Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Derita Mahasiswa Asal Madura yang Serius Kuliah di Surabaya, Terjebak Stereotipe dan Kerap Jadi Sasaran Dark Jokes

Abdur Rohman oleh Abdur Rohman
4 Mei 2026
A A
Derita Mahasiswa Asal Madura yang Serius Kuliah di Surabaya, Terjebak Stereotipe dan Kerap Jadi Sasaran Dark Jokes Mojok.co

Derita Mahasiswa Asal Madura yang Serius Kuliah di Surabaya, Terjebak Stereotipe dan Kerap Jadi Sasaran Dark Jokes (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Berbaurnya orang Madura di Surabaya bukanlah fenomena biasa yang tak meninggalkan apa-apa. Surabaya sebagai kota besar dan Madura yang empat kabupatennya termasuk paling tertinggal di Jawa Timur seakan menjadi pertemuan dua dunia yang berbeda. Mereka punya banyak sekali hal yang saling berseberangan, budayanya, bahasanya, pendidikannya, kondisi masyarakatnya, dan lain sebagainya.

Seharusnya hal ini menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan, sebab kita hidup dalam keberagaman. Sayangnya, kelakuan oknum orang Madura yang mencemari tanahnya sendiri malah bikin semua orang Madura terkena stereotipe buruk di Surabaya. Sekali lagi, yang saya sebut adalah oknum, bukan semua.

Ya tapi, meskipun oknum, keberadaan mereka ini benar-benar meresahkan seluruh warga Pulau Garam, dan terutama mahasiswa. Karena sudah mendapat stigma buruk, sepanjang kuliah kita seperti tumbuh dengan penuh ketakutan di kampus. Sebab, mereka sudah tidak mau mengenal kita.

Baca juga Bangkalan Madura dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia.

Kemampuan mahasiswa Madura di Surabaya sering dianggap di bawah rata-rata

Saat bertemu mahasiswa asal Madura, mahasiswa lain di Surabaya kerap langsung melihat bahwa kemampuan orang Madura itu di bawah rata-rata. Saya alami sendiri stereotipe ini saat menjadi mahasiswa. Akibat pandangan buruk itu, saya pun menjadi ciut setiap kali di kelas. Saya seakan percaya kalau kemampuan saya memang di bawah mereka.

Akan tetapi, setelah beberapa kali ikut kelas, saya mulai menyadari bahwa kemampuan saya tak jauh dari teman-teman saya. Mungkin pula saya di atas mereka. Hehehe.

Bukannya sombong tapi ini benar saya rasakan sendiri. Dari mana saya merasakannya, ya dari kemampuan teman sekelas saya dalam membaca teori karena saya di prodi Sosiologi. Jujur, cukup banyak dari mereka yang teorinya ngasal dan analisisnya nggak nyambung sama fenomena sosial. Kaya saya mikir, ini mereka baca buku nggak sih.

Ya, karena waktu itu saya punya stereotipe mahasiswa di bawah rata-rata, saya hanya ketawa dalam hati mendengar ngalor-ngidul itu.

Baca Juga:

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat

Surabaya Belum Setara Jakarta: Cukup 2 Alasan Kenapa Kota Terbesar Kedua Ini Belum Siap Jadi Venue Konser Kpop

Dianggap cara bicaranya meledak-ledak

Stereotip kedua yang juga sering dianggap karakter orang Madura yakni ngomongnya meledak-ledak. Saya pastikan bahwa kesimpulan ini terlalu cepat, sebab sejauh saya mengenal teman-teman mahasiswa yang seasal dengan saya, malahan lebih banyak yang lemah lembut.

Sebagai bukti, di kampus saya, yakni di Unesa, mahasiswa Madura tak sedikit yang punya prestasi mulai dari duta kampus hingga jadi mahasiswa berprestasi. Tentu, prestasi demikian membutuhkan kecakapan komunikasi yang baik dan menarik.

Ya, mungkin ada satu dua yang meledak-ledak, tapi bukankah dari daerah lain juga seperti itu. Saya sendiri pun, kalau bicara juga meledak-ledak. Faktornya? Bukan karena saya Madura, tapi karena melihat kekacauan negara kita. Kalian yang dari luar Madura juga pengen meledak juga kan kalau mendengar berita harian pejabat bangsa ini.

Baca juga Alasan Mengapa Satria FU Masih Digandrungi ABG di Madura, Membuat Pria Lebih Tampan dan Bikin Langgeng dalam Pacaran.

Tiap ada motor hilang jadi sasaran guyonan

Saya tak menampik dengan maraknya kasus curanmor di kabupaten saya, yakni Bangkalan Madura. Tiap minggu sepertinya kabar tentang kasus kehilangan kendaraan bermotor tidak pernah absen. Disini, tentu saja saya tak menyalahkan tanah asal saya, Madura. Wong tanah yang kita pijak ini semua sama, sama-sama dari dan milik Allah. Hehehe.

