Bahasa Jawa itu beragam. Untuk penyebutan satu benda atau satu kegiatan ada banyak macamnya. Itu mengapa, banyak yang bilang bahasa Jawa itu bahasa yang susah. Apalagi kalau dihadapkan dengan orang tua. Harus bisa bahasa Jawa yang sopan dan halus.
Misal, dalam konteks hujan. Ada banyak istilah untuk menggambarkan hal ini tergantuk kondisi dan situasinya. Dan, beberapa istilah terdengar lucu atau aneh di kuping pendengarnya. Namun, justru itu letak keunikan bahasa daerah satu ini.
#1 Tlenik-tlenik istilah untuk hujan gerimis
Tlenik-tlenik untuk mengungkapkan hujan gerimis. Tlenik-tlenik biasanya terjadi di awalan hujan. “Ayo ndang bali wis lekas tlenik-tlenik iki,” contoh dialog yang sering digunakan saat terjadi gerimis yang artinya, “Ayo segera pulang, wis mulai gerimis ini.”
#2 Jawah, bahasa Jawa Krama untuk hujan
Jawah merupakan bahasa Jawa krama dari hujan. Kata jawah sering digunakan untuk lawan bicara yang lebih tua untuk menunjukkan kesopanan. Misalnya begini, “ngapunten, nembe dugi mriki ket wau jawah terus,” yang maknanya, “maaf baru datang ke sini, dari tadi hujan terus.”
#3 Deres alias deras
Hujan yang kencang dan deras disebut dengan udan deres dalam bahasa Jawa. Deres artinya deras, yang mana frekuensi hujannya sangat sering. “Udane ket mau deresmen yo,” yang artinya, “Hujannya dari tadi deras banget ya.” Contoh penggunaan kata deres tersebut digunakan untuk lawan bicara yang seumuran atau untuk yang lebih muda.
Baca juga 8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham.
#4 Kremun istilah untuk hujan rintik-rintik
Hujan rintik-rintik dengan frekuensi rendah dinamakan kremun. Air hujan yang jatuh saat kremun halus. Jika terkena kepala atau kulit tidak sakit seperti saat terkena air hujan deras.
#5 Kepyur, hujan rintik-rintik yang bikin tetap bikin basah
Masih sama dengan hujan rintik-rintik, tapi kepyur ini menunjukkan hujan kecil, tapi frekuensinya sering. Jadi, meskipun air tetesannya kecil, tapi hujan macam ini tetap bisa bikin basah baju. “Aku mau seko pasar wis kepyur-kepyur,” contoh kalimat tersebut yang artinya, “Aku tadi dari pasar sudah hujan rintik-rintik.”
#6 Kethek ngilo istilah paling absurd
Kadang ada fenomena, hujan tapi disertai panas. Kalau dalam bahasa Jawa namanya kethek ngilo. Entah alasan apa yang mendasari penamaan jenis hujan ini cukup unik. Namun, dinamakan kethek ngilo karena perumpamaan seperti monyet yang sedang bercermin memantulkan cahaya dari cermin yang digunakan untuk mengaca.
#7 Blebah sebutan untuk hujan di pagi hari
Sadar atau tidak di pagi hari justru jarang sekali hujan. Kalau pagi hari tiba-tiba, hujan bisa bikin mood langsung hancur. Soalnya repot, harus berangkat kerja atau sekolah dengan kondisi yang becek. Kerennya lagi nenek moyang di Jawa zaman dulu kok bisa kepikiran menciptakan istilah hujan di pagi hari, yaitu istilahnya blebah. “Wah, iseh blebah iki, penakke mapan turu meneh,” kalimat tersebut merupakan contoh jika istilah ini digunakan dalam dialog, yang artinya, “Wah, masih hujan pagi, enaknya tidur lagi.”
#8 Udan wiwitan penanda musim penghujan
Orang Jawa sangat titen, artinya mampu menghafal dengan baik. Bahkan, mereka juga ingat hujan pertama di musim penghujan. Namanya udan wiwitan, yang menandakan hujan pertama di musim penghujan tersebut. Khususnya mereka para petani pasti hafal dengan waktu hujan. “Wit-witan pinggir kali ketok seger amarga bar udan wiwitan,” kalimat tersebut bermakna, “Pohon di pinggir sungai terlihat segar karena habis tersiram hujan pertama di musim penghujan.”
#9 Ngrecih, istilah bahasa Jawa untuk hujan yang tak kunjung reda
Untuk menggambarkan suasana hujan yang nggak pernah berhenti disebut ngrecih. “Udane ket mau ngrecih ket awan tekan wengi,” yang maknanya, “Hujannya dari tadi pagi sampai malam.” Kalimat tersebut sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.
#10 Kebo-keboan sebutan untuk hujan deras
Orang Jawa menyebut kebo-keboan untuk menggambarkan hujan deras yang disertai angin kencang. Konon katanya, kata kebo yang besar pas untuk menggambar hujan seperti ini.
#11 Hujan yang “labil” disebut dengan trenceng dalam bahasa Jawa
Jenis hujan yang paling menyebalkan adalah hujan yang reda, kemudian hujan lagi. Kalau dalam bahasa Jawa, namanya trenceng, untuk menggambarkan hujan yang sudah reda, kemudian hujan lagi. “Aku ket mau nggowo mantol, amarga trenceng terus,” yang maknanya kurang lebih, “Aku dari tadi pakai mantel, soalnya dari tadi hujannya nggak jelas.”
#12 Makbres istilah dalam bahasa Jawa untuk hujan yang tiba-tiba deras
Hujan juga kadang jatuh tiba-tiba, dalam bahasa Jawa namanya makbres. Maknanya hujan yang datang mendadak dan deras banget. Tipe hujan ini biasanya tidak akan lama, hanya beberapa menit saja tapi deras sekali. Contoh jika digunakan dalam dialog, “Udane langsung makbres, pemeane durung sido diangkat,” yang artinya “hujannya mendadak, jemurannya belum sempat diangkat.”
Banyak sekali ternyata istilah yang digunakan untuk mengungkapkan hujan dalam bahasa Jawa. Beberapa istilah bahkan aneh dan terdengar nggak masuk akal. Namun, justru di situlah letak kekayaan bahasa daerah yang satu ini sehingga patut dilestarikan.
Penulis: Wulan Maulina
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Hujan Itu Nggak Romantis dan Pengendara Motor Tahu Persis Alasannya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















