Kalian pilih SD negeri atau SD swasta?
Sejumlah SD negeri di berbagai wilayah dikabarkan kekurangan siswa di tahun ajaran 2026/2027. Bahkan, SD Negeri 1 Wates di Kabupaten Kudus hanya memiliki satu siswa baru. Kondisi serupa juga terjadi di SD Negeri 27 Kauman Kota Solo, SD Negeri Cepoksawit Boyolali, dan sekolah dasar negeri lainnya.
Di sisi lain, saya pernah baca ada SD yang antrean calon siswa barunya sudah penuh sampai tahun ajaran 2032. SD mana, silakan kalian cari sendiri di internet. Yang jelas, bukan SD negeri, tapi SD swasta.
Sulit dimungkiri, pesona SD swasta memang bikin silau. Mereka menawarkan kurikulum plus-plus yang bikin anak terlihat lebih upgrade, lengkap dengan guru yang mumpuni dan fasilitas sekolah yang bikin orang tua merasa, “Nih anak gue kalau nggak sekolah di sini, bakal ketinggalan nih sama yang lain.”
Meski demikian, tidak semua orang tua silau dengan pesona SD swasta. Ada juga para orang tua yang secara ekonomi mampu, tapi tetap pilih SD negeri juga ada. Dan, tentu saja mereka punya alasan tersendiri untuk hal itu.
Dianggap berlebihan dan belum perlu
Umumnya, orang tua yang lebih memilih sekolah negeri daripada sekolah swasta beranggapan kalau sekolah swasta itu berlebihan dari segi biaya.
Memang, sudah bukan rahasia lagi jika biaya menyekolahkan anak di sekolah negeri itu tidaklah murah. Uang gedungnya bisa sampai puluhan juta dan SPP-nya ratusan ribu hingga jutaan tiap bulan. Belum uang seragam, kegiatan tahunan, buku, sampai tetek bengek lainnya.
Di titik inilah orang tua akhirnya mempertanyakan: Buat apa sekolah SD mahal-mahal? Mending sewajarnya anak sekolah SD pada umumnya saja. Yang tidak ada uang gedung, SPP, serta tidak ada… Apa itu? Memanah, berkuda sampai kelas robotic? Nggak perlu lah. Anak masih kecil belum perlu yang begitu-begitu. Lha namanya saja pendidikan dasar. Ya yang dasar-dasar saja.
Pilih SD negeri demi ffisiensi untuk keperluan lain
Anggapan bahwa sekolah swasta itu berlebihan juga sejalan dengan prinsip efisiensi. Alih-alih menggelontorkan dana besar untuk pendidikan yang menurut mereka ‘hanya’ level dasar, mereka lebih memilih mengalokasikan dana untuk kebutuhan lain, seperti dana tabungan pendidikan tinggi, asuransi, atau investasi jangka panjang lainnya.
Meski, harus saya akui, teori itu gagal di saya.
Dulu, alasan saya memasukkan anak saya ke SMP negeri setelah dia sekolah di SD swasta adalah agar saya bisa menabung untuk biaya kuliahnya kelak. Namun apa yang terjadi? Harapan bisa menabung karena sudah tidak perlu mikir SPP tiap bulannya lagi, ternyata zonk.
Khawatir terjebak gaya hidup
Banyak pula orang tua yang enggan anaknya masuk sekolah swasta karena melihat dampak sosial yang mungkin terjadi. Mereka khawatir kalau anak terlalu lama di lingkungan yang eksklusif, anak-anak malah jadi “asing” dengan realitas dunia yang sesungguhnya.
Bandingkan dengan sekolah negeri. Di sekolah negeri, anak-anak bertemu dengan kawan dari berbagai latar belakang ekonomi dan sosial yang beragam, sehingga mereka lebih terlatih untuk beradaptasi.
Belum kalau bicara soal gaya atau tampilan wali murid sekolah swasta yang sebagian besar kelihatan ‘nyugihi’, alias kaya. Bagi beberapa orang, hal tersebut dirasa kurang sreg karena berpotensi jadi ajang adu gengsi.
Dianggap terlalu membebani siswa
Alasan lain kenapa orang tua enggan memasukkan anaknya ke sekolah swasta adalah tidak cocok dengan jam belajarnya. Umumnya, sekolah swasta menerapkan jam belajar seperti anak SMA, yaitu 8 jam sehari. Alhasil, anak-anak baru akan sampai di rumah saat sore hari.
Beberapa orang tua merasa kalau lamanya jam belajar ini bisa membebani anak. Anak jadi lelah dan tidak punya waktu untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.
Bandingkan dengan sekolah negeri yang anak-anaknya sudah pulang di siang hari. Mereka sempat untuk tidur siang dan sorenya bisa pergi mengaji di masjid dekat rumah, sekaligus bersosialisasi dengan anak-anak lain di lingkungan mereka.
Jarak SD swasta terlalu jauh dibanding SD negeri
Alasan yang terakhir ini bisa jadi alasan paling mendasar yang membuat orang tua enggan menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Yaitu, faktor jarak.
Saya pernah lihat video seorang emak yang mengantar anaknya ke SD swasta. Menariknya, sejak pagi-pagi buta mereka sudah harus otw ke sekolah. Itu terjadi karena jarak rumah dengan sekolah yang sangat jauh.
Bagi sebagian orang, jarak mungkin bukan masalah. Tapi, bagi sebagian yang lain, mereka memilih untuk realistis. Pendidikan di SD bukanlah masa yang singkat. Membayangkan 6 tahun harus dilalui dengan berjam-jam perjalanan PP dari rumah ke sekolah, rasanya sungguh berat. Ini bukan semata soal ongkos, tapi soal kewarasan.
Pada akhirnya, semua kembali ke preferensi masing-masing. Tiap orang pasti punya pertimbangan tersendiri kenapa memilih sekolah swasta ataupun sekolah negeri. Tidak ada yang salah. Yang salah adalah memaksakan kehendak atau menghakimi pilihan orang lain tanpa memahami situasi mereka.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Orang tua masa kini lebih percaya sekolah swasta daripada sekolah negeri.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













