Bagi lulusan SMK, terutama jurusan teknik, bekerja di pabrik di kawasan industri Cikarang hampir selalu masuk wishlist. Alasannya sederhana: kalau diterima di pabrik yang lemburannya basah, sudah pasti dompet bakalan ikut basah.
Di Cikarang, lembur sudah naik pangkat. Ia bukan lagi sekadar pekerjaan tambahan, melainkan sumber penghasilan utama. Gaji pokok tentu penting, tapi ada hal lain yang jauh lebih penting, yaitu surat perintah kerja lembur dari atasan.
Itulah sebabnya banyak operator produksi di Cikarang yang setiap akhir bulan bisa menerima gaji setara harga satu MacBook Neo baru. Fenomena ini sering bikin orang luar mengernyitkan dahi. “Kok bisa lulusan SMK, fresh graduate pula, gajinya segitu?”
Namun, ada banyak hal yang orang lain tidak tahu. Di balik slip gaji yang bikin iri, ada jam kerja yang panjang, tubuh yang dipaksa terus bekerja, dan waktu bersama keluarga yang direlakan menjelma jadi angka di rekening.
Rela menukar waktu dengan pundi-pundi rupiah
Gaji besar kerja di Cikarang tentu tidak datang begitu saja. Ada harga yang harus dibayar, dan harganya adalah waktu.
Sebagian operator produksi di Cikarang bekerja Senin sampai Jumat dengan tambahan lembur sekitar tiga jam setiap hari. Artinya, mereka baru sampai rumah sekitar pukul delapan malam. Ketika orang lain sudah pulang lalu rebahan sambil membuka Netflix atau menggulir media sosial, mereka masih berkutat dengan mesin produksi.
Akhir pekan pun belum tentu benar-benar akhir pekan. Sabtu kadang masih diisi dengan lembur sampai malam. Hari Minggu akhirnya dipakai untuk satu agenda utama, yaitu tidur.
Hitungan kasarnya begini. Seorang operator produksi di Cikarang menerima gaji pokok UMR Bekasi sebesar Rp5,9 juta, uang transport Rp650 ribu, ditambah lemburan yang mencapai 100 jam dalam sebulan. Gaji kotor yang dibawa pulang bisa menyentuh Rp13 juta. Angka itu masih bisa bertambah jika perusahaan punya tunjangan lain.
Tak heran banyak orang mengira operator produksi di Cikarang “cepat kaya”. Padahal lebih dari separuh penghasilannya berasal dari jam kerja ekstra yang menggerus waktu istirahat dan akhir pekan.
Perlu dicatat, angka tersebut hanya bisa didapat di pabrik yang lemburannya basah. Tidak semua pabrik di Cikarang semurah hati itu. Ada juga yang lemburannya pahit, sesekali saja, bahkan nyaris tidak ada sama sekali.
Lembur justru jadi sesuatu yang dinantikan pegawai di Cikarang
Bagi kebanyakan orang, lembur adalah hal yang menyebalkan. Pulang larut malam, badan pegal, lalu besok pagi harus kembali bekerja. Namun, bagi sebagian operator produksi di Cikarang, ceritanya sedikit berbeda.
Di sana, lembur justru ditunggu-tunggu. Tidak sedikit operator yang murung ketika produksi sedang sepi, sebab sepinya produksi berarti berkurangnya kesempatan lembur. Kabar “bulan ini produksi turun” itu sama seperti berita duka.
Kekecewaan itu ada alasannya. Selisih penghasilan antara operator di Cikarang yang rutin lembur dan yang tidak lembur bisa mencapai jutaan rupiah dalam sebulan. Nominal yang barangkali kecil bagi sebagian orang, tetapi lumayan untuk cicilan motor, biaya kuliah adik, atau modal merintis usaha di kampung.
Gaji besar di Cikarang belum tentu bikin kaya
Ada anggapan bahwa jika setiap bulan gajian belasan juta, urusan keuangan otomatis beres. Padahal tidak sesederhana itu. Gaji belasan juta memang terdengar besar, tapi ia datang bersama godaan yang tidak kalah besar: memodifikasi motor, membeli gadget terbaru, atau sekadar menghadiahi diri sendiri karena merasa sudah “berdarah-darah” selama sebulan.
Di sisi lain, saya juga melihat banyak operator produksi di Cikarang yang memanfaatkan masa lemburan basah dengan sangat baik. Ada yang membuka usaha kecil di kampung, ada pula yang rutin menyisihkan untuk reksa dana atau emas. Mereka sadar betul bahwa lembur bukan sesuatu yang akan selalu ada. Begitu perusahaan mengurangi produksi, jam lembur bisa menyusut drastis.
Karena itu, yang membuat seseorang cepat kaya bukan semata besarnya penghasilan, melainkan cara mengelolanya. Keputusan untuk menabung, berinvestasi, atau menghabiskannya tetap ada di tangan masing-masing.
Dianggap kalah gengsi dari staf kantoran
Lucunya, staf kantoran di SCBD sering dianggap lebih bergengsi karena kantornya di gedung tinggi dan pakaiannya rapi. Sementara operator produksi identik dengan seragam, sepatu safety, dan baju yang sudah tidak jelas warnanya sepulang kerja.
Padahal kalau sama-sama membuka aplikasi mobile banking di akhir bulan, belum tentu saldo mereka berbeda jauh. Dalam kondisi tertentu, terutama ketika lemburan sedang basah-basahnya, operator produksi di Cikarang bisa jadi jauh lebih unggul.
Pada akhirnya, pekerjaan yang lebih baik tidak ditentukan oleh besarnya gaji atau alamat kantornya. Sebab, setiap pekerjaan punya caranya sendiri dalam menagih pengorbanan. Ada yang menagih lewat tekanan, ada yang menagih lewat target, ada pula yang menagih lewat waktu.
Operator produksi di Cikarang memang membawa pulang gaji yang bikin banyak orang iri. Tapi mereka juga sedang membayar mahal dengan sesuatu yang jauh lebih sulit dihitung yaitu waktu yang tidak akan pernah bisa kembali.
Penulis: Abdul Basri
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













