Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Sapa Mantan

Pacaran kok Tuker-tukeran Media Sosial, Situ Waras?

Devandra Abi Prasetyo oleh Devandra Abi Prasetyo
13 Mei 2022
A A
Pacaran kok Tuker-tukeran Media Sosial, Situ Waras?

Pacaran kok Tuker-tukeran Media Sosial, Situ Waras? (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Media sosial selalu menyajikan persoalan yang bisa membuat netizen geger. Pembahasan kali ini cukup menarik: apakah penting, saat pacaran saling tukar media sosial?

Respons para netizen pun beragam. Banyak yang menolak hal tersebut, bagi mereka, alih-alih perwujudan cinta, hal tersebut tak lebihnya romantisasi penjajahan privasi. Pun tak sedikit pula yang setuju, ya sekadar untuk transparansi hubungan, tegas mereka.

Sisanya sudah jelas, mau saling tukar media sosial atau tidak, melihat dua kubu saling berdebat di Twitter sudah merupakan kepuasan tersendiri bagi golongan ini.

Ya, setidaknya bagi saya, ini lebih asik diperbincangkan daripada masalah receh seperti bubur diaduk atau tidak.

Pertanyaan ini pun langsung membagi netizen menjadi dua kubu: pro dan kontra. Di kubu kontra, tentu banyak yang tidak sepaham terkait aksi saling tukar media sosial ini. Bagi mereka, ini sudah melanggar privasi salah satu pihak. Kubu ini menaruh cinta di atas batasan yang jelas. Mereka tetap saling mencintai, tapi tahu, mana garis yang tidak boleh untuk dilewati.

Pun dengan kubu yang lain (pro), mereka beranggapan bahwa ini adalah satu bentuk rasa sayang. Saling tukar media sosial, bagi kubu ini adalah perwujudan kepercayaan antar pasangan. Kasarnya, kalau kamu percaya aku, ya jangan ada yang ditutup-tutupi.

Jika kedua pendapat tersebut disatukan dan dicari kesamaannya, pada dasarnya, baik kubu pro maupun kontra sepakat bahwa menjalin sebuah hubungan asmara tentu akan membuat kita saling berbagi banyak hal dengan pasangan. Berbagi kasih, keluh kesah, kesenangan, atau kesedihan. Pembedanya hanya di berbagi password media sosial.

Salah satu akun Twitter dengan username @utaeeeeee mencoba melempar twit sindiran untuk mereka yang setuju bahwa saling tukar media sosial adalah suatu bentuk perwujudan cinta.

Baca Juga:

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Di tahun 2010-an, menurut saya, saling bertukar hal-hal yang sifatnya pribadi dengan pasangan merupakan sesuatu yang lumrah dilakukan. Saya ambil contoh, handphone.

Saya sendiri tak munafik. Saat SMP, saya pernah sekali menjalin sebuah hubungan asmara. Ya, cinta monyet, lah. Sependek yang saya ingat, saya saling bertukar handphone dengan si dia. Sehari ponsel saya ia pegang dan begitupun sebaliknya (jika salah, semoga yang bersangkutan membenarkan).

Saat itu, saya merasa menjadi sosok pasangan yang paling keren di universe ini. Sesimpel karena tak akan mengkhianati sebuah hubungan yang suci tersebut.

Setidaknya, untuk kamu yang pro terhadap tradisi pacaran saling tukar media sosial, simak dulu alasan bahwa hal tersebut memang sudah seharusnya dihilangkan.

#1 Alih-alih membangun kepercayaan, hal ini justru merusaknya

Saya paham, mungkin kalian wahai kaum yang pro terhadap tradisi tukar menukar media sosial menganggap bahwa hal ini akan membangun rasa saling percaya antara kamu dengan si dia.

Pacaran tapi saling curiga (Shutterstock.com)

Kenyataannya? Tidak. Justru ini adalah bukti bahwa kamu ternyata tak memercayai pasanganmu. Simpel, kalau kamu menaruh rasa percaya kepada si dia, tentu kamu tak terlalu ingin tahu dengan siapa dia berinteraksi, karena ada keyakinan bahwa pasanganmu tak akan mengkhianati hubungan suci kalian.

Toh, kalau memang pasangan sudah berniat untuk selingkuh, dia pasti punya 1001 cara untuk dilakukan bukan?

#2 Melanggar privasi orang lain

Media sosial terkadang tak hanya berisi pesan antara kamu dan si dia. Misal, kamu bertukar Instagram dengan pasanganmu, yang mana saat itu kamu masuk ke dalam close friend dari salah satu temanmu.

Di dalam Instastory close friend, temanmu sering mengunggah konten yang sifatnya pribadi dan beruntungnya kamu menjadi salah satu orang yang dipercaya untuk dapat melihat hal tersebut.

Jika kamu bertukar password Instagram, bukan tidak mungkin pasangamu bisa melihat Instastory yang sifatnya pribadi itu bukan? Dalam kasus ini, kamu dan pasangan sudah melanggar privasi dari orang lain.

Dalam kasus lain, pasanganmu bisa saja membaca isi curhatan dari temanmu, di mana sebelumnya kamu sudah berjanji tak akan menyebarkannya kepada orang lain. Dalam tataran etika, kamu secara mutlak adalah seorang pelanggar.

Saya pun punya pengalaman pribadi terhadap pelanggaran satu ini. Pernah suatu waktu saya ingin curhat ke salah satu kawan, belum saya menulis satu kata pertama, dia sudah memberikan warning.

