Dilema Admin Tunggal WhatsApp Group (WAG) yang Nggak Laku

Artikel

Avatar

Bagi saya yang sering gonta-ganti smartphone, ada semacam berkah tersembunyi dibalik sesuatu yang saya anggap cukup mengganggu beberapa tahun terakhir, yakni bising dan berisiknya WAG yang saya ikut bergabung di sana dan juga nelangsanya menjadi admin tunggal di WAG yang sepi kayak kuburan.

Untuk kasus yang pertama agaknya bukan hanya saya saja yang mengalami gangguan ini, buktinya sempat viral di media sosial parodi bagaimana caranya keluar dari WAG tanpa ketahuan anggota yang lain sampai-sampai banyak yang nyari aplikasinya di playstore. Perkara keluar dari WAG ini sebenarnya remeh, perkara ringan tinggal klik left group selesai, masih jauh lebih sulit ngangkat air galon ke tempatnya tanpa tumpah setetes pun, hanya saja fakta di lapangan berbeda, tidak semudah itu, Ferguso. Bahkan sempat heboh dengan keluarnya fatwa haram dari ulama asal negeri jiran bagi orang yang left WAG tanpa pamit atau permisi dulu.

Pada awalnya WAG akronim dari WhatsApp grup ini adalah bagian dari konsekwensi budaya modern di bidang teknologi yang mana memang dituntut untuk terus berkembang dan menyempurnakan dirinya. Teknologi jika kita tarik ke muaranya merupakan  alat bantu kita, kehadiran teknologi pada dasarnya menjadikan hidup kita semakin baik, semakin gampang, semakin praktis dan tentu saja semakin nyaman.

Sementara itu WAG dianggap sudah sangat berjasa bagi perkembangan populasi pengguna aplikasi chatting paling popular saat ini yaitu WhatsApp messenger, kabarnya sudah lebih dari satu milyar manusia yang aktif menggunakan aplikasi ini, konon katanya sebelum adanya fitur grup di aplikasi ini WhatsApp messenger masih kalah popular dengan BBM aplikasi chatting milik Blackberry. Fitur WAG sendiri baru disematkan kedalam aplikasi WhatsApp pada tahun 2011, artinya dua tahun sejak kelahiran aplikasi kirim pesan berbasis data internet ini.

Baca Juga:  Menanggapi Artikel Memiliki Teman yang Mengaku LGBT: Menjadi LGBT Bukanlah Sesuatu yang Kami Pilih

Hari ini, WAG sudah sudah menjadi bagian yang melekat dari hidup kita, maka semakin ke sini semakin ada pergeseran nilai, ironis, orang akan dianggap aneh jika japri ke teman lama untuk sekedar menanyakan kabar, kok nggak di grup saja, kurang lebih demikian. Bertemu dengan kawan lama di angkringan juga, sepertinya kurang mampeh kalau tidak menyertakan pertanyaan “kamu masuk di grup mana saja sekarang” di dalam obrolan. Nah, kembali ke paragraph paling awal, WAG memang ada manfaatnya, namun segala sesuatu yang berlebihan termasuk jumlah WAG yang sudah hampir tiga puluh, itu tidak baik, sangat mengganggu seperti insect atau serangga pengganggu. Namun mengingat saya yang gemar gonta-ganti smartphone ini, secara sepihak mereduksi fungsi WAG hanya sebagai tempat penitipan nomor kontak teman dan keluarga saja. Bagi saya ini semacam berkah sebagaimana andok di warung terus dibayarin teman.

Kontras untuk kasus kedua, saya masih belum menemukan keberkahannya, satu sisi seperti yang saya ceritakan di atas, berisiknya WAG sudah sangat mengganggu, namun saya bisa apa, keluar dari grup saya nggak berani, takut dosa, sementara di sisi lainnya saya sendiri selalu diliputi rasa nelangsa, lara, ketika menyadari kenyataan bahwa grup yang saya buat sendiri, saya admini sendiri, sepi mamring, seperti tak berpenghuni. Penyebabnya mungkin saja kebanyakan dari anggotanya juga sama mengalami yang namanya gangguan dari berisik dan kebisingan WAG sebagaimana yang saya alami sendiri.

Kira-kira ada yang tau nomor WhatsApp Jan Koum atau Brian Acton, saya mau usul ke mereka berdua atau salah satunya juga rapopo, bagaimana kalau admin tunggal dari grup WhatsApp yang sepi alias gak payu dapat melakukan monetisasi sebagaimana para youtuber bersama channel YouTube mereka. Ya tentu saja dengan beberapa syarat, jumlah anggota minimal, berapa lama grup tersebut tak aktif, dan seberapa ngenes sampai niat kendat admin tunggalnya..

Baca Juga:  Melihat Ke-selow-an Kaesang sebagai Kunci Mendinginkan Panasnya Medsos

Kalau tidak tepat dibilang monetisasi yach santunan lha hehehe duit teko endi Cak! (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

---
7


Komentar

Comments are closed.