Suatu hari di kelas, dosen saya bercerita dengan mata berbinar. Ada kakak tingkat yang tulisannya berhasil tembus jurnal SINTA. Kami disuruh bertepuk tangan. Saya ikut tepuk tangan, tentu saja. Tapi dalam hati saya bertanya: yang sedang dirayakan ini tulisannya, atau nomor indeksnya?
Pertanyaan itu muncul karena sepanjang cerita, tidak sekalipun beliau menyebut isi tulisannya. Tidak ada kalimat “temuannya menarik lho” atau “ini bisa dipakai buat dakwah di media sosial”. Yang disebut hanya satu hal: tembus. Seolah-olah ilmu itu baru sah kalau sudah punya nomor.
Ketika ilmu diukur pakai meteran: segala perkara tentang jurnal
Saya mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam. Ilmu yang kami pelajari sebenarnya praktis sekali: bagaimana pesan agama dikemas di era konten pendek, bagaimana masjid kampung bisa melek media, bagaimana dakwah tidak berhenti jadi ceramah satu arah. Riset semacam ini semestinya berguna bagi orang di luar kampus.
Tapi ukuran keberhasilan yang diajarkan pelan-pelan bergeser. Bukan lagi “apa yang berubah karena penelitianmu”, melainkan “terbit di mana”. Jurnal terindeks jadi mata uang. Dosen butuh untuk kenaikan jabatan dan laporan kinerja, program studi butuh untuk akreditasi, kampus butuh untuk peringkat. Mahasiswa akhirnya ikut diseret jadi pemasok angka.
“Nanti cantumin nama saya ya”
Lalu tibalah bagian yang membuat saya merasa miris. Ada dosen yang mendorong mahasiswanya meneliti dan menerbitkan di jurnal, dan pesannya kurang lebih begini: “Nanti cantumin nama saya ya, sebagai dosen pembimbing.” Diucapkan ringan, seperti titip beli gorengan.
Saya perlu adil di sini. Dosen pembimbing yang benar-benar ikut membentuk gagasan, mengoreksi metode, dan menyunting naskah tentu layak menjadi penulis bersama. Itu wajar, itu terhormat. Yang janggal adalah ketika kontribusinya nol, tapi namanya harus ada di jurnal. Dunia akademik punya istilah untuk ini: honorary authorship, atau kepenulisan kehormatan. Kehormatan yang tidak dikerjakan siapa-siapa selain mahasiswanya.
Yang bikin makin getir, mahasiswa nyaris tidak punya daya tawar. Nilai, tanda tangan, dan restu sidang ada di tangan orang yang sama.
Jalan tol uang di balik jurnal ilmiah
Sekarang coba lihat aliran duitnya. Mahasiswa meneliti dengan waktu, tenaga, kuota, dan bensin untuk wawancara. Kampus membiayai dosen, yang sebagian besar uangnya berasal dari UKT dan anggaran negara. Naskah dikirim ke jurnal, lalu dinilai para reviewer yang umumnya bekerja tanpa bayaran. Setelah itu, di banyak jurnal, penulis atau kampusnya diminta membayar biaya pemrosesan agar naskah terbit.
Di level internasional lebih ekstrem lagi. Ada penerbit besar yang mendapat naskah gratis, penilaian gratis, lalu menjual akses hasilnya kembali ke kampus lewat langganan. Konon margin keuntungan mereka termasuk yang paling gemuk di industri penerbitan. Peneliti yang menghasilkan pengetahuan, sementara penerbit yang menghasilkan keuntungan. Penulisnya? Ya itu tadi, kebagian hikmahnya saja.
Jadi, kalau dirangkum: ilmu dibuat pakai uang publik, dinilai pakai tenaga sukarela, diterbitkan pakai uang penulis, dan dibaca pakai uang langganan. Di rantai sepanjang itu, hanya satu pihak yang tidak pernah rugi.
Sentilan yang adil
Supaya tidak dikira sekadar marah-marah, saya akui: tidak semua jurnal seburuk itu. Penyuntingan dan penilaian yang baik memang butuh biaya. Sistem akreditasi jurnal nasional juga niatnya mulia, yakni merapikan kualitas terbitan dalam negeri. Banyak dosen yang saya kenal juga tulus membimbing dan tidak pernah minta nama sebagai imbalan.
Masalahnya bukan pada jurnalnya, melainkan pada apa yang terjadi ketika publikasi berubah dari alat menjadi tujuan. Ketika itu terjadi, muncul jurnal abal-abal, jasa joki artikel, dan tulisan yang dibuat supaya terbit, bukan supaya dibaca. Alternatifnya sebenarnya ada, misalnya jurnal akses terbuka yang tidak memungut biaya penulis dan repositori preprint. Sayangnya, alternatif semacam itu jarang jadi bahan pamer di kelas.
Penutup: semoga ada yang membaca
Saya tidak sedang mengajak siapa pun untuk jadi anti-jurnal. Saya hanya ingin bertanya, dengan sopan dan sedikit getir: kalau tulisan ilmiah dibuat untuk dibaca manusia, kenapa pembaca paling setianya justru sistem penilaian angka?
Kalau suatu hari tulisan saya terbit di jurnal, saya berharap itu karena ada orang yang membutuhkannya, bukan karena ada laporan kinerja yang butuh diisi. Dan kalau dosen saya kebetulan membaca artikel ini, saya cuma mau bilang: Pak/Bu, nama Anda boleh saya cantumkan. Asal Anda ikut membaca naskahnya dulu.
Penulis: Hanif Muhammad Fawwaz
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Pengalaman Publikasi Artikel di Jurnal Ilmiah: Ternyata Ada Sisi Gelapnya!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.