“Pindah di nomorku satunya saja, ya. WhatsApp yang ini disadap pacarku,” tulisnya yang saya yakin buru-buru dihapus.

Bagi saya ini aneh. Ngapain. Ini kamu sedang pacaran atau mencoba meniru KPK yang ingin melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Saling curiga (Shutterstock.com)

#3 Tidak memiliki ruang pribadi

Kamu mungkin mengamini bahwa menjalin sebuah hubungan asmara tentu akan saling berbagi hal kepada pasangan. Namun, tak segala hal mesti dibagikan kepada pasangan, bukan? Ada beberapa kasus di mana kamu tidak ingin membagikannya ke orang lain, termasuk ke pasanganmu.

Ini berkaitan dengan ruang privat. Sulit untuk tidak setuju bahwa setiap manusia tentu butuh ruang privat, di mana itu berisikan hal-hal yang sangat pribadi dan tidak ingin dibagikan kepada orang lain.

Entah itu foto selfie, tulisanmu yang gagal, atau puisi yang sengaja kamu simpan untuk diberikan kepada si dia suatu hari nanti. Semuanya. Apa pun yang tak ingin kamu bagikan kepada siapapun. Pacaran sekalipun, ruang privat harus dan wajib dihormati.

#4 Bikin kamu overthinking dan buang-buang waktu

Last but not least, saling bertukar media sosial tentu akan menambah beban pikiranmu. Kamu akan sering overthinking terhadap segala yang terjadi pada akun media sosial si dia.

“Kok dia ­nge-like postingan si A?”, “Kok si B tiba-tiba follow si dia?”, “Ini kenapa mantan si dia tiba-tiba nge-react story?” Tentu pertanyaan-pertanyaan ini akan sering muncul dan selalu berlarian di dalam kepalamu.

Setelah itu, kamu akan menjadi overthinking dan selalu berpikiran buruk terhadap pasanganmu. Kamu semakin membebani otakmu dengan hal-hal yang belum tentu terjadi.

Overthinking (Shutterstock.com)

Tentu tidak enak bukan, jika setiap hari kamu beraktivitas dengan pertanyaan-pertanyaan yang membebani tersebut? Pacaran, bukannya membawa kebahagiaan, malah mengisi otakmu dengan pikiran tak perlu.

Selain itu, yang jelas akan buang-buang waktu. Selain kamu sibuk mengecek media sosialmu sendiri, kamu akan menambah sedikit waktu untuk melihat akun Instagram atau Twitter milik si dia.

Itulah alasan-alasan kamu tidak seharusnya melakukan tradisi saling bertukar media sosial dengan pasangan. Mengingat hal tersebut bukanlah bukti dari perwujudan cinta, bertukar media sosial tak lebihnya romantisasi penjajahan privasi.

Pacaran ya pacaran aja, nggak usah kebanyakan atraksi deh.

Penulis: Devandra Abi Prasetyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pacaran kok Wajib Chattingan Seharian, Hubungannya Waras Nggak, tuh?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Mei 2022 oleh

Tags: Media SosialPacarantrust issues
Devandra Abi Prasetyo

Devandra Abi Prasetyo

Mas-mas Jawa penggemar sepak bola yang sedang mengadu nasib di belantara Jakarta. Hidup penuh ujian, terutama karena terjebak toxic relationship,

ArtikelTerkait

Kebahagiaan dan Merasa Eksis di Media Sosial Saat Mention Dibalas oleh Tokoh Idola

Kebahagiaan dan Merasa Eksis di Media Sosial Saat Mention Dibalas oleh Tokoh Idola

4 Desember 2019
Kisi-kisi Menjadi Open Minded Menurut Rakyat Twitter yang Terhormat terminal mojok.co

Nggak Pasang Foto Profil WhatsApp = Lagi Banyak Masalah Itu Rumus dari Mana?

29 Desember 2020
Orang Posting Status Screenshot WhatsApp Itu Motiavasinya Apa sih?! mojok.co/terminal

Jujur Aja, Saya Malas Banget Lihat Instagram Story Orang Lain

9 Februari 2021
5 Hal yang Sering Dipamerkan PNS di Media Sosial (Shutterstock.com)

5 Hal yang Sering Dipamerkan PNS di Media Sosial

7 Maret 2022
Tempat di Gerbong Prameks yang Cocok untuk Kawula Muda Pacaran terminal mojok.co

Tempat di Gerbong Prameks yang Cocok untuk Kawula Muda Pacaran

18 Januari 2021
story media sosial

Bukti Cinta di Era Media Sosial dan Story

20 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Cara Menikmati Wisata Semarang Secara Gratis (Unsplash)

Panduan Wisata Gratis di Semarang: 4 Cara Menikmati Kota Atlas Tanpa Perlu Pusing Mikir Tagihan

8 Juni 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

8 Juni 2026
Kopi Klotok Tidak Lagi Menarik, Warga Jogja Pilih Menghindar (Wikimedia Commons)

Kopi Klotok: Kuliner Wajib bagi Wisatawan, tapi Semakin Banyak Warga Lokal Jogja yang Memilih Menjauh dan Mencari Tempat Lain

6 Juni 2026
Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan  Terminal

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

8 Juni 2026
Lampung Bukan Tempat Merantau untuk Orang Lemah

Lampung Itu Nama Provinsi, Bukan Nama Kota. Pas SD Pernah Belajar IPS Nggak sih?

8 Juni 2026
5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan Mojok.co

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan 

4 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.