Jangan fokus memperbanyak mahasiswa, kasian lulusannya
Saya kurang begitu memahami mengapa kampus-kampus di Bangkalan Madura ini FOMO dalam membuka prodi. Apa betul karena kondisi kekacauan negara maka mereka buka prodi HTN. Lalu, apa benar karena sistem pendidikan kita yang problematik maka mereka banyak buka prodi Pendidikan? Itu pertanyaan-pertanyaan kalau saya berpikir positif pada kampus-kampus itu ya.
Akan tetapi, bisa jadi pula sebaliknya. Kampus-kampus mungkin ingin menggaet mahasuswa sebanyak-banyaknya lewat prodi populer. Dan tentu, alasan dibaliknya adalah pemasukan dan keuntungan. Maksud saya, keresahan kita, warga Bangkalan Madura, pada kondisi negara dan pendidikan malah dijadikan ladang untuk menarik kita. Yang penting, banyak aja dulu yang daftar ke kampusnya. Masalah kualitas? Belakangan.
Sekali lagi, itu kabar buruk ya. Jangan harap setelah lulus, karier kita bakal mulus. Bukan tidak mungkin kita malah kebingungan akan dikemanakan ilmu dan ijazahnya!
Masing-masing kampus di Bangkalan harusnya punya keunikan
Saya termasuk orang yang tidak sepakat dengan kampus yang terlalu berorientasi pada keuntungan. Misalnya yang terjadi di Indonesia saat ini, semua kampus berlomba membuka prodi S1 Kedokteran, mulai dari yang kampus pendidikan, keislaman, hingga institut yang terkenal dengan jurusan tekniknya. Apa urgensinya? Ya, untuk menyedot UKT mahasiswanya. Tak ada yang bisa menjamin kualitas lulusannya.
Akhirnya, sekarang seperti tak ada kampus yang benar-benar mewarisi keilmuan di bidangnya. Kampus mana yang jago di bidang sosial, mana yang banyak melahirkan pemikir pendidikan, mana pusat ilmuan saintek. Tidak ada. Semua mencair, bahkan seakan mengejar di bidang saintek saja.
Nah, demikianlah yang saya takutkan terjadi di Bangkalan Madura. Takut pembukaan prodi di kampus hanya untuk menyedot UKT mahasiswa. Seperti kata saya, akhirnya tidak ada kampus di Bangkalan Madura yang memiliki identitas unik. Misalnya nih ya, mana kampus yang paling kuat di bidang tafsir, mana yang Filsafat dan Aqidah, mana yang Ekonomi Syariah mana yang Pendidikan. Semuanya datar-datar saja kelasnya.
Bayangkan kalau mereka punya fokus berbeda-beda, saya percaya pasti mudahlah disorot dunia. Ini lho di Madura pusatnya ilmuwan muslim! Asekkk.
Ya, cukup sudah. Artikel ini hanyalah keresahan saya sebagai warga yang mencintai kabupaten ini. Tentu saja, saya tak berharap kampus-kampus di Bangkalan Madura itu meluluskan pengangguran saja. Maka dari itu, saya harap harus betul-betul ada alasan yang bijak saat kampus di kabupaten ini berniat membuka prodi baru. Takutnya, harapannya hanya halu!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













