Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Mengapresiasi Ayam Geprek Sebagai Kuliner Khas Sejajar dengan Gudeg Jogja

Supriyadi oleh Supriyadi
26 Januari 2026
A A
Ayam Geprek Sejajar dengan Gudeg Jogja Menjadi Kuliner Khas (Wikimedia Commons)

Ayam Geprek Sejajar dengan Gudeg Jogja Menjadi Kuliner Khas (Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Gudeg Jogja memang mewakili daerah di mana ia besar: sabar dan halus tutur katanya. Tapi, ternyata, kota ini mampu melahirkan makanan pedas yang bahkan sekarang menjadi kuliner Jogja yang khas, yaitu ayam geprek.

Bahkan pedasnya bukan pedas yang “sopan”. Ia bisa membuatmu bercucuran keringat, hidung meler, dan lidah jadi kebas seperti kena hukuman dari dosa masa lalu. Pedasnya nendang, nggak kayak kuliner khas Jogja, tergantung seberapa tinggi level kepedasan yang kamu mampu.

Baca juga 4 Rekomendasi Ayam Geprek Jogja dengan Rasa Sambal Paling “Nendang”

Menjadi khas karena ayam geprek menjadi pengalaman kolektif seperti gudeg Jogja

Ayam geprek bukan sekadar makanan. Ia pengalaman kolektif. Terutama bagi mahasiswa. 

Hampir setiap orang yang pernah hidup di Jogja, entah untuk kuliah, merantau, atau sekadar numpang tumbuh dewasa, pasti punya kenangan dengan ayam geprek. Oleh sebab itu, ia tumbuh dan menjadi ingatan bersama akan Kota Pelajar.

Di titik ini, muncul pertanyaan yang sering bikin orang gatal berdebat. Apakah aman menyebut ayam geprek sejajar dengan kuliner khas seperti gudeg Jogja?

Pertanyaan ini pasti melahirkan perdebatan. Banyak yang belum rela kalau dua kuliner ini sudah sejajar. Pasalnya, kalau memasak gudeg Jogja, kamu harus sangat sabar, prosesnya pelan, dan kuliner ini mengandung filosofi.

Gudeg Jogja adalah simbol. Ia tak hanya mengenyangkan perut, tapi juga membawa narasi sejarah, budaya, dan identitas. Maka, ia sudah menjadi tradisi. Sama seperti ayam geprek yang menjadi pengalaman kolektif.

Baca Juga:

4 kebiasaan warga Jogja yang biasanya menular ke pendatang

Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman

Sementara ayam geprek? Ia lahir dari dapur sempit, wajan kecil, dan cobek yang tertempa entakan demi hentakan dari ulekan yang bukan seperti sapaan rasa sayang. Tak ada kisah budaya, tak ada ritual adat. Yang ada cuma kebutuhan: lapar, uang pas-pasan, dan waktu yang mepet antara kelas dan tugas. Maka, ia lebih dekat ke dunia mahasiswa alih-alih keluhuran budaya seperti gudeg Jogja.

Ayam geprek itu yang pragmatis

Belum lama ini, Noor Annisa Falachul Firdausi pernah menulis di Terminal Mojok pada 10 Januari 2026 tentang ayam geprek. Dia bilang kalau ayam geprek lebih layak menjadi oleh-oleh khas ketimbang gudeg Jogja.

Kalian mau memperdebatkan pendapat Noor Annisa? Kalau saya, sih, mending menikmati daripada berdebat.

Jogja hari ini bukan hanya kota tradisi, tapi juga kota transit. Ia juga kota kos-kosan, menjadi rumah mahasiswa dan perantau. Setiap tahun, ribuan orang datang dengan latar belakang berbeda, membawa kebiasaan, selera, dan cara hidup masing-masing. Jogja menampung semuanya, termasuk selera makan.

Ayam geprek lahir dari realitas itu. Ia murah, cepat, fleksibel, dan kita bisa menyesuaikan dengan selera. Mau pedas level satu sampai level neraka? Bisa. Pakai keju, saus, atau topping aneh-aneh? Silakan. Ia tidak sakral, tapi pragmatis.

Mempertimbangkan itu semua, kita nggak perlu memperdebatkan gudeg Jogja. Keduanya lahir dari konteks yang berbeda. Gudeg Jogja tumbuh dari masyarakat agraris, kelimpahan nangka, dan waktu yang tidak tergesa. Geprek tumbuh dari ritme kota modern yang selalu cepat, dari mahasiswa yang hidup dengan jadwal padat dan dompet ekonomis.

