Banyak orang bilang, pergi ke Jogja ibarat kembali pulang. Tapi, jujur saja, perasaan itu sepertinya sudah lama kedaluwarsa di kepala saya. Saya memang kebetulan lahir di Jogja dan sempat menghabiskan tahun-tahun kuliah di sana. Namun, begitu masa studi kelar, saya lekas meninggalkan Kota Pelajar dan kembali jadi warga Semarang tulen.
Tentu bakal ada yang berpendapat bahwa wajar saja saya bosan karena lama tinggal di Jogja. Padahal, bukan itu poinnya. Toh, mitosnya Jogja terbuat dari rindu dan siapa saja bakal terus-menerus kangen untuk balik lagi. Meski saya punya banyak penggalan kisah dan ikatan batin yang cukup lekat, realitanya tetap sama. Buat saya pribadi, Jogja kini sudah menjelma jadi kota besar yang membosankan setengah mati untuk sekadar dikunjungi.
Jogja terus menjual kesederhanaan basi dengan harga premium
Jogja tampaknya kadung nyaman hidup dari sisa-sisa kejayaan masa lalu. Ia menjual narasi kesederhanaan murah hati untuk dibanderol dengan harga tinggi. Dulu, bersantai di tepi jalan adalah pelarian yang menenangkan. Sekarang, pengalaman itu dikemas ulang dalam bungkus estetik, kemudian disajikan dengan harga yang merontokkan isi dompet.
Coba tengok sekeliling. Konsep nongkrong santai atau sekadar menikmati kuliner rakyat telah bermutasi menjadi komoditas industri pariwisata yang masif. Berani bertaruh. Hari ini pelancong tak akan lagi menemukan keintiman kultural yang tulus.
Yang menyambut mereka justru lautan manusia di tempat-tempat yang dilahirkan algoritma. Keramahan lokal pun perlahan kehilangan keikhlasannya lantaran sadar betul ada nilai rupiah di setiap senyumnya. Singkatnya, kehangatan Jogja yang dulu personal kini telah menyusut menjadi relasi yang sepenuhnya transaksional.
Kemacetan jalan di Jogja yang bikin darah tinggi
Percayalah, keliling Jogja menikmati angin sore sekarang tinggal dongeng pengantar tidur belaka. Realitasnya, jalanan Jogja hari ini sudah berubah wujud jadi sirkuit kemacetan yang paling ampuh buat jadi bahan bakar emosi. Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru menuding para pelancong luar kota sebagai biang keroknya.
Usut punya usut, lautan kendaraan berpelat luar daerah itu juga hasil sumbangan dari barisan mahasiswa pendatang. Kalau sudah begitu keadaannya, Jogja praktis kehilangan keunikannya. Tak ada bedanya lagi dengan kota-kota besar lain di Indonesia yang sumpek. Bahkan, yang bukan menyandang status kota wisata.
Semua elemen kota yang dipaksa Instagramable
Mau cari suasana baru di Jogja? Sayangnya, sudut-sudut kota ini sekarang justru berlomba-lomba terjebak dalam satu cetakan yang itu-itu saja. Mulai dari kedai kopi berkonsep minimalis atau industrial, pojok baca berkedok galeri seni, hingga tempat nongkrong yang menyuguhkan es kopi susu gula aren dengan rasa yang beda-beda tipis dan membosankan.
Bahkan, tempat wisatanya pun nyaris tak ada bedanya. Kebanyakan cuma mengekor tren. Kalau bukan mengandalkan mini zoo, ya dibanjiri spot foto bak Pinterest demi konten.
Padahal, Jogja punya modal yang luar biasa kaya. Selain bentang alamnya yang indah dari ujung gunung hingga tepi pantai, kota ini juga menyimpan warisan sejarah dan budaya yang pekat. Sialnya, semua keistimewaan itu kini seolah tenggelam dan tertutupi oleh menjamurnya destinasi musiman yang hidupnya hanya bergantung pada viral di media sosial.
Jogja cuma jadi wadah pengujian tren, keasliannya sudah menguap entah ke mana
Bukan rahasia lagi kalau Jogja sekarang udah berubah fungsi jadi semacam laboratorium mini buat segala macam tren instan. Di kalangan para pelaku usaha, ada semacam rumus tak tertulis. Kalau mau bikin bisnis, lihat dulu apa yang lagi booming di luar negeri. Cangking ke Jakarta buat ritus awal, lalu boyong ke Jogja buat uji coba.
Ramainya pendatang dengan segudang latar belakang membuat Jogja dianggap paling ideal buat dijadikan kelinci percobaan. Logikanya, kalau suatu tren bisa diterima dan sukses di Jogja, artinya produk itu sudah lulus uji dan siap diekspansi ke seluruh pelosok negeri. Yang menjamur bukan cuma konsep kafe yang itu-itu lagi. Tapi juga kuliner viral berumur jagung sampai gaya nongkrong masyarakatnya.
Gara-gara itu semua, orisinalitas Jogja seolah terkikis habis. Alhasil, kota sebesar dan selegendaris Jogja malah kehilangan jiwanya. Kota Istimewa sudah terjebak dalam lingkaran setan yang monoton dan berujung jadi kota besar yang menjemukan untuk disambangi.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jogja Itu Indah asalkan Kamu Nggak Keluar Rumah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













