Bangkitnya Komunitas Kuli Bangunan yang Lawan Stigma Lewat Shitposting – Terminal Mojok

Bangkitnya Komunitas Kuli Bangunan yang Lawan Stigma Lewat Shitposting

Artikel

Belakangan sedang santer di dunia maya tentang berbagai guyonan yang sejatinya ditujukan sebagai bentuk apresiasi terhadap komunitas kuli bangunan. Profesi yang sebagian besar mengandalkan kekuatan fisik ini, jadi perbincangan publik yang dikemas dalam bentuk meme yang diposting oleh akun shitpost Twitter maupun Instagram.

Bahkan di tongkrongan saya, pembahasan seputar kuli jadi hal yang menarik sebagai bahan intermezzo. Terutama kami, kelompok orang Jawa yang secara sadar bangga akan profesi yang melekat dengan identitas daerah asal kami.

Memang betul stigma profesi kuli bangunan sangat melekat dengan identitas orang Jawa. Sebagian besar orang yang pernah menggunakan jasa kuli bangunan untuk renovasi rumah pasti sadar bahasa yang kerap kali terdengar antar kuli adalah bahasa Jawa.

“Wis jam rolas ki mangan ro udud sek, yo, ben le ngecor ora semaput.”

Saya sebagai orang Jawa yang cukup tulen mengiyakan asumsi tersebut dan saya bangga! Wong Jowo paling ora kudu iso ngecet karo ngamplas dewe!

Tak bisa dipungkiri bahwa populasi orang Jawa di Indonesia memang tersebar di pelosok negeri. Mau cari dari yang sukses banget sampai yang masih berjuang pun ada. Ibarat Indonesia itu nasi goreng, orang Jawa itu ya nasinya.

Nah, dari sini saya ingin mencoba memahami lebih lanjut, kalau orang Jawa segitu banyaknya, kenapa identitas yang muncul lekat banget dengan profesi kuli bangunan?

Hal ini tentu tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonialisme zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Di mana almarhum yang pada saat itu menginisiasikan pembangunan jalan lintas Jawa yang sekarang kita kenal sebagai Jalan Raya Pantura. Saat itu banyak orang Jawa yang dipekerjakan secara paksa dan beberapa di antaranya di migrasi ke berbagai daerah di Indonesia. Dari sini asumsi saya tumbuh bahwa orang Jawa yang tertindas ini terpaksa melakukan pekerjaan kasar hingga jadi kebiasaan turun temurun.

Meskipun beberapa orang Jawa bisa sukses jadi Presiden Indonesia, tapi sebagian lagi ada juga yang seperti saya: ora kerjo ora mangan alias kerja apa aja yang penting bisa makan.

Orang Jawa itu tipikal pekerja keras yang lembut diiringi dengan jiwa mandiri. Alias kalau sudah merantau keluar kota kelahiran, biar pun hidup susah di rantau yang penting nggak nyusahin orang-orang di kampung. Mental ini yang dipercaya sama mas-mas kuli bangunan yang paling tidak pernah saya temui. Jadi sebagai orang Jawa kampung yang sudah dewasa, sangat wajar kalau punya keinginan kuat buat merantau dan hidup mandiri.

Salah satu akun Twitter dengan jargon foto header bertajuk “Bersama Kuli Membangun Negeri” yaitu @DuniaKuli jadi salah satu akun shitpost yang paling laris membahas seputar dunia per-kuli-an. Namun, yang patut diapresiasi adalah akun ini mampu menyiasati komunitas kuli dengan skala yang lebih masif.

Menurut saya, Dunia Kuli mampu mematahkan stigma negatif kuli yang dikemas melalui sebuah candaan dan komunitas. Dari beberapa tweet yang saya perhatikan, Dunia Kuli mampu mempertemukan berbagai macam profesi kuli dalam satu wadah yang epik. Akun Twitter Dunia Kuli sering kali membagikan curhatan kuli melalui DM Twitter yang saling menyemangati satu sama lain. Ada yang titip salam, ada yang berbagi tips, dan tentunya tidak lupa asupan meme garing yang bikin timeline warga Twitter ramai bak TB. Bangun Jaya.