Baca juga Melihat Persaingan Ayam Geprek Bu Rum dan Ayam Geprek Bu Made di Sleman dari Berbagai Sisi

Keduanya menjadi simbol budaya

Banyak yang menganggap berlebihan ketika ada yang bilang geprek sebagai kuliner khas. Katanya, ia belum punya akar tradisi panjang. 

Tapi kalau kita mau jujur, tidak semua yang “khas” harus tua. Tidak semua identitas harus berumur ratusan tahun. Ada identitas yang lahir dari kebiasaan, pengulangan, dan ingatan kolektif.

Bagi banyak orang, geprek sudah layak menyandang status kuliner khas. Ia tidak mengajarkan filosofi kesabaran seperti gudeg Jogja, tapi mengajarkan bertahan.

Dan bukankah itu juga nilai hidup?

Mungkin kita terlalu sering mengukur “khas” dengan ukuran masa lalu. Padahal, kebudayaan juga bergerak ke depan. Kalau suatu hari nanti, 50 tahun dari sekarang, orang mengenang masa mudanya di Jogja dengan menyebut ayam geprek, seperti kita hari ini menyebut gudeg, siapa yang berani bilang itu bukan bagian dari identitas?

Pada akhirnya, gudeg dan ayam geprek bukan soal mana yang lebih Jogja. Keduanya justru menunjukkan wajah kota yang sama. Yang satu penuh tradisi, yang lain penuh adaptasi.

Gudeg itu tradisi. Ayam geprek itu realitas. Dan Jogja, seperti biasa, punya ruang untuk keduanya.

Penulis: Supriyadi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Potensi Besar Gudeg Jogja Mati karena Branding Makanan Khas Jogja yang Cuma Dikenal Sebagai Makanan Serba Manis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Januari 2026 oleh

Tags: ayam geprekgudeggudeg jogjaJogjaKulinerkuliner khas jogjamakanan khas jogjarekomendasi kulinerrekomendasi kuliner jogja
Supriyadi

Supriyadi

Seorang yang lahir di Bantul bagian selatan, berdomisili di Bantul bagian utara, dan ber-KTP Cirebon.

ArtikelTerkait

4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

26 April 2026
Tinggal di Kos-kosan Adalah Kesempatan Mewah bagi Warga Asli Bantul seperti Saya Mojok.co

Tinggal di Kos-kosan Adalah Kesempatan Mewah bagi Warga Bantul seperti Saya

4 Januari 2025
Wonosobo Nggak Mungkin Ada Klitih, Geng Anak Muda Melempem dan Udara Malam Terlalu Dingin Mojok.co

Wonosobo Nggak Mungkin Ada Klitih, Geng Anak Muda Melempem dan Udara Malam Terlalu Dingin

22 April 2024
Sejarah Sunyi Karangmalang Sleman, Dusun yang Terlihat Semenjana, padahal Pencetak Sarjana Terbanyak di Indonesia gelar sarjana

Sejarah Sunyi Karangmalang Sleman, Dusun yang Terlihat Semenjana, padahal Pencetak Sarjana Terbanyak di Indonesia

12 April 2025
Alun-alun Kidul Jogja Penuh Pengemis dan Pengamen yang Kadang Agresif, Masalah yang Menggerogoti Pariwisata Jogja

Alun-alun Kidul Jogja Penuh Pengemis dan Pengamen yang Kadang Agresif, Masalah yang Menggerogoti Pariwisata Jogja

18 Agustus 2024
Kuliah di Jogja Bikin Mahasiswa Asli Blora Menyesal (Unsplash)

Mahasiswa Asli Blora Memilih Kuliah di Jogja tapi Akhirnya Menyesal karena Sulit Pulang Kampung

7 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Pangalengan Bandung yang Katanya Indah bak Surga Dunia

Label wisata elit Pangalengan itu bualan, selama transportasi umumnya masih jalan di tempat

28 Juli 2026
7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, bahkan oleh penutur aslinya Mojok.co

7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, bahkan oleh penutur aslinya

30 Juli 2026
Kecewa dengan kebiasaan dagel di Lembata NTT, memang bikin guyub, tapi amat membebani secara tenaga dan materi Mojok.co

Kecewa dengan kebiasaan dagel di Lembata NTT, memang bikin guyub, tapi amat membebani secara tenaga dan materi

27 Juli 2026
QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung

Membayangkan Indonesia masa kini tanpa QRIS, transaksi akan benar-benar ribet

29 Juli 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Setelah akad KPR rumah, saya baru sadar bahwa beli rumah bukannya jadi solusi, tapi justru jadi masalah baru

1 Agustus 2026
5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak cuma di situ-situ aja mojok

5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak di situ-situ aja

27 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.