Saya bukan penggemar militan. Tapi saya bisa katakan bahwa menu ini selalu menjadi penyelamat ketika saya bingung pengin pesan apa. Saya akan memilih matcha yang ((dulu)) punya rasa earthy dan sedikit pahit dibanding harus gambling dengan rasa makanan dan minuman yang namanya asing.
Tapi belakangan ini saya menyadari bahwa matcha tak lagi seperti itu. Awalnya, ia punya eksklusivitas karena nggak semua kafe, restoran, bahkan brand makanan dan minuman instan bisa menghadirkan rasa khas-nya. Dulu, ia pun hanya identik dengan minuman atau dessert tertentu, dan nyaris mustahil di-cocoklogi-kan dengan sembarang benda.
Tapi lihatlah sekarang. Kita bisa menjumpainya di setiap makanan, minuman, bahkan produk kebersihan sekalipun. Industri sudah membuatnya menjadi sesuatu yang overrated.
Matcha kini isinya gula dan susu
Matcha sebenarnya adalah jenis teh hijau yang terbuat dari bubuk daun tanaman Camellia sinensis. Ia berasal dari tanaman yang sama dengan green tea, tapi dipilih dari bagian tanaman yang paling muda dan segar, tanpa batang dan tulang daunnya. Cara asli menikmati minuman ini adalah dengan mengayaknya, lalu menyeduhnya dengan air bersuhu 70-80°C lalu dikocok dengan chasen hingga berbusa.
Tapi coba kita lihat nasibnya di pasaran saat ini. Matcha kini identik dengan rasa manis gara-gara industri mengombinasikannya dengan gula, susu, whipped cream, dan sirup terlalu banyak. Kalau rasa pahit dan earthy-nya kalah oleh gula, susu, dan topping sebanyak itu, sebenarnya kita sedang menikmati rasa asli atau gula rasa matcha?
Semua makanan dan minuman dipaksa cocok
Kalau lihat menu di kafe atau restoran, kita pasti akan menemukan makanan dan minuman dengan rasa matcha. Kalau makanan dan minumannya memang cocok sih nggak masalah, ya. Tapi mirisnya, sekarang semua produk dikawinkan paksa cuma gara-gara populer.
Banyak brand dan restoran melihatnya sebagai rasa yang akan membuat mereka untung lebih banyak. Produk lama yang nggak begitu laku asal dijodohkan, lalu mereka branding ulang sebagai produk baru.
Sekarang pun bermunculan makanan-makanan nyeleneh yang “melecehkan” harkat dan martabat. Please, deh, nggak semua makanan cocok. Masa iya ada orang bikin odeng, ramen, dan kari pakai matcha? Saya sempat berharap ini bercanda, tapi ternyata beneran ada.
Karakter matcha jadi “terbunuh”
Bayangan saya tentang matcha bertahun-tahun sebelum ia jadi se-overrated ini adalah minuman segmented yang sehat dan disukai oleh segelintir orang. Bukan maksud saya mengatakan bahwa nggak semua orang boleh menikmati. Tapi rasa asli sangat memungkinkan untuk nggak cocok di lidah semua orang.
Sekarang karakternya jadi berubah. Ia sudah menjadi lifestyle kekinian, terutama di kalangan Gen-Z. Masalahnya, ia yang sekarang lebih banyak dikombinasikan dengan makanan dan minuman kemanisan gara-gara kebanyakan gula dan cream. Seandainya digandrungi karena rasa aslinya yang tanpa gula itu, saya tentu bakal dukung lifestyle tersebut.
Matcha juga terlalu overrated dan dipakai di hampir semua makanan dan minuman sampai-sampai bisa bikin orang salah paham dengan rasa asli yang sebenarnya punya kualitas dan grade yang berbeda-beda.
Produk berkualitas buruk yang ditutup dengan gula, cream, dan susu bisa membuat orang awam tertipu dan mengira rasa asli seperti itu.
Makanya, ketika ada orang yang bilang matcha rasa rumput, saya nggak nge-judge orang tersebut. Bisa jadi tempat ia membeli memang belum ahli dalam mengolah, atau menggunakan bahan seadanya. Alhasil rasa asli nggak terasa dan malah rasa rumput yang keluar.
Ironis banget memang. Matcha adalah rasa yang enak dan pantas untuk kita cintai. Tapi sekarang kita terlalu mencintai sampai-sampai semua makanan dipaksa menjadi matcha.
Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 5 Tempat Minum Matcha Paling Enak di Jogja, Pencinta Matcha Wajib Coba!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














