Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan 

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
4 Juni 2026
A A
5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan Mojok.co

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan  (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya rasa kuliner Semarang mesti masuk daftar kalau ada kompetisi kota dengan nama makanan paling unik. Soalnya, beberapa kuliner kota ini punya nama yang terdengar aneh, membingungkan, bahkan kadang membuat orang-orang berasumsi yang tidak-tidak. 

Sebagai orang yang tidak lahir dan besar di Semarang, saya pernah beberapa kali terkecoh. Belum mencicipi makanannya saja, imajinasi saya sudah berkelana ke mana-mana gara-gara namanya. Ada yang saya kira berbahan tertentu, ada yang saya sangka nama hewan. Bahkan, ada yang terdengar seperti istilah yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan makanan.

ADVERTISEMENT

Setelah tinggal di Jawa Tengah dan cukup sering berkunjung ke Semarang, saya baru sadar bahwa masalahnya bukan pada makanannya, melainkan pada saya yang terlalu cepat berasumsi.

Berikut 5 kuliner Semarang yang sering membuat orang luar kota salah kaprah hanya karena namanya.

#1 Wingko babat, kuliner Semarang yang sering dikira berisi babat sapi

Ini salah paham paling legendaris. Saat pertama kali mendengar nama wingko babat, saya langsung berpikir bahwa kuliner ini ada hubungannya dengan babat sapi. Mungkin semacam camilan gurih berbahan jeroan atau makanan tradisional yang menggunakan babat sebagai bahan utama.

Ternyata saya salah total.

Wingko babat justru merupakan kue tradisional berbahan kelapa parut, tepung ketan, dan gula. Rasanya manis, teksturnya legit, dan sama sekali tidak ada unsur babat sapi di dalamnya.

Kata “babat” pada wingko babat sebenarnya merujuk pada nama daerah di Kabupaten Lamongan yang menjadi tempat berkembangnya kuliner tersebut. Namun, karena wingko sangat identik dengan Semarang, banyak orang menganggapnya sebagai salah satu oleh-oleh khas kota ini.

Baca Juga:

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

7 macam soto paling nyeleneh yang nggak ada salahnya dicicipi sekali seumur hidup

Bayangkan saja betapa bingungnya orang yang belum pernah mencobanya. Sudah membayangkan aroma jeroan, yang datang malah kue manis untuk teman minum teh.

Baca juga Kuliner Semarang Timur yang Wajib Dikunjungi agar Makin Mengenal Semarang secara Lengkap.

#2 Tahu gimbal yang dikira ada hubungannya dengan rambut

Kalau pertama kali mendengar nama tahu gimbal, saya yakin banyak orang akan membayangkan tahu yang dijual oleh seseorang berambut gimbal. Bahkan, lebih ekstrem, ada yang mengira makanan ini diberi nama karena bentuk tahunya menyerupai rambut gimbal.

Faktanya, “gimbal” dalam tahu gimbal merujuk pada bakwan udang yang menjadi salah satu komponen utama hidangan tersebut. Bentuk bakwan udang yang tidak beraturan dianggap mirip rambut gimbal sehingga akhirnya disebut gimbal.

Tahu gimbal sendiri terdiri dari tahu goreng, lontong, kol, tauge, telur, bakwan udang, lalu disiram saus kacang yang khas.

Masalahnya, penjelasan ini baru diketahui setelah mencobanya. Sebelum itu, nama “tahu gimbal” memang terdengar seperti nama makanan yang diciptakan secara spontan tanpa rapat terlebih dahulu.

#3 Soto Bangkong yang bikin orang mengira isinya katak

Sebagai orang luar kota, saya pernah benar-benar mengira soto Bangkong adalah soto yang berbahan dasar katak.

Jangan tertawa. Saya yakin saya tidak sendirian.

Soalnya dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia sehari-hari, bangkong memang sering digunakan untuk menyebut katak berukuran besar. Jadi ketika mendengar ada menu bernama soto bangkong, pikiran langsung menuju ke sana.

Padahal kenyataannya tidak demikian. Soto Bangkong adalah nama sebuah soto legendaris di Semarang yang mengambil nama dari kawasan Bangkong, salah satu wilayah yang cukup terkenal di kota tersebut.

Isi sotonya ya soto pada umumnya, menggunakan daging ayam dengan kuah bening yang gurih. Tidak ada katak, kodok, ataupun hewan amfibi lain yang ikut terlibat dalam proses memasaknya.

Meski begitu, nama ini tetap sukses membuat banyak pendatang bertanya-tanya sebelum akhirnya mendapatkan penjelasan.

Baca juga Jangan Ngaku Pengusaha Hebat kalau Belum Sukses Jualan di Semarang, Kota Ini Super Keras!

#4 Babat gongso, kuliner Semarang yang dikira nama hewan langka

Kalau wingko babat membuat orang salah paham soal babat, babat gongso justru membuat orang bingung pada kata “gongso”.

Banyak orang luar Jawa tidak familiar dengan istilah tersebut. Akibatnya, ada yang mengira gongso adalah nama hewan, jenis bumbu, atau bahkan nama daerah tertentu.

Padahal, “gongso” dalam bahasa Jawa berarti menumis atau memasak dengan sedikit kuah hingga bumbunya meresap. Jadi babat gongso secara sederhana bisa diartikan sebagai babat yang dimasak dengan teknik gongso.

