.co

Sebagai Orang yang Pernah Mondok, Saya Tidak Ingin Disebut Santri

22 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang  Mojok.co

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang 

19 Juli 2026
Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

17 Juli 2026
4 jajanan tradisional Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya jauh berbeda Mojok.co

4 kuliner Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya berbeda

16 Juli 2026
Liburan idaman orang dewasa itu sederhana, bisa rebahan tanpa diganggu notifikasi kerja Mojok.co

Liburan idaman orang dewasa itu sederhana, bisa rebahan tanpa diganggu notifikasi kerja

21 Juli 2026
Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

20 Juli 2026
Nanas madu Pemalang sering diremehkan karena ukurannya, padahal inilah oleh-oleh yang paling layak dibawa pulang

Nanas madu Pemalang sering diremehkan karena ukurannya, padahal inilah oleh-oleh yang paling layak dibawa pulang

18 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.