Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Resign karena Nggak Kuat Menghadapi Stasiun Manggarai Adalah Alasan yang Masuk Akal, Bukan Lemah 

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
10 Februari 2026
A A
Resign karena Nggak Kuat Menghadapi Stasiun Manggarai Adalah Alasan yang Masuk Akal, Bukan Lemah Mojok.co

Resign karena Nggak Kuat Menghadapi Stasiun Manggarai Adalah Alasan yang Masuk Akal, Bukan Lemah (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Stasiun Manggarai adalah tantangan besar bagi banyak pekerja Ibu Kota. 

Saya sedang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jawa Barat. Rutinitas kerja, macet, dan transportasi umum sudah menjadi bagian dari keseharian. Bagi saya, capek pulang kerja adalah hal biasa sampai akhirnya saya benar-benar memahami bahwa kelelahan bukan hanya soal jarak, tapi soal sistem yang tidak ramah manusia.

Pemahaman itu datang dari satu cerita sederhana, tapi menampar.

Di kantor, ada satu rekan kerja baru. Dia baru bergabung sekitar tiga bulan lalu. Dari cara kerja dan pengalamannya, saya merasa dia sebenarnya sudah “jadi” dan bisa berada di posisi yang layak di kantor sebelumnya. Namun, yang membuat saya heran, dia justru memilih pindah ke kantor kami yang jaraknya jauh berbeda dari tempat kerjanya dulu.

Rasa penasaran membuat saya bertanya langsung. “Kenapa resign, Mbak? sepertinya karier Mbak di tempat lama sudah bagus.” Jawabannya singkat, tapi berat, “Karena harus transit di Stasiun Manggarai.” Saya hampir tertawa kecil. Dalam hati saya berpikir transit bisa membuat seseorang resign. Ternyata saya salah besar.

Kawan saya ini kemudian cerita panjang lebar. Cerita yang akhirnya membuat saya paham kenapa Stasiun Manggarai bukan sekadar stasiun, tapi sumber stres harian bagi banyak orang.

Baca juga Kasta Stasiun KRL “Neraka” yang Wajib Diketahui Orang Luar Jabodetabek.

Transit di Stasiun Manggarai itu nggak sekadar pindah kereta

Transit di Stasiun Manggarai bukan cuma soal pindah kereta. Ini soal menghadapi kerumunan yang luar biasa padat dan jalur yang membingungkan. Termasuk fasilitas yang jauh dari kata ramah, terutama bagi perempuan, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan lansia.

Baca Juga:

Trauma menginap di hotel murah Cikarang yang lebih cocok jadi tempat uji nyali daripada tempat bermalam

4 taktik menaklukan Stasiun Manggarai saat jam padat, tempat paling kacau se-Jakarta

Di jam-jam sibuk, stasiun ini seperti lautan manusia. Saking ramainya, bukan tidak mungkin ada yang terinjak, tersenggol keras, bahkan hampir jatuh. Semua orang berjalan cepat, sebagian berlari, sebagian panik takut ketinggalan kereta. Tidak ada ruang untuk bernapas, apalagi merasa aman.

Yang lebih parah, akses peron satu dengan yang lain di Stasiun Manggarai itu didominasi tangga. Anak tangga dengan jumlah banyak, curam, dan melelahkan. Eskalator sering kali mati atau tidak berfungsi optimal. Lift? Jangan terlalu berharap. Akhirnya, semua orang tanpa peduli kondisi fisik dipaksa naik turun tangga dengan arus manusia yang deras.

Bayangkan perempuan pulang kerja dengan tubuh lelah, membawa tas berat, harus berdesakan sambil naik turun tangga tinggi. Bayangkan ibu hamil, lansia, atau penyandang disabilitas menghadapi situasi yang sama. Ini bukan cuma tidak nyaman, tapi berbahaya.

Belum lagi atmosfernya. Orang-orang yang berlari tiba-tiba, teriakan petugas, pengumuman yang bertumpuk, dan tekanan waktu yang membuat siapa pun mudah emosi. Pulang kerja yang seharusnya menjadi momen melepas lelah justru berubah menjadi pengalaman yang menguras mental.