Bagi masyarakat Jawa Tengah, istilah ini mungkin terdengar biasa saja. Namun bagi pendatang, kata “gongso” sering kali terdengar misterius.

Apalagi kalau menu itu tertulis begitu saja tanpa penjelasan. Orang yang baru pertama kali melihatnya bisa saja memesan dengan modal nekat sambil berharap tidak sedang mencoba sesuatu yang terlalu ekstrem.

#5 Mie Kopyok yang Dikira Harus Dikocok Sebelum Dimakan

Nama terakhir yang cukup sering membuat orang salah paham adalah mie kopyok. Kata “kopyok” bagi sebagian orang terdengar seperti aktivitas mengocok atau mengguncang sesuatu. Karena itu, tidak sedikit yang mengira mie ini harus dikocok dulu sebelum disantap.

Memang ada benarnya sedikit. Istilah kopyok berasal dari proses mengaduk atau mengocok bahan-bahan tertentu dalam pembuatannya. Namun, bukan berarti pembeli akan menerima mangkuk mie lalu diminta menggoyangkannya seperti sedang membuat kopi dalgona.

Mie kopyok adalah salah satu kuliner Semarang yang berisi mie, tahu, lontong, tauge, kerupuk gendar, dan kuah bawang putih yang ringan namun khas. Namanya mungkin terdengar unik, tetapi rasanya justru sangat membumi dan mudah diterima oleh lidah siapa saja.

Dipikir-pikir, salah kaprah soal nama kuliner ini justru menjadi salah satu daya tarik kuliner Semarang. Di tengah banyaknya makanan yang namanya sudah sangat deskriptif, kuliner Semarang masih menyimpan unsur kejutan.

Orang datang dengan ekspektasi tertentu, lalu pulang dengan kenyataan yang berbeda. Kadang lebih baik, kadang lebih lucu.

Bagi warga Semarang, nama-nama tersebut mungkin sudah terdengar biasa sejak kecil. Namun, bagi pendatang, setiap nama makanan seperti teka-teki yang harus dipecahkan terlebih dahulu sebelum disantap.

Dan, mungkin di situ letak keseruannya. Sebab, perjalanan kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal cerita. Termasuk cerita tentang betapa mudahnya kita tertipu oleh sebuah nama.

Jadi kalau suatu hari berkunjung ke Semarang dan menemukan menu yang terdengar aneh, jangan buru-buru berasumsi. Bisa jadi makanan itu tidak seseram yang dibayangkan. Pengalaman saya membuktikan, justru yang namanya paling membingungkan sering kali menjadi yang paling enak untuk diceritakan kembali.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2026 oleh

Tags: Kulinerkuliner semarangMakananmakanan semarang\pariwisata semarangSemarang
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Wonogiri dan Gunungkidul, Saudara Kembar Beda Nasib

10 Makanan Legendaris Kota Wonogiri selain Mi Ayam

22 November 2022
Saya Justru Lega Semarang Tidak Mungkin Jadi “The New Jogja” seperti Solo dan Purwokerto Mojok.co

Saya Justru Lega Semarang Tidak Mungkin Jadi “The New Jogja” seperti Solo dan Purwokerto

5 April 2025
5 Prestasi Bupati Kendal yang Patut Dikenang Warga batang

Kendal dan Batang, 2 Kabupaten yang Terjebak dalam Bayang-bayang Semarang dan Pekalongan

17 Maret 2025
UNNES Semarang Bukan Lagi Tempat yang Ramah buat Mahasiswa Pas-pasan, Kos Mahal, Uang Kuliah Melejit, Gaji Part Time Seuprit Pula makelar kos

Pemilik Kos-kosan di UNNES Geram dengan Kelakuan Makelar Kos yang Setiap Tahun Membuat Trauma Mahasiswa Baru

5 Agustus 2025
sambal tumpang simpang lima gumul

Sambal Tumpang, Makanan Khas Kediri yang Ramah Lingkungan

21 Januari 2021
Pengamen Bikin Saya Lebih Boros ketika Makan di Pinggir Jalan Mojok.co

Pengamen Bikin Saya Lebih Boros ketika Makan di Pinggir Jalan

11 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika arah mata angin jadi masalah buat orang Jogja di Jakarta (Unsplash)

Sulitnya menjelaskan arah mata angin di Jakarta dari perspektif orang Jogja

11 Juli 2026
Bakso Malang adalah makanan khas Jawa Timur terbaik no debat (Wikimedia Commons)

Bakso Malang adalah makanan khas Jawa Timur yang paling bisa diterima semua lidah orang Indonesia ketimbang kuliner Jatim lainnya

12 Juli 2026
Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026
Culture Shock Anak Jombang Tinggal di Bogor: Makan Bubur Ayam Malam Hari Itu Aneh dan Nggak Kenyang!

Culture Shock Anak Jombang Tinggal di Bogor: Makan Bubur Ayam Malam Hari Itu Aneh dan Nggak Kenyang!

10 Juli 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Berhenti membandingkan Malang dan Surabaya: karakteristiknya beda, kenapa berusaha (terlalu) keras untuk membandingkannya?

10 Juli 2026
Kenapa banyak pemilik motor Honda trauma servis di AHASS? (Unsplash)

Kenapa banyak pemilik motor Honda nggak mau servis motor di bengkel resmi atau AHASS?

10 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.