Kebebasan Berpendapat di Media Sosial: Jangan Bedakan Antara Media Sosial dan Kehidupan Nyata

Kebebasan berpendapat di media sosial adalah satu hal yang sangat subjektif. Semua orang punya pendapat terhadap hal-hal yang muncul di media sosial.

Artikel

Gilang Oktaviana Putra

Di jaman media sosial seperti sekarang, konten adalah segala-galanya. Orang-orang berlomba membuat konten demi meraih perhatian, sayangnya kadang mereka gak memerhatikan baik dan buruknya. Yang penting konten mereka disukai banyak orang, as simple as that.

Konten tentang kehidupan adalah satu contoh konten yang disukai banyak orang. Baru-baru ini ramai konten tentang generasi 90-an yang ternyata nggak muda lagi, sudah waktunya menikah, sudah bukan jamannya berpikir dan berperlaku seperti anak kecil. Intinya konten-konten yang berisi tentang nasehat pada diri sendiri tapi dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi nasehat untuk satu generasi dengan bantuan kalimat pembuka “buat kalian kelahiran tahun ’90 – ’00.”

Ajaibnya, konten seperti itu laku keras di Twitter, sampai melahirkan trending topic baru yaitu #semangatnovi. Ceritanya akun Twitter dengan nama Novi blablabla membuat konten “generasi 90-an”, kemudian cuitan tersebut di-quote tweet oleh salah satu selebtweet dan tiba-tiba menjadi ramai. Usut punya usut, ternyata setelah itu  banyak netizen yang mengomentari cuitan dari akun twitter Novi tersebut.

Nggak ada yang salah dari Novi dan selebtweet itu sebenarnya, mereka sama-sama menyampaikan opini pribadinya. Nggak lebih dari itu. Yang jadi masalah adalah komentar-komentar netizen yang justru malah membully Novi. Kemudian orang-orang membela Novi lewat tagar #semangatnovi. Ternyata berkat perundungan verbal netizen, Novi sampai menutup akun Twitternya. Sepertinya ada yang salah dengan cara bermedia sosial masyarakat Indonesia.

Media sosial sejatinya hadir sebagai media untuk bersosialisasi dengan kerabat dekat ataupun kerabat jauh lewat internet. Namun seiring perkembangan jaman media sosial berubah menjadi “tempat hidup” nomor satu. Wajar sih, mengingat di media sosial semua orang bisa menjadi apa saja dan siapa saja. Kita bisa menjadi pedagang atau pembeli; menjadi rentenir atau dermawan; menjadi pengemis atau pencuri; menjadi guru atau murid; menjadi brengsek atau naif. 

Fenomena ini terjadi karena media sosial hadir membawa kebebasan bagi penggunanya. Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi, kebebasan berpendapat ikut dimasukan ke dalam “kebebasan” dalam media sosial. Makanya lahirlah orang-orang yang kerjanya mengomentari kehidupan orang lain di media sosial dengan dalih kebebasan berpendapat. 

Lalu apakah kebiasaan mengomentari kehidupan orang lain di media sosial juga terjadi di kehidupan sehari-hari? Ya tentu saja terjadi, jangan lupa kalau orang Indonesia sangat gemar dengan gosip. Bedanya jika di media sosial komentar-komentar tersebut ditampilkan secara langsung dengan bahasa yang dibuat sekasar mungkin, agar meraih perhatian. Sedangkan di kehidupan sehari-har komentar-komentar itu disampaikan secara tidak langsung; entah dengan cara membicarakan di belakang atau pun bahasa yang diperhalus. 

Saya percaya bahwa orang Indonesia pada dasarnya adalah orang yang baik, makanya di lingkungan masyarakat banyak sekali tukang gosip. Secara adat dan budaya, membicarakan keburukan orang lain secara langsung itu nggak sopan dan kasar karena bisa menyakiti perasaan orang lain. Tapi anehnya hal ini menjadi nggak berlaku di media sosial.

Kebebasan berpendapat di media sosial bagi saya adalah satu hal yang sangat subjektif. Semua orang punya pendapatnya masing-masing terhadap hal-hal yang muncul di media sosial. Maka saat semua orang mengeluarkan opininya di media sosial, semua pengguna media sosial harus sadar dengan adanya perbedaan pendapat tersebut. Namun yang terjadi justru sebaliknya, sekarang orang-orang seolah memaksakan pendapatnya sendiri pada orang lain. Kalau semua orang ingin pendapatnya diterima, buat apa ada kebebasan berpendapat?

Alangkah baiknya, jika di media sosial kita tetap memegang teguh norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Seperti berbicara dengan kata-kata yang sopan kepada orang tua ataupun orang yang belum kita kenal; menghargai orang lain; memperlakukan orang lain dengan baik seperti kita memperlakukan teman kita sendiri; jangan mencampuri urusan orang lain jika nggak diminta; dan jangan mengganggu orang lain. Norma-norma tersebut yang membedakan antara orang waras dan nggak waras di masyarakat. Jika ketika di media sosial kalian mengabaikan norma-norma tersebut, ya tau sendiri lah artinya apa kan? Tapi, mana ada orang nggak waras main media sosial, kan?

Sebagai penutup tulisan ini, saya kutipkan cuitan Mbak Kirana Larasati buat kita semua, “yaa biarin aja sih Jen, hidup-hidup dia. Kadang yang bener buat lo kan gak harus diikutin netijen se-dunia.” (*)

Baca Juga:  Pak Ogah, Potret Pelaku Industri Kreatif yang Terlupakan

BACA JUGA Nasihat Untuk Fresh Graduate dari Driver GrabCar yang Sebenarnya Bos Besar atau tulisan Gilang Oktaviana Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
680 kali dilihat

0

Komentar

Comments are closed.