Banyak yang bilang bahwa mahasiswa Sosiologi adalah mahasiswa yang tak bernasib baik. Prodinya disebut hanya sebagai pelengkap FISIP, prospek lulusannya pun tidak jelas mau jadi apa. Ah, tapi bagi saya, ada yang lebih memprihatinkan daripada mahasiswa Sosiologi, yakni mahasiswa jurusan Pendidikan Informatika.
Dulu, saya adalah anak SMK dengan jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Bahkan, saya jadi lulusan terbaik (hehehe). Tapi kini, saya bersyukur memilih banting setir ke S1 Sosiologi daripada mengambil S1 Pendidikan Informatika seperti kebanyakan teman saya. Sebab, kalau saya lihat alumni prodi ini sekarang, aduh agaknya nasibnya lebih memilukan daripada saya.
Mendapat gelar S1 Pendidikan Informatika tidak mudah
Saya mengakui kalau Pendidikan Informatika itu sulit. Opini saya ini berdasarkan pengalaman saya saat SMK dulu. Informatika itu susahnya minta ampun. Maka dari itu saya banting setir. Belum lagi, selain harus ngerti informatika, prodi ini juga menuntut kita paham tentang dunia pendidikan. Hmm, belajar sendiri aja sulit, malah diminta buat ngajarin ke orang lain. Bener kan?
Kemudian, saat mengerjakan tugas akhir pun mahasiswa Pendidikan Informatika banyak yang akhirnya kewalahan. Sebab, karya mereka bukan hanya teori, atau mendeskripsikan sesuatu saja, tapi lebih dari itu. Mereka harus paham teorinya dulu, bikin projek teknologi yang cocok buat siswa, abis itu dicoba diterapkan. Belum lagi, kadang mereka juga punya kendala terkait biaya untuk menyelesaikan program/projeknya.
Yah, maka dari itu, sulit saya temukan mahasiswa S1 Pendidikan Informatika lulus cepat. Skripsinya bikin kumat!
Guru Informatika dikira cuma ngajar ngetik
Selanjutnya, setelah mengalami sulitnya kuliah, mahasiswa S1 Pendidikan Informatika tidak otomatis hidupnya akan mudah, malah sebaliknya. Misalnya, saat ingin menjadi guru informatika, hampir setiap jenjang sekolah akan susah untuk menerima mereka. Misalnya kalau melamar ke SMK TKJ, tentunya mereka akan sulit bersaing sama guru sepuh yang sudah berpengalaman. Apalagi kalau saingannya sudah bersertifikasi atau PNS. Nggak gampang, gaes!
Kemudian, katakanlah kalian mau ngajar di SMA, SMP, atau SD. Jangan ke-PD-an akan diterima. Di Indonesia itu, mata pelajaran informatika cuma identik sama pelajaran ngetik. Jadi, tak perlu susah-susah cari lulusan S1 Pendidikan Informatika. Semua orang, yang penting bisa menggunakan laptop/komputer, sudah dianggap bisa mengajar siswa mapel informatika. Di sekolah saya saja, yang ngajar mapel ini lulusan Pendidikan Matematika. Hehehe.
Yah, kasihan sekali mahasiswa S1 Pendidikan Informatika ini, kuliah susah-susah eh ilmunya dikira cuma ngetik doang!
Mau cari kerjaan lain kalah sama anak teknik
Jurusan S1 Pendidikan Informatika itu menurut saya serba nanggung. Mau jadi guru, mapelnya dianggap receh. Mau fokus ke informatika, saingannya ketemu anak-anak teknik. Jadi, saat mereka memilih tak ingin menjadi guru, prospek di luar malah bikin mereka harus belajar ekstra, sebab di luar sana banyak juga lulusan Informatika murni. Inilah yang banyak dialami oleh teman-teman saya.
Dulu, saat mendapat kabar diterima jurusan ini mereka bahagianya luar biasa. Tapi pas lulus, sulit sekali buat dapat kerja. Sebetulnya ada juga yang awalnya berhasil menjadi guru, tapi tak sampai setahun malah mundur. Entah, saya kurang paham alasannya. Akhirnya, ya tetap menganggur sampai waktu yang tidak ditentukan.
Ya demikianlah, saya menulis artikel ini bukan berarti saya bahagia dengan kondisi mahasiswa S1 Pendidikan Informatika. Sebaliknya, saya merasa iba dengan kondisi mereka. Saya juga akui, kondisi ini nggak dirasakan oleh jurusan ini saja kok, pasti jurusan lain juga punya suka dukanya. Kalau mau merenung lebih dalam, ya problem ini mudah kita temukan akarnya kok, yakni regulasi arah pendidikan negara kita yang belum jelas mau ke mana!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jangan Ambil Jurusan Teknik Informatika Hanya karena Mahir Komputer dan Jago Game
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.







