Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

Redaksi oleh Redaksi
20 April 2026
A A
Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO

Ilustrasi Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kita sering kali terjebak dalam bias kognitif yang berbahaya: menganggap bahwa label tokoh agama atau orang dengan tingkat intelektual yang tinggi menjamin kesucian perilaku seseorang. Banyak yang tidak percaya orang-orang dengan label seperti itu tidak mungkin melakukan pelecehan seksual.

Namun, rentetan peristiwa belakangan ini, mulai dari kasus pelecehan seksual oleh mahasiