Gaya Orang Pekalongan Menyantap Nasi Megono yang Tak Kalah Ribet dari Soto dan Sushi

Tidak hanya harus tersedia gorengan, sebagian orang Pekalongan akan lebih suka makan nasi megono yang ada sambal kecapnya.

Featured

Muhammad Arsyad

Saya sudah lama tak membuka Terminal Mojok, saat membukanya hanya ada beberapa tulisan yang dimuat. Saya cukup kaget karena nggak biasanya kanal ini sepi. Namun saat saya mengunjungi lagi, muncul tulisan-tulisan berbau kuliner.

Akan tetapi bukannya membahas kenikmatan dan kelezatan makanan, tapi mereka yang membahas kuliner justru memperdebatkan cara memakannya. Yang satu menanggapi soal makan soto yang nasinya dicampur atau tidak, satunya lagi menyinggung cara orang-orang makan sushi. Mosok makan aja perlu diatur, ribet banget.

Well, ternyata soal cara makan, warga Pekalongan juga punya keribetan tersendiri loh. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan megono. Yups, kalian pasti nggak tahu apa itu megono, tho? Karena makanan yang satu ini mustahil didapatkan kalau nggak di Pekalongan.

Megono adalah makanan khas Pekalongan yang dibuat dari gori (nangka muda) yang dipotong kecil-kecil, lebih tepatnya dipotong tak beraturan. Selain dari gori, dalam megono juga ada cabai dan kelapa yang membuat rasanya semakin yahuddd.

Bagi warga Pekalongan, megono biasanya dihidangkan dengan nasi yang masih kemebul. Yang kemudian akrab disebut nasi megono. Makanan inilah yang selalu menjadi favorit ketika berkunjung ke Pekalongan. Warga di Pekalongan sendiri kerap menyantap nasi megono untuk sarapan.

Namun, menyantap nasi megono tak sesimpel itu loh ternyata. Orang Pekalongan punya persyaratan-persyaratan tersendiri sebelum makan nasi megono. Saya termasuk orang yang nggak bisa makan nasi megono kalau persyaratannya tidak terpenuhi.

Salah satu prasyarat yang harus terpenuhi sebelum menyantap nasi megono adalah gorengan. Entah ini sudah mulai sejak kapan. Yang jelas sejak saya SD makan nasi megono harus ada gorengannya, mau itu tempe goreng, tahu goreng, bakwan. Semua bisa, asalkan jangan pisang goreng.

Saya punya pengalaman tentang ini. Suatu ketika saya dan kawan-kawan hendak makan siang, tentu lauknya satu di antaranya adalah megono. Karena saya dan teman-teman biasa makan nasi megono harus pakai gorengan, dan waktu itu gorengan belum matang, kami memutuskan untuk menunggu. Tapi ada satu teman saya yang akhirnya menyerah, dan menyantap nasi megono tanpa gorengan melainkan ditambah kerupuk. Dan setelah gorengannya matang, teman saya itu kecewa. Alhasil, dia makan pula gorengan. Itung-itung menebus yang tadi, katanya.

Kejadian serupa tak hanya menimpa saya dan kawan saya. Di sebuah tempat lain, ada seorang pembeli warung. Kebetulan itu adalah warung nasi megono. Si pembeli tadi sudah saya tebak, pasti akan menanyakan gorengannya. Sialnya, ternyata gorengannya sudah habis, nggak ada yang tersisa. Si pedagang belum menggorengnya lagi.

Apakah dia melanjutkan beli dan makan nasi megono? Tidak sama sekali. Dia malah pergi beralih ke warung lain yang mungkin lebih lengkap dari warung sebelumnya.

Tidak hanya soal gorengan, sebagian orang Pekalongan akan lebih suka makan nasi megono yang ada sambal kecapnya. Ini sangat repot kalau dibuat syarat, tapi untuk soal gaya-gayaan boleh saja sih. 

Kendati demikian, warung nasi megono pasti bakal sedia payung sebelum hujan. Mereka pasti sudah menyiapkan sambal kecap sebelum datangnya pembeli. Sepertinya sambal kecap ini memiliki daya magis tersendiri, karena nasi megono sambel kecap memang enak tenan, aseli!

Paling menyebalkan adalah ketika orang makan nasi megono dan sambal kecapnya banyak sekali. Saya pikir, nih orang menumpahkan satu mangkok sambel kecap ke nasinya, atau gimana yah? Kelakuan semacam ini terkadang membikin pembeli lain nggak kebagian. Dan di dalam hatinya bisa saja menggerutu.

Almarhum kakek saya pernah bilang, makan nasi megono yang terbungkus daun pisang jauh lebih enak ketimbang yang bungkusnya kertas, atau dihidangkan pada piring. Saya sama sekali tidak mempercayai hal demikian. Karena mana mungkin?

Barangkali itu karena kebetulan orang yang memasak nasi megono itu memang masakannya enak. Jadi mau dibungkus daun pisang kek, dibungkus kertas, dibungkus plastik, semuanya jadi enak. Namun selang beberapa waktu berikutnya, saya kok berubah jadi sepakat dengan kakek saya.

Peristiwanya saat saya dibelikan nasi megono ibu saya dari dua penjual nasi megono langganan. Kedua penjual ini terkenal pandai memasak nasi megono, kalau tingkatan masterchef sih, bisa, asalkan masaknya cuman megono. Yang satu dibungkus kertas bungkus berwarna cokelat, satunya lagi dibungkus daun pisang.

Jingan. Emang nikmat betul makan nasi megono yang dibungkus daun pisang. Ini bukan alay atau gimana ya, tapi jujur, enak banget, kalian coba saja deh, sini main ke Pekalongan. Tak tahu apa sebabnya, ketika hal itu diulangi lagi hasilnya sama.

Penjual yang awalnya memakai kertas buat bungkus nasi megono tadi beralih ke daun pisang. Saya pun membelinya dan ajaibnya rasanya seperti berubah, seperti jauh lebih enak dan nikmat. Terkadang terkait bungkus nasi megono ini juga bisa mempengaruhi orang Pekalongan khususnya pilih-pilih dalam memakan megono.

Oleh karena itu pula, saya jadi menyimpulkan kalau nasi megono adalah kearifan lokal yang unik. Tidak hanya cita rasa yang lezatnya bukan main, tapi seluruh gaya dan intriknya juga patut dilestarikan. Pesan saya sih, andakata suatu saat kalian punya kesempatan datang ke Pekalongan dan ingin mencicipi nasi megono, datanglah pagi-pagi di Alun-Alun Pekalongan.

Jangan sampai kesiangan, karena kesiangan sedikit kalian bakalan kehabisan. Kalau mau malam, ya jangan malam-malam. Di alun-alun malam hari masih ada kok penjual nasi megono, tapi paling enak makan nasi megono malam-malam itu di angkringan. Eh, satu lagi, karena Pekalongan punya pantai, serius deh, cobain makan nasi megono di pinggir pantai. Tenang saja, ada penjualnya kok, murah lagi.

BACA JUGA Pengalaman Kuliner Sebagai Seorang Mahasiswa atau tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Baca Juga:  Bukan Kambing Guling, Makanan Khas Pesta Pernikahan di Lombok Justru Berbahan Batang Pisang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
8


Komentar

Comments are closed.