Berjuang Bersama Untuk Bisa Turun di Stasiun Bekasi

Kemudian ibu yang tengah hamil besar itu kesulitan turun lantaran peron di stasiun Bekasi lebih rendah dari stasiun lainnya. Saya meloncat turun.

Artikel

Avatar

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, hari terus berganti. Selama ini KRL berjalan lancar-lancar saja. Tidak ada tawuran. Tidak ada gangguan operasional dan apapun itu yang mengakibatkan KRL telat dari jadwal perjalanan. Semua lancar jaya. Semua senang.

Kondisi seperti ini harusnya patut diapresiasi. Minimal ngetweet atau berkomentar di akun media sosial KRL semacam ucapan terima kasih kek, quote-quote bijak kek, pantun kek, puwisie kek, atau apalah yang bisa membuat admin sosmed KRL tersanjung. Seenggaknya bisa menimbulkan aura positif. Jangan komentar atau ngetweet kalau mau komplain doang~

“Terima kasih KRL, berangkat pagi nggak telat. Jadi nggak dipotong gaji. Pulang kerja juga lancar. Bisa cepat sampai rumah.”

Nah, gitu!!1!1!

Tanggal 5, 6, 7, 8, dan terus berganti sampai hari ini, Rabu tanggal 18. Artinya kita sudah melewati 14 hari dari peluncurannya pin khusus ibu hamil di tanggal 4 kemarin. Sejujurnya saya tidak sedang memantau. Saya juga nggak mengerti bagaimana perkembangan pin itu sekarang.

Tapi beberapa hari lalu—aduh lupa nih, harinya apa dan tanggalnya berapa—saya sudah melihat dua orang bumil yang sudah mengenakan pin khusus  itu. Saya melihat kedua bumil ini di hari yang berbeda. Gerbong yang berbeda. Kondisi penumpang yang juga berbeda. Dan tentu saja, orang yang berbeda.

Saya melihatnya dalam kondisi mereka sudah duduk. Mungkin mereka naik KRL dari stasiun awal, Jakarta Kota. Sementara saya naik dari stasiun Jayakarta. Itu artinya mereka naik lebih dulu daripada saya. Pin itu terpasang pada tas selempang. Salah satunya terdapat tulisan tanggal masa berlaku: 02 Feb 2020.

Sampai saat ini saya belum melihat lagi bumil lain yang menggunakan pin khusus itu. Meskipun petugas di dalam KRL sering menginformasikan keberadaan pin dan cara mendapatkanya lewat pengeras suara. Tak lupa juga mengimbau penumpang untuk memberikan kursi prioritas bagi yang membutuhkan.

Hari ini sepulang bekerja, ketika KRL yang saya tumpangi sampai di stasiun Gondangdia, masuklah seorang ibu hamil yang kondisi kehamilannya sudah cukup besar. Tanpa diminta, seseorang yang duduk di kursi prioritas segera bangkit dari kursi itu lalu mempersilakan bumil tersebut untuk duduk.

Baca Juga:  Waspada, Pelecehan Seksual Masih Terjadi dan Merajalela di KRL

Senang rasanya melihat pemandangan ini. Terus-teruslah seperti ini. Setiap hari. Setiap waktu. Dalam KRL tujuan kemana pun. KRL berjalan dengan lancar. Tapi kondisi penumpang makin pepes. Ya, wajar saja. Yang saya tumpangi ini KRL tujuan Cikarang dengan rangkaian 8 gerbong. Ini di luar kebiasaan.

Padahal, biasanya KRL tujuan Cikarang yang jadwal perjalanannya hampir satu jam sekali itu menggunakan 12 gerbong. Bayangkan, 12 gerbong aja udah pasti pepes. Apalagi 8 gerbong. Wah, makin empet-empetan. Nampaknya PT Kereta Commuter Indonesia harus cepat-cepat mengevaluasi ini. Dari jumlah gerbong sampai jadwal keberangkatan KRL tujuan Cikarang.

Begitu KRL tujuan Cikarang, masuk di stasiun Bekasi, kondisi penumpang yang ingin turun harus benar-benar siap. Siap mental dan tenaga untuk mendesak atau mendorong penumpang yang tidak turun. Harus seperti itu pasalnya penumpang yang tidak turun, biasanya agak ngeyel, enggan memberi jalan atau bergeser untuk penumpang yang keluar.

Belum lagi ditambah penumpang yang ingin naik dan sudah menunggu lama di stasiun Bekasi. Sering kali saya melihat, penumpang yang menunggu KLR tujuan Cikarang jumlahnya banyak banget di stasiun Bekasi.

Hal yang paling menyebalkan adalah penumpang yang ingin naik sering kali tidak memberi kesempatan lebih dulu untuk penumpang turun. Ya, main serobot aja masuk ke dalam KRL. Kan logikanya gimana, coba? Yang mau turun jadi nggak bisa. Kalau begini, urat leher kita harus kencang untuk teriak, “woy, yang turun dulu kasih jalan!1!1!!!

Dalam kondisi yang ruwet ini, bumil yang naik dari stasiun Gondangdia itu mengeluhkan, “aduh, Mas. Saya bisa turun nggak yah.”

“Bisa, Bu,” sahut saya. “Sini pegangan pundak saya. Ibu di belakang saya ya!”

Baca Juga:  CLBK Bekasi dan Jakarta: PDKT Terus, Kapan Jadiannya?

“Iya, Mas.”

“Siap, Bu?”

“Siap, Mas.”

Si Bumil itu pegangan pundak saya layaknya penumpang dengan kang ojeknya. Kami berusaha menerobos kepadatan lalu lintas, eh, maksud saya penumpang KRL. Syukur, jalan terbuka. Tapi hal yang paling mengesalkan itu terjadi lagi. Tidak bisa melihat celah sedikit, langsung diserobot lagi oleh penumpang yang ingin naik. Saya harus teriak, “woy, minggir!

Kemudian ibu yang tengah hamil besar itu kesulitan turun lantaran peron di stasiun Bekasi lebih rendah dari stasiun lainnya. Saya meloncat turun. Lalu menyambut tangan kanan bumil itu. Ada seseorang yang di sana yang ikut menyambut tangan kirinya. Hadeuhhh, tetap aja masih ada penumpang  yang menyerbot masuk tanpa peduli ada seorang ibu hamil yang sedang susah payah untuk turun. Kzl akutuh~

Maklum ya, Mz, Mb. Orang-orang ini masih sulit untuk bisa tertib. Sebagai warga negara Bekasi, Saya juga sebenarnya malu sih menceritakan hal ini. Seolah membuka aib sendiri. Ya tapi memang seperti ini kondisinya. Meskipun tidak semuanya, sih. Tidak bisa dipukul rata juga.

Di beberapa stasiun lain saya juga pernah melihat kondisi penumpang yang nggak tertib. Meskipun tidak se-sparta penumpang yang ingin naik KLR Cikarang di stasiun Bekasi. Pada akhirnya saya merasa ketika jaman sudah semakin maju, ketika segala macam perubahan terjadi untuk kemudahan hidup. Sikap dan mental kita tetap seperti ini aja. Jalan di tempat.

Monmaap ya, Lur. Ini cuma perasaanku aja. Jangan dibully, Lur. Aku ngompolan. (*)

BACA JUGA Pin Khusus Ibu Hamil dan Kebobrokan Empati di KRL atau tulisan Allan Maulana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
515 kali dilihat

12

Komentar

Comments are closed.