Geliat Ojek Online di Tengah Kemacetan

Dalam kemacetan yang saya alami di daerah Wonokromo, saya bisa ketinggalan tiga kali lampu hijau karena terlalu panjang kemacetan di sekitar traffic light.

Artikel

Avatar

Memasuki era digital, membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dan praktis untuk dilakukan. Semua kegiatan dapat dilakukan dalam segenggam tangan manusia lewat sebuah ponsel pintar. Pada masa kini, dunia digital menjadi peluang bisnis sekaligus kerja yang paling menjanjikan.

Hal itu rupanya telah menjadi bahan pertimbangan para pebisnis startup digital berupa olshop atau ojek online. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bagus ini, mereka berlomba-lomba meluncurkan aplikasi penyedia barang dan jasa yang dapat diakses dengan mudah oleh banyak orang. Salah satunya adalah jasa ojol alias ojek online.

Grab, GoJek, adalah dua contoh bisnis startup di bidang jasa ojek berbasis online. Kepraktisan pengoperasian aplikasi ini banyak membuat para pelanggan ojek konvensional kini beralih menggunakan ojol. Lha piye? Tinggal buka aplikasi, pilih salah satu menu jasa antar-jemput ojek, kemudian tinggal membuat pesanan atau panggilan kepada ojek. Semua bisa dilakukan sekali waktu secara singkat dan sederhana dalam ponsel pintar.

Tapi ngomong-ngomong soal ojol, saya tidak luput menjadi salah satu pengguna jasa ini. Selain simpel—seperti yang sudah saya sebutkan, menggunakan jasa ojol juga sangat membantu saya ketika akan berpergian namun tidak ada motor satu pun di rumah. Semua terbantu berkat ojol. Datang tepat waktu menggunakan jaket dan helm berwarna hijau. Meskipun saya sendiri tidak terlalu sering menggunakan jasa ini, namun sesekali waktu ojol benar-benar membantu.

Dengan banyaknya keuntungan yang dirasakan oleh para pengguna ojol, bukan tidak mungkin jika prospek bisnis startup ojol ini berkembang pesat. Apalagi untuk kota-kota besar seperti Jakarta, dan Surabaya. Keberadaan ojol pada kota-kota besar adalah strategi pemasaran terbaik dalam dunia perbisnisan di bidang jasa ojol.

Seperti pada satu sore ketika saya sedang dalam perjalanan pulang dari kampus saya yang berada di kawasan Bangkalan—Madura, menuju rumah saya yang berada di kawasan Sidoarjo. Seperti biasa, melintasi area Wonokromo—Surabaya saya harus berjuang membelah kemacetan. Kendaraan bermotor menyemut, menunggu lampu merah beganti lampu hijau.

Baca Juga:  5 Alternatif Mengawali Berbuka Puasa Selain Dengan yang Manis

Dalam kondisi terjebak macet, saya menyadari jika hampir sebagian besar  pengendara yang terjebak macet adalah para ojol yang sedang membonceng penumpang. Sebagian ruas jalan menjadi warna hijau menyala berkat jaket para ojol ini. Tiba-tiba saya jadi teringat soal prospek bisnis startup ojol di tengah kemacetan.

1. Ojol menyediakan layanan jasa antar pergi dan pulang bagi para magerisme (baca: mager)

Kondisi jalan yang macet dan mengular panjang ketika jam-jam aktif membuat sebagian orang yang pada dasarnya mager jadi ogah-ogahan mengendarai kendaraan pribadi. Bayangkan saja, dalam kemacetan yang saya alami di daerah Wonokromo, saya bisa ketinggalan tiga kali lampu hijau karena terlalu panjang kemacetan di sekitar traffic light. Bagi orang-orang yang  terlalu mager di jam berangkat kerja atau letih sepulang kerja, ojol pasti jadi pilihan.

Dengan menjadi penumpang ojol, setidaknya seseorang tidak perlu merasakan kelelahan dua kali lipat karena terjebak macet sepulang kerja. Karena adanya peluang laba tersebut, dalam hal ini bisnis startup ojol di kota-kota besar yang sering terdampak macet seperti Surabaya dapat ditebak perkiraan prospeknya. Semakin macet, semakin banyak orang mager menggunakan jasa ojol, maka semakin untung bisnis startup ojol. Mantep tho?

2. Ojol menyediakan layanan jasa antar makanan dan minuman bagi para magerisme yang kelaparan 

Merasa lapar tapi ogah membelah kemacetan jalan? Para magerisme bisa menggunakan layanan ojol kapanpun dan dimana pun, untuk mengantarkan makanan yang diinginkan. Misalnya ketika sedang di kantor yang terletak di seberang jalan yang sering jadi area langganan macet. Pesan makanan apapun dan dimanapun (asal masih dalam zona wajar) ojol akan memenuhi kebutuhan para magerisme yang sedang kelaparan tanpa perlu bermacet-macet ria.

Baca Juga:  Komunikasi Antara Driver Ojol dan Penumpang: Soal Titik Penjemputan Baiknya Saling Memahami Saja

3. Ojol jadi cara alternatif mengatasi jomblo yang mudah baper

Berbagai jenis pengendara motor akan terlihat ketika kita berada dalam kemacetan. Termasuk para dua sejoli yang sering kita temui pada saat jalanan sedang macet. Memeluk erat si pengendara, lalu si pengendara mengusap tangannya, atau yah, mengelus kering kaki seseorang yang diboncengnya. Anda jomblo baper? Segera hubungi ojol.

Meski tidak bisa meniru tingkah pengendara dua sejoli itu, setidaknya mamas ojol akan menemani perjalanan Anda dalam kemacetan. Tidak perlu meniru sepenuhnya, asal tidak sendirian melewati jalanan macet dengan pemandangan dua sejoli di kanan kiri Anda, itu akan terasa lebih baik, heuheu~

4. Gojek menyediakan layanan jasa pijat

Kemacetan yang panjang bisa menyebabkan badan terasa pegal. Untuk mengatasi itu, gojek sudah memperkirakan layanan jasa pijatnya dalam go massage akan sangat berpeluang.

Rupanya selain layanan jasa antar bagi mereka yang suka mager, layanan jasa pijat juga tidak kalah menyokong prospek bisnis startup ini ke depannya. Semakin macet, semakin membuka peluang prospek bisnis ojol di masa depan. Artinya, di masa depan, semakin meningkatnya volume kendaraan maka salah satu bisnis yang akan diuntungkan adalah bisnis startup ojol.

Dengan begitu, prospek bisnis ojol yang bisa dilihat di jalanan yang sedang macet dapat menjadi pertanda baik. Ojol akan sangat dibutuhkan di saat-saat genting seperti ketika terjebak kemacetan. Saya serius. (*)

BACA JUGA Orang Lain Menyebutnya Pembunuh atau tulisan Ade Vika Nanda Yuniwan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
204 kali dilihat

1

Komentar

Comments are closed.