Kawan saya ini bilang, setiap hari dia pulang dengan perasaan kesal. Bukan karena pekerjaannya, tapi karena perjalanan pulang yang terasa seperti “perang kecil”. Dan, itu terjadi setiap hari.

Hal lain yang sering luput dibicarakan adalah soal kebutuhan dasar. Ketika menunggu kereta cukup lama dan ingin membeli minuman atau camilan, fasilitas di Stasiun Manggarai terasa sangat terbatas. Tidak seperti Stasiun Kebayoran yang memiliki minimarket seperti Alfamart di dalam area stasiun, di Manggarai penumpang sering kali harus keluar area stasiun terlebih dahulu. Ribet, capek, dan memakan waktu.

Baca juga Naik KRL Jakarta di Jam Kerja Adalah Neraka bagi Para Pemula.

Resign jadi keputusan yang masuk akal

Hal-hal kecil seperti ini, jika terjadi sesekali mungkin bisa ditoleransi. Tapi jika dialami lima hari seminggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, dampaknya nyata. Fisik lelah, mental terkuras. 

Akhirnya saya paham. Keputusan resign bukan karena teman saya ini lemah, manja, atau tidak tahan kerja. Justru sebaliknya, dia sadar bahwa kualitas hidupnya perlahan hancur oleh sistem transit yang tidak manusiawi.

Dan teman saya bukan satu-satunya. Banyak orang bertahan karena tidak punya pilihan. Tapi tidak sedikit juga yang akhirnya menyerah, pindah kerja, bahkan mengorbankan jenjang karier demi kesehatan fisik dan mental. Ini seharusnya menjadi alarm keras.

Stasiun Manggarai adalah simpul transportasi penting, bahkan disebut-sebut sebagai pusat integrasi KRL. Tapi integrasi tanpa kenyamanan hanyalah pemindahan beban dari satu titik ke titik lain. Jika desain dan pengelolaan tidak memprioritaskan manusia, maka stasiun sebesar apa pun hanya akan menjadi sumber kelelahan masal.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Cari Kerja Memang Susah, tapi Bertahan di Lingkungan Kerja Toxic Juga Nggak Ada Gunanya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2026 oleh

Tags: KRLmanggaraipekerjaresignstasiunStasiun KRLstasiun manggarai
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

Stasiun Surabaya Gubeng, Stasiun Terbesar yang Mencerminkan Karakter Orang Surabaya

Stasiun Gubeng, Stasiun Terbesar yang Mencerminkan Karakter Orang Surabaya

1 Juli 2023
Status Karyawan Tetap Nggak Istimewa di Mata Gen Z. Buat Mereka yang Penting Kerja dan Dapat Benefit Tinggi

Status Karyawan Tetap Nggak Istimewa di Mata Gen Z. Buat Mereka yang Penting Kerja dan Dapat Benefit Tinggi

29 November 2023
Wahai Karyawan Startup, Dosen, dan PNS, Bergabunglah dengan Serikat Pekerja!

Prabu Yudianto Menjelaskan Cara dan Pentingnya Membangun Serikat Pekerja

20 April 2023
Stasiun Bogor Adalah Stasiun KRL Terbaik Se-Jabodetabek Mojok.co

Stasiun Bogor Adalah Stasiun KRL Terbaik Se-Jabodetabek

24 Maret 2025
resign

Bagi Para Karyawan, Semua Akan Resign Pada Waktunya

19 Juni 2019
5 Tipe Penumpang Menyebalkan di KRL Jogja-Solo Mojok.co

5 Tipe Penumpang Menyebalkan di KRL Jogja-Solo

30 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar

Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar

31 Juli 2026
Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

27 Juli 2026
3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal Mojok.co

3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal

26 Juli 2026
5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak cuma di situ-situ aja mojok

5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak di situ-situ aja

27 Juli 2026
Bodoh! Ngapain iuran 100 ribu demi mengundang sound horeg (Pexels)

Saat Jakarta terasa lebih tenang dibanding mudik ke Jawa Timur gara-gara teror pawai sound horeg Agustusan

29 Juli 2026
Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

Sleman jadi besar dan hebat justru karena tidak punya “pusat kota”, kemajuan tersebar merata di segala penjurunya

26 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.