Yah sayangnya, akibat fenomena di tempat tinggal saya tersebut, masyarakat luar Madura akhirnya menciptakan stereotipe pada semua yang berdarah Madura. Misal, saat ada motor hilang, langsunglah saya kena lirikan dan pertanyaan. Ya, meskipun kadang niatnya guyonan, saya tetap menyambut dengan sedikit senyuman, tentu itu tetap agak menyakitkan.

Orang Madura yang kuliah hanya priyayi, dan hartanya dari jualan besi

Stereotipe terakhir ini cukup menyakitkan bagi orang Madura, tapi bagi orang luar mungkin dianggap biasa. Jadi, karena ekonomi masyarakat Madura itu memang di bawah rata-rata, maka orang kerap menganggap yang bisa kuliah itu berarti bukan orang biasa, tapi orang kaya dari Madura. Entah, pikiran kolot siapa itu, kok bisa menyimpulkan secepat itu. Apakah dia ini tak pernah mendengar konsep beasiswa? Haduh.

Belum lagi, penyimpulan secara mandiri ini tidak berhenti disitu saja. Kadang pula, sampai ke arah dari manakah hartanya. Dan tentu saja, pertanyaan demikian akan menjurus ke pekerjaan haram yang dilekatkan pada orang Pulau Garam, mulai dari agen tukang parkir liar, juragan rokok ilegal, hingga pengepul besi hasil curian. Huh, sungguh malang nasib mahasiswa Madura.

Sudahlah, mungkin cukup sekian kisah pengalaman mahasiswa Madura ini. Cerita ini bukan 100% dialami saya ya, tapi juga berdasarkan cerita teman-teman saya yang juga kuliah di Surabaya. Ya, saya harap kita bisa menciptakan dunia yang lebih baik bagi siapa saja, terutama menghapus stereotipe yang mengeksklusi salah satu dari kita. Terima kasih.

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2026 oleh

Tags: maduraMahasiswamahasiswa madurastereotipeSurabaya
Abdur Rohman

Abdur Rohman

Seorang warga sipil Bangkalan dengan selera yang kontradiktif: mencintai segala jenis olahan mie, namun memiliki alergi akut terhadap mie-literisme.

ArtikelTerkait

Jangan Cuma Tergiur Judul Keren, Ini Bocoran Dosen biar Tema Skripsi Cepat Diterima

Jangan Cuma Tergiur Judul Keren, Ini Bocoran Dosen biar Tema Skripsi Cepat Diterima

4 Oktober 2025
Meluruskan Stereotipe Terkait Perempuan Sunda yang Katanya Matre, Gemar Dandan, hingga Malas Masak

Meluruskan Stereotipe Terkait Perempuan Sunda yang Katanya Matre, Gemar Dandan, hingga Malas Masak

22 Agustus 2023
3 Alasan Kenapa Mahasiswa Jauh Lebih Pantas dan Harus Dikasih THR daripada Anak-anak

3 Alasan Kenapa Mahasiswa Jauh Lebih Pantas dan Harus Dikasih THR daripada Anak-anak

30 Maret 2025
Selalu Diajar Dosen Nggak Becus, Sekalinya Ketemu Dosen Baik Dikit Jadi Dianggap Hebat, padahal Itu Bare Minimum Mojok.co

Selalu Diajar Dosen Nggak Becus, Sekalinya Ketemu Dosen Baik Dikit Jadi Dianggap Hebat, padahal Itu Bare Minimum

26 Agustus 2025
Sidoarjo Nggak Menarik buat Anak Muda Surabaya (Unsplash)

Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten yang Perlu Banyak Berbenah

25 Juli 2024
3 Persiapan Penting Sebelum Plesir ke Madura, Jangan Asal supaya Tidak Menyesal Mojok.co

3 Persiapan Penting Sebelum Plesir ke Madura, Jangan Asal supaya Tidak Menyesal

21 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana Sastra Inggris Percuma Kuliah, Kursus Aja Udah Cukup (Unsplash)

Meski Dianggap Jurusan yang Tidak Relevan dengan Industri, Saya Malah Bangga Masuk Jurusan Sastra Inggris

4 Mei 2026
Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang Mojok.co

Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang

28 April 2026
Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok Mojok.co semarang

4 Hal yang Lumrah di Bandung tapi Tampak Aneh di Mata Orang Semarang

30 April 2026
Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan Mojok.co

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

28 April 2026
Derita Mahasiswa Asal Madura yang Serius Kuliah di Surabaya, Terjebak Stereotipe dan Kerap Jadi Sasaran Dark Jokes Mojok.co

Derita Mahasiswa Asal Madura yang Serius Kuliah di Surabaya, Terjebak Stereotipe dan Kerap Jadi Sasaran Dark Jokes

4 Mei 2026
Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali! sumenep, pamekasan

Menerka Alasan Bangkalan akan Terus Berada di Bawah Sumenep dan Pamekasan, padahal Kawasannya Masuk Kota Metropolitan

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja
  • Anak Betah Jadi Mahasiswa Abadi karena Sibuk Organisasi dan Ogah Garap Skripsi, Ortu di Rumah Pura-pura Memahami padahal Terbebani
  • Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik
  • Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung “Tersesat” karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa
  • Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental
  • Ancaman “Indomi” bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.