Ada yang hobi trail run?
Beberapa tahun lalu, kalau ada yang mengajak saya “lari” di gunung, mungkin saya akan berpikir dua kali. Bukan karena tidak suka berkegiatan di gunung ya. Saya anggap itu kegiatan yang aneh, terlalu ekstrem dan tidak masuk akal.
Bagi saya saat itu, gunung adalah tempat untuk mendaki, bukan tempat untuk berlari. Saya nggak kebayang berlari di gunung, mendaki seperti biasa saja sudah capek setengah mati. Namun, pandangan itu kini berubah,
Semakin banyak orang menggemari trail run atau berlari di gunung. Mereka datang dengan running vest, trail shoes, dan tracking pole ganda. Mereka naik ke puncak gunung atau bukit, lalu turun dengan berlari. Naik-turun gunung mungkin bisa hanya dalam hitungan jam.
Dan, kebiasaan yang mungkin dulu saya anggap aneh itu, kini saya lakukan. Semakin sering mengikuti kegiatan ini, saya pun mulai paham kenapa trail run belakangan banyak digemari. Bahkan, setiap akhir pekan, jalur trekking Cisadon dan tanjakan Abah Donny Gunung Pancar ramai didatangi para pelari, khususnya dari Jabodetabek.
Bagi anak-anak trail run, Cisadon barangkali sudah seperti Gelora Bung Karno, tempat bertemu, berlatih, berkeringat, sekaligus melarikan diri sejenak dari rutinitas.
Alasan olahraga ini mulai digemari
Analisis kecil-kecilan saya, olahraga ini bermula dari para pendaki gunung yang mulai bosan camping, lalu memilih lebih sering tektok: naik dan turun gunung dalam satu hari. Bisa juga dari para pelari yang merasa jalan aspal sudah terlalu nyaman dan ingin mencari tantangan baru di medan yang lebih ekstrem.
Akan tetapi, ada juga teori lain yang menurut saya lebih menarik dan cukup masuk akal, trail run adalah bentuk pelarian para Gen Z yang sedang patah hati. Entah karena urusan percintaan, pekerjaan, atau karena beberapa hal yang membuat hilangnya spark hidup hahaha.
Bagi saya sendiri, trail run bukan sesuatu yang benar-benar asing. Saya sudah mendaki gunung sejak sekitar sepuluh tahun lalu, meskipun tidak terlalu sering. Sementara itu, hampir empat tahun terakhir, lari menjadi hobi sekaligus definisi sesungguhnya “pelarian” saya dari kesibukan sehari-hari sejak mulai bekerja.
Jujur saja, saya mencoba trail run pertama kali bukan karena patah hati. Momen di mana saya merasa berani mencoba olahraga yang dulu saya anggap ekstrem dan tidak masuk akal ini adalah ketika saya bisa downhill dengan cukup cepat.
Setidaknya, ada satu prinsip sederhana yang membuat saya yakin kalau saat mendaki saya membutuhkan waktu empat jam untuk sampai puncak, maka waktu turun seharusnya sekitar dua jam, atau maksimal dua setengah jam. Dan, dari patokan itulah saya berani hijrah ke trail run.
Trail run itu sebenarnya lebih banyak jalan daripada lari
Semenjak pertama kali mencoba trail run, saya merasa olahraga ekstrem ini cukup menyenangkan dan tidak begitu melelahkan. Selain karena saya tidak perlu repot-repot membawa tas carrier yang besar dan perlengkapan berkemah yang berat, saya merasa trail run menjadi jalan tengah dan perpaduan dari dua hobi saya sebelumnya: berlari dan mendaki.
Selain itu, ada satu hal yang membuat olahraga ini terasa berbeda dari road running: saya tidak dituntut untuk selalu berlari sepanjang trek/jalur pendakian. Bahkan, dalam analisis saya saat trail run race, menurut saya, berjalan kaki bukanlah sebuah kegagalan. Justru itu bagian dari strateginya.
Cut-off time (COT) yang diberikan biasanya memang lebih panjang dibandingkan lomba lari pada umumnya. Masuk akal, karena elevation gain-nya juga jauh lebih tinggi. Dengan perhitungan saya yang sederhana, selama kita bisa terus bergerak dan tidak terlalu lama berhenti, trail run race sebenarnya bisa diselesaikan sebelum COT meskipun kita banyak jalan kaki.
Saya sendiri biasanya memilih berjalan ketika uphill. Target saya sederhana: yang penting tidak berhenti. Ada energi yang harus disimpan, terutama ketika jalurnya tektok: naik dulu hingga puncak, lalu turun lagi. Jadi saya tidak terlalu memaksakan diri untuk berlari saat menanjak. Saya jalan saja.
Sebaliknya, ketika menemukan jalur yang landai atau downhill, barulah saya berlari. Itu pun kalau masih kuat. Kalau tidak kuat? Ya jalan saja, asal tidak berhenti. Menyenangkan bukan? Barangkali inilah salah satu hal yang saya sukai dari trail run. Olahraga ini tidak terlalu peduli apakah kita sedang berlari atau berjalan. Yang penting kita terus bergerak.
Ketika “run” berarti pelarian
Setelah menjalaninya, trail run ternyata tidak sepenuhnya tentang berlari. Kadang berpikir bahwa kata run dalam trail run mungkin arti sesungguhnya adalah pelarian.
Dan, ternyata, ada benarnya. Berjam-jam menyusuri jalur gunung dengan hanya ditemani suara napas yang terengah-engah memberi saya ruang yang cukup panjang untuk berpikir. Sepanjang jalur, pikiran saya sering berjalan lebih jauh daripada kaki saya.
Saya memikirkan banyak hal. Keputusan-keputusan yang pernah saya ambil. Hal-hal yang seharusnya saya lakukan tetapi tidak saya lakukan, ataupun sebaliknya. Kegagalan-kegagalan kecil yang masih saya ingat. Orang-orang yang pernah hadir.
Mungkin memang itu yang membuat trail run terasa seperti olahraga sekaligus terapi yang aneh. Bahkan, ada seseorang yang pernah mengatakan kepada saya, “Kalau kamu sedang membenci dirimu sendiri, mungkin kamu cocok dengan olahraga lari. Nah, kalau kamu semakin benci lagi, cobain trail run.”
Saya tidak tahu apakah kalimat itu benar. Tapi, semakin banyak kegagalan, semakin hidup terasa lebih rumit, semakin banyak pula hal-hal yang ingin saya tinggalkan sejenak. Dan, di saat itulah masuk akal rasanya untuk naik ke gunung, berlari ketika kuat, berjalan ketika lelah, lalu terus bergerak sampai garis finish.
Mungkin pada akhirnya, trail run bukan tentang seberapa cepat kita sampai di garis finish, tetapi tentang bagaimana kita tetap bergerak ketika hidup terasa berat.
Penulis: Nita Safira
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 11 Istilah dalam Olahraga Lari buat Kalian yang Masih Pemula.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