Dan satu hal yang paling menarik menurut saya, ternyata banyak teman-teman kuli Indonesia yang bekerja hingga ke luar negeri. Mereka semua seakan bangga dan saling mendoakan sehat selalu dan semoga proyek bangunannya lekas selesai. Tidak sampai situ, gerakan titip salam ini banyak diikuti netizen yang ternyata tidak malu-malu ikut memposting foto sedang mengerjakan proyek kecil di rumah sambil menyemangati dan titip salam untuk rekan kuli yang sedang bekerja.

Pada bulan Oktober tahun lalu, sedang ramai di media sosial menyoal demo buruh terkait UU Cipta Kerja. Saya yang sedang ngalor ngidul di Twitter sontak terkejut melihat tweet Mas @ir_dyx. Beliau membagikan tweet tentang curhatan seorang kuli di jejaring Facebook.

Intinya, mas-mas kuli ini merasa prihatin dengan kondisi kuli yang selalu dipandang sebelah mata. Mereka merasa sebagai buruh yang tidak pernah demo, tidak ada peraturan yang condong membela mereka. Tidak seperti ojol dan UMKM, kuli tidak tercantum dalam daftar prioritas penerima bantuan saat pandemi corona. Lalu ditutup dengan mendoakan agar seluruh kuli bangunan selalu sehat dan terus berjuang.

Ditambah cuitan dari Mas @ir_dyx yang menambah caption, “Kami ‘cuma kuli’ tp mental kami bukan buruh”. Ah, rasanya miris mendengar ini. Semenjak pasukan “ranger hijau” jadi salah satu komunitas besar yang punya power, banyak komunitas pekerja lainnya yang hilang dari perhatian masyarakat.

Dari situ kita tahu, otomatis banyak kebijakan pemerintah yang akan lebih condong ke komunitas yang lebih vokal. Sementara komunitas profesi seperti kuli, tanpa adanya gebrakan hanya akan jadi bulan-bulanan shitposting di media sosial.

Sebatas yang saya ketahui dikutip dari Tribun Jakarta, di Jakarta sendiri pada tahun 2019 Bapak Gubernur Yang Terhormat Anies Baswedan sudah menetapkan upah minimum per hari untuk pekerja di sektor bangunan dan pekerjaan umum. Upah minimum berkisar Rp157.643 untuk pekerja/knek hingga Rp194.274 untuk mandor.

Namun, yang kita ketahui di masyarakat, ada jenis kuli harian dan borongan yang mana harganya bisa sangat menyesuaikan dengan situasi, kondisi, dan toleransi. Artinya tidak ada kontrak yang benar-benar pasti untuk menentukan hak dan kewajiban kuli. Semuanya tergantung kesepakatan antara mandor, knek, dan pengguna jasa secara lisan.

Menurut saya, momentum ini bisa dijadikan sebuah gebrakan bagi para komunitas kuli untuk menunjukkan eksistensinya. Setidaknya lewat budaya shitposting netizen bisa menyadari bahwa keberadaan kuli bangunan di dunia karier patut diperjuangkan.

Namun, apa pun akhirnya, entah gerakan-gerakan mikro ini bisa bertahan menjadi sebuah gerakan masif yang mampu mengangkat derajat profesi kuli atau hanya bertahan di fase viral, mari bersama-sama kita doakan yang terbaik untuk para kuli di luar sana.

Salam kuli dari Ciputat!

BACA JUGA Mengupas Video Jamet yang Sarat akan Kritik Budaya

Baca Juga:  Meminjamkan Utang Itu Sederhana, Yang Rumit Itu Nagihnya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.