Penulis: Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

Artikel

Mati Rasa pada Surga dan Neraka

Aly Reza

Tentang kegelisahan manusia akan surga dan neraka.

Artikel

Saatnya Berkata “Tidak” buat Orang-Orang yang Nagih Traktiran Ulang Tahun

Aly Reza

Sayangi isi dompet dan kesehatan jiwamu, Kawan.

Artikel

Mitos Bagian Tubuh Ayam yang Nggak Boleh Dimakan Itu Cuma Akal-akalan Orang Tua Saja

Aly Reza

Ibu selalu mewanti-wanti agar saya menghindari makan bagian brutu. Sementara bagian-bagian tubuh ayam lain nggak ada anjuran atau larangan khusus.

Featured

Kematian Sungguh Tak Patut Ditangisi dan Ditakuti

Aly Reza

Kematian membawa kita menghadap sang Kekasih, Allah, Aneh kalian, menangis untuk sesuatu yang justru membuat bahagia.

Artikel

5 Aturan Absurd dan Ajaib Dalam Sepakbola Anak-anak

Aly Reza

Sepakbola anak-anak berbeda dengan sepakbola orang dewasa. Karena dalam sepakbola anak-anak ada aturan ajaib yang menyomot entah dari aturan liga mana.

Featured

Betapa Sumpeknya Orang yang Hidupnya Cuma Nyari Kesalahan dan Keburukan Orang Lain

Aly Reza

“Duh, mencari cacatnya orang lain emang jauh lebih gampang, Kang,” renung Misbah.

Artikel

Menafsir Tembang ‘Saben Malam Jumat’ yang Bilang Mayat akan Pulang ke Rumah tiap Malam Jumat

Aly Reza

“Lalu kenapa ilustrasinya adalah arwah-arwah yang pulang ke rumah masing-masing tiap malam Jumat, Mbah? Kesannya kok malah bikin merinding.”

Featured

Di Hadapan Ustaz Zainal Abidin, Lagu Anak-Anak Berikut Bisa Terindikasi Merusak Akidah

Aly Reza

Pencipta lagu anak-anak yang disebut pasti menangis denger tafsiran Ustaz Zainal Abidin ini….

Featured

Jangan Sombong, Jangan Sok Suci, Kita Hanya Beda Jalan dalam Memilih Dosa

Aly Reza

Kita ini emang lebih gampang kalau nyatet dosa orang lain. Sementara dosa sendiri menguap entah ke mana.

Artikel

Orang Jelek Emang Berhak Jatuh Cinta, tapi Harus Tahu Diri Dong

Aly Reza

“Gini amat yak jadi orang jelek, mau cari pacar susahnya ampun-ampunan,” gerutu kawan saya. Keluhan itu bikin saya ngomelin dia soal konsep “tahu diri”.