Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Terima Kasih, Muzammil!

Fatma Ariana oleh Fatma Ariana
21 Juni 2016
A A
Terima Kasih, Muzammil!

Terima Kasih, Muzammil!

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kemarin pagi, ketika secara tak sengaja saya menonton infotainment di TV, muncul sosok yang belakangan menjadi buah bibir di sebuah teaser. Dia adalah Muzammil Hasballah, sarjana arsitektur lulusan ITB yang mendadak ngetop karena bacaan Al Qur’an-nya yang begitu fasih dan merdu.

Dalam teaser tersebut, turut diwawancara pula tiga orang selebritis perempuan. Dua di antaranya masih lajang dan mengaku memimpikan punya pendamping hidup seperti Muzammil. Sementara satu seleb lainnya yang sudah menjadi ibu, juga berharap kelak anak laki-lakinya bisa mengikuti jejak pemuda tersebut.

Kedua pendapat wajar yang bagi saya seturut dengan sebagian besar pendapat kaum perempuan pada umumnya.

Selain ketiga seleb tadi, turut pula diwawancara pula dua orang gadis “biasa” (bukan selebriti) yang mengaku penasaran dengan suara Muzammil lalu mendatangi masjid tempat ia menjadi Imam shalat. Adapun jadwal Muzammil mereka ketahui dari akun Instagram pribadi miliknya.

Sebagai informasi saja, sampai tulisan ini dibuat, follower Instagram Muzammil sudah mencapai 167 ribu dan subscriber Youtubenya hampir mencapai 26 ribu sekian.

Buat saya, fenomena kemunculan Muzammil ini menarik, mengingat selama ini sosok yang biasa diidolakan, dibicarakan, dan dikagumi banyak orang biasanya hanya terkait dengan tampilan fisik saja atau terkait kontroversi tindakannya.

Lihatlah idola kebanyakan remaja kita, sebagian besar tak jauh dari sosok fotomodel dan bintang sinetron yang didominasi wajah-wajah indo dengan kulit mulus dan tubuh proporsional, atau musisi dengan aksi panggung dan suara yang menawan. Acara kompetisi di televisi dan majalah pun saat ini ramai dengan pemilihan Putri dan Miss Anu, Gadis Sampul, dan kompetisi berbagai bakat yang bisa “dijual dan dijadikan tontonan dengan rating tinggi” semacam menyanyi, menari, dan berakting, hingga bahkan memasak.

Jika tampilan fisik atau kemampuan bakat itu tak ada, mereka yang akrab dengan kontroversi akan dengan cepat melesat menuju jagat komersial industri hiburan. Barangkali, memang sudah begini rumus survival dalam industri hiburan: semua harus menawan, semua harus menggugah rasa penasaran.

Saya melihat, dengan kehadiran Muzammil ada semacam perluasan arti kata “keren”. Jika, misalnya, menurut KBBI definisi keren itu adalah “tampak gagah dan tangkas dan perlente” (berpakaian bagus, berdandan rapi, dsb), Muzammil datang membawa sesuatu yang “baru”–kendati dalam rumusan tertentu hal tersebut bukanlah kebaruan yang orisinil.

Mayoritas anak muda memiliki identifikasi sendiri dengan kata “keren”. Biasanya, kata tersebut memiliki asosiasi yang selaras dengan “cool”. Tak harus ganteng atau cantik, tapi minimal, “sedap dipandang”. Disertai dengan tingkah laku dan penampilan yang kekinian, di antaranya terwakili lewat gaya bicara yang “kebarat-baratan” atau kepemilikan barang-barang bermerk dan mahal.

Sementara Muzammil, sebagaimana yang disebutkan tadi, ia membawa “kebaruan” lewat bacaan Al Qur’an yang fasih dan merdu. Secara fisik, ia toh tak jauh beda dengan mahasiswa teknik pada umumnya. Maksud saya, pada titik ini, ia bukanlah pria dengan polesan make up di salon atau hasil rekayasa pabrik fashion.

Kelebihan yang Muzammil miliki memang tampak agak “asing”: Kemampuan membaca Al Qur’an. Sebuah kemampuan yang pada zaman ini nyaris tak pernah menjadi bahan pertimbangan seorang Ayah kepada laki-laki yang hendak melamar anak perempuannya.

Belakangan, saya melihat kesadaran untuk mencintai Al Qur’an memang cukup meningkat pesat di masyarakat.

Di TV, misalnya, acara lomba berbasis hapalan dan bacaan Al Qur’an mulai marak beberapa tahun ini. Para orangtua juga kian berlomba memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang ada fasilitas Tahfidz Qur’an seiring dengan semakin banyaknya sekolah dan lembaga yang mengkhususkan diri ke bidang tersebut. Di media sosial, prestasi anak yang bisa diposting kini tak lagi melulu soal lulus ASI eksklusif, nilai raport, atau juara lomba menggambar atau menyanyi, tapi juga mulai bertambah dengan hapalan anak yang sudah sekian juz.

Iklan

Itu artinya, bagi pemahaman saya pribadi, kini membaca Al Qur’an mulai masuk kategori aktivitas yang keren.

Terlepas dari kontroversi memposting kehidupan pribadi di media sosial sebagai bentuk narsisisme yang rentan dianggap riya, tentu fenomena ini patut disyukuri. Muzammil sendiri mengaku memposting kegiatannya hanya sebagai sarana dakwah tanpa maksud sama sekali untuk menjadikannya sebagai sarana agar populer.

Belakangan, di akun Instagram pribadinya tersebut, Muzammil memposting sebuah kompetisi video tilawah untuk anak muda sambil tak lupa mengingatkan calon pesertanya agar selalu meluruskan niat.

Sebagai manusia, saya kira kekaguman terhadap sosok Muzammil adalah fitrah. Ya, fitrah yang dimiliki manusia sejatinya adalah condong menyukai kebaikan. Dalam rumusan yang mungkin dianggap klise ini, saya selalu percaya sebrengsek apapun seseorang, mayoritas dari mereka memiliki keinginan untuk mengubah masa kelamnya, lalu berharap dapat mempunyai pendamping hidup dan anak-anak yang baik serta, barangkali, juga taat beragama.

Dulu mungkin yang kenal dan mengagumi Muzammil hanya sebatas aktivis rohis di kampus, kini setiap anak muda dari jenis kalangan apapun bisa mengetahui aktivitasnya, syukur-syukur mengagumi dan tergerak hati untuk mengikuti jejaknya. Tetap semangat dan tetap rendah hati buat Muzammil. Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa keren itu tak semata dilihat dari tampilan fisik atau uraian materialistik belaka.

Sebagai seorang ibu, saya berharap semakin banyak terlahir sosok Muzammil baru yang bisa menjadi contoh baik dan dapat membawa hal positif untuk anak muda di negeri kita yang kian hari kian mengenaskan ini.

 

Terakhir diperbarui pada 1 November 2018 oleh

Tags: infotainmentIslammedia sosialMuzammilRamadan
Fatma Ariana

Fatma Ariana

Artikel Terkait

THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO
Sehari-hari

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

19 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
Omong kosong menua dengan bahagia di desa: menjadi orang tua di desa harus memikul beban berlipat dan bertubi-tubi tanpa henti MOJOK.CO

Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti

21 Februari 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
mie ayam Surabaya. MOJOK.CO

Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam

20 Februari 2026
Ramai, 'Cukup Aku Saja yang WNI': Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia MOJOK.CO

Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia

20 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.