Kuliner Jakarta di bawah ini nggak cocok dengan lidah saya yang telanjur terbiasa dengan makanan Semarang dan Jogja.
Sebagai orang yang lama menetap di Semarang dan Jogja, selera saya sudah kadung akrab dengan dua rasa. Kalau bukan gurih mantap ala Semarang, ya manis legit khas Jogja. Kombinasi kuliner dua kota itu sukses mengunci standar kenyamanan lambung saya.
Meskipun begitu, saya sebenarnya tipe orang yang hobi jalan-jalan dan selalu bersemangat tiap kali harus mengeksplorasi kuliner lokal. Itu mengapa, saat ada kesempatan ke Jakarta, agenda berburu kuliner khas ibu kota langsung masuk prioritas. Sialnya, setelah menjajal beberapa kuliner ikonik Jakarta, lidah saya malah mendadak mogok dan merindukan rumah.
#1 Soto Betawi, kuliner Jakarta yang jadi mimpi buruk bagi saya
Sebagai pencinta soto kuah bening yang jadi standar kenikmatan di Semarang, pertemuan pertama saya dengan soto Betawi benar-benar di luar ekspektasi. Karakternya jauh sekali dibanding soto yang selama ini saya kenal. Kuahnya super kental karena pakai susu.
Masalahnya, saya memang nggak bisa mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung susu hewani. Aroma susunya yang dominan malah bikin perut saya mual seketika. Lidah saya yang sudah terbiasa dengan racikan rempah ringan khas Jawa Tengah dan Jogja pun mendadak kaget.
Bukannya dimanjakan oleh gurihnya soto Betawi, saya malah merasa sedang berduel dengan sensasi creamy yang terlalu agresif buat selera saya. Namun, saya akui ini memang murni kesalahan saya. Pasalnya, sebelum nekat pesan, saya memang nggak mencari tahu dulu bagaimana soto ini dibuat.
#2 Tekstur kuliner Jakarta yang legendaris, kerak telor, terasa absurd di lidah saya
Banyak orang bilang kerak telor adalah mahakarya yang wajib dicoba saat ke Jakarta. Tapi bagi saya, jajanan ini adalah sebuah petaka. Masalah utamanya adalah tekstur. Perpaduan antara beras ketan yang setengah matang, telur bebek, dan serundeng kelapa yang sangat kering menciptakan sensasi pasir yang kasar di mulut.
Di lidah saya, panganan populer ini adalah perpaduan aneh antara lembek dan gosong. Lagi-lagi, ini salah saya sendiri lantaran kurang investigasi. Dalam benak saya, kerak telor itu tadinya bakal creamy atau lembut layaknya telur dadar. Sayangnya, saya justru mendapat sensasi seret yang memaksa saya menyerah di suapan ke tiga.
#3 Semur jengkol, aromanya bikin nggak berselera
Sebagai pecinta petai garis keras, awalnya saya cukup percaya diri buat menjajal jengkol. Toh, keduanya sering senasib karena sama-sama didiskriminasi karena aromanya. Namun, ternyata, semur jengkol khas Betawi benar-benar di luar level yang bisa saya bayangkan.
Saat baru disajikan saja, aroma semur jengkol ala Jakarta mirip belerang menyapa hidung saya. Begitu disantap, ada sensasi rasa tanah yang menguasai rongga mulut. Entahlah, mungkin rasanya bakal lebih manusiawi kalau jengkolnya diolah pakai bumbu balado yang bisa menyamarkan bau yang seharusnya nggak ada di makanan itu.
#4 Kue rangi cuma enak dipandang
Melihat abang-abang penjual kue rangi memang punya daya tarik nostalgia yang kuat. Penampakannya yang unik dengan cara masak tradisional bikin mata langsung terpikat. Apalagi, bayangan saya sempat terkecoh dan mengira ini bakal mirip kue putu yang putih. Berselimut kelapa dan lumer di mulut dengan lelehan gula merah.
Akan tetapi, begitu gigitan pertama mendarat, saya langsung sadar kalau ekspektasi itu salah alamat. Teksturnya ternyata cukup keras dan alot. Jauh sekali dari gambaran kue putu yang empuk dan ramah di mulut.
Apesnya lagi, karena saya sekarang sedang pakai kawat gigi, memaksakan diri melahap kue rangi ini rasanya sama saja dengan menyiksa diri sendiri. Alhasil, niat nostalgia malah berujung boncos lantaran bracket behel saya ada yang terlepas demi menaklukan kue rangi.
Tentu, ini bukan berarti kuliner Jakarta itu buruk. Hanya saja, lidah saya sepertinya punya “genre” yang berbeda. Jakarta mungkin punya segalanya. Mulai dari yang melegenda sampai yang viral. Namun, sekali lagi, untuk urusan kebahagiaan di meja makan itu urusan personal.
Saya rasa, mungkin ada waktunya untuk lebih baik sekadar mengenal tanpa harus dipaksakan untuk saling jatuh cinta. Begitu pula soal makanan.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













