Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
3 Mei 2026
A A
Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota” Terminal Mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Ada sebuah seni dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Yaitu, lewat makanan. Betapa banyak kesepakatan besar, rekonsiliasi keluarga, hingga proyek bernilai miliaran rupiah yang semuanya berawal dari meja makan. Itulah mengapa, menjamu tamu dengan makanan terbaik adalah sebuah kewajiban moral yang tak bisa ditawar.

Saya yakin, siapapun tuan rumahnya, pasti merasa senang ketika melihat tamunya menyantap dengan lahap apa yang disajikan. Meski demikian, urusan jamu-menjamu ini jadi lain ceritanya kalau tamu yang datang berasal dari kampung. Entah kenapa kalau orang kampung sudah berhadapan dengan makanan, mereka kadang jadi ngeselin.

Sebelum salah paham, izinkan saya meluruskan terlebih dahulu. Saya pakai istilah ‘orang kampung’ dalam tulisan ini bukan untuk merendahkan, ya. Tentu saja tidak. Lha wong saya juga produk asli kampung, kok. Hanya saja, istilah ‘orang kampung’ ini saya pakai untuk menegaskan bahwa sosok yang sedang kita bicarakan adalah orang yang selama hidupnya tinggal di daerah pedesaan, lengkap dengan kekakuan seleranya.

Niat effort menyambut tetangga kampung berujung sakit hati

Saya jadi ingat. Pernah suatu kali, saya kedatangan saudara dari kampung. Namanya juga mau kedatangan tamu, otak saya langsung bekerja keras mikir soal suguhan. Kan kasihan ya kalau jauh-jauh datang cuma disuguhi angin. Akhirnya, saya belilah camilan-camilan yang menurut saya enak. Soal makanan pun, saya masak dengan menu lengkap.

Akan tetapi, yang terjadi selanjutnya justru jauh dari ekspektasi. Apapun yang tersaji di atas meja, semua tidak pernah benar-benar lolos dari celaan mereka. Dibilang nggak enak, kemahalan, aneh, dan masih banyak lagi.

Itu baru soal cemilannya, ya. Soal masakan saya juga nggak luput dari komentar mereka. Alhasil, masakan saya cuma dimakan seiprit doang. Padahalkan saya masaknya dengan full effort. Kejar-kejaran dengan jam masuk kerja pula.

Jujur, saat itu saya mikirnya, mungkin mereka sudah kenyang makan cemilan. Atau, mungkin juga masakan saya terasa nggak enak di lidah mereka. Itu sebabnya, saya bertekad lain waktu mereka main ke rumah, mau tak bawa makan di luar saja.

Makan di luar pun masih dikomen

Lucunya, di lain waktu, saat mereka saya ajak makan di luar, mereka masih saja berkomentar soal makanan yang disuguhkan.

Baca Juga:

4 kesalahan pembeli saat menyantap cuanki yang membuat rasanya kurang nikmat 

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto makanan hasil AI hingga pembeli merasa tertipu

“Sambel apa ini? Enakan sambel buatanku.”

“Kuah kok rasanya ora ngalor ora ngidul!”

“Njukut batine kakean. Tehnya bening!”

Ya, Tuhan. Mereka itu kenapa, sih? Kenapa mereka sering banget mencela makanan? Dan nggak cuma diucapkan, ya. Kadang juga disertai gesture, seperti bergidik, mengernyitkan dahi hingga melepeh.

Maksud saya, bisa nggak sih tinggal duduk dan makan saja tanpa mencela? Toh, mereka nggak perlu bayar. Ingin rasanya menyahut, tapi ya bagaimana? Mereka-mereka ini umurnya lebih tua. Rasanya kok nggak sopan kalau mau didebat.

Pilihan makanan orang kampung yang terbatas

Jujur, saya sering tidak habis pikir. Kenapa ya, orang kampung kalau urusan makan suka sekali mencela? Apakah mereka ini memang picky eater? Yang lidahnya sudah terkunci pada satu rasa saja? Atau jangan-jangan, ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri untuk melindungi ego dan gengsi mereka agar tidak terlihat ndeso di depan saudaranya yang sudah tinggal di kota?

Ah, saya jadi ingat pernah ada yang bikin utasan di Thread soal betapa repotnya punya teman yang berasal dari kampung. Diajak makan jejepangan nggak mau, korea-koreaan nggak mau, nasi padang nggak doyan, ini bau, itu nggak cocok. Repot banget pokoknya. Polos-polos-sombong-njelei gimanaaa gitu.

Namun, setelah saya pikirkan lagi, kebiasaan orang kampung mencela makanan ini bisa jadi bukan suatu kesengajaan. Mereka tidak benar-benar bermaksud jadi orang yang menyebalkan, ataupun tidak menghargai tuan rumah. Bisa jadi, ini reflek yang terjadi sebagai dampak dari keterbatasan ekonomi yang mereka alami. Keterbatasan ekonomi yang akhirnya membuat mereka tak punya banyak pilihan rasa.

Mencela makanan itu tidak dibenarkan

Bagi orang kampung, rasa yang benar hanyalah rasa yang sudah akrab di lidah sejak kecil. Misal sayur, ya, mentok di sayur asem, sayur sop, sayur bayam, hingga sayur bening. Mereka tidak familiar dengan tom yum, steamboat, ramen, steak, dan banyak jenis makanan lain. Jangankan steak, sesederhana ada kangkung dimasak bareng dengan udang, bakso ikan, dan telur puyuh pun, mereka bakalan nyacat:

“Kangkung kok dicampur macem-macem!”

Lha gimana? Merka biasa makan oseng kangkung ya kangkung doang. Mentok-mentoknya paling ditambah potongan tempe. Di luar itu, semuanya dianggap aneh, salah, atau tidak layak yang kemudian memicu penolakan.Penolakan itu kemudian meluncur jadi bahasa lisan berupa celaan.

Padahal, kalau mau bicara soal etika, kita pasti sepakat kalau mencela makanan itu tidak dibenarkan. Kalau toh memang ada penolakan, ya, tidak harus sampai dicela. Makanan yang nggak salah kok dicela? Ini sih manusianya saja yang kurang memiliki empati. Sudahlah kurang empati, mulutnya lebih cepat daripada otak pula. Sehingga, semua dinilai hanya dari apa yang dikecap oleh lidah. Sementara ketulusan tuan rumah? Sama sekali tidak sampai ke hati mereka.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pengalaman Orang Desa Asli yang Mengunjungi Desa Wisata.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Mei 2026 oleh

Tags: kampungkotaKulinerMakananorang kampungpickypicky eater
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Betapa Sedapnya Olahan Keong Sawah, Ulat Sagu, dan Kodok terminal mojok.co

Betapa Sedapnya Olahan Keong Sawah, Ulat Sagu, dan Kodok

5 Januari 2021
Gudeg Kaleng: Oleh-oleh Jogja yang Enak, tapi Punya Banyak Kekurangan  Mojok.co

Gudeg Kaleng: Oleh-oleh Jogja yang Enak, tapi Punya Banyak Kekurangan 

3 Agustus 2024
10 Rekomendasi Makanan Siap Santap di Superindo

10 Rekomendasi Makanan Siap Santap di Superindo

17 Oktober 2023
5 Rekomendasi Menu Warteg Populer buat Vegetarian Terminal Mojok

3 Makanan Red Flag dan Sebaiknya Dihindari di Warteg karena Nggak Dijaga Kebersihannya

3 Juli 2023
facebook ngawi ngawinan mojok

Dear Facebook, Plis Banget Taruh Ngawi pada Provinsi yang Sebenarnya. Masak Ngawi di Jawa Tengah?

12 September 2021
perdunu pesugihan dewandaru dukun pemilu pesugihan tulungagung mojok.co

Di Mana Ada Warung Makan Ramai, di Situ Ada Isu Pesugihan

20 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

11 Agustus 2026
Pengalaman berkendara di Jombang membuat saya merasa kalau jalan di Lamongan tidak buruk-buruk amat

Pengalaman berkendara di Jombang membuat saya merasa kalau jalan di Lamongan tidak buruk-buruk amat

12 Agustus 2026
Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak Mojok.co

Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak

13 Agustus 2026
Mahasiswa Pendidikan Informatika adalah mahasiswa paling patut dikasihani karena hidupnya sudah susah sejak dini

Mahasiswa Pendidikan Informatika adalah mahasiswa paling patut dikasihani karena hidupnya sudah susah sejak dini

14 Agustus 2026
5 Kuliner Madura selain Sate yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Jangan cuma mengingat stereotip negatifnya, nyatanya orang Madura itu jago banget masak

10 Agustus 2026
Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit

Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit

11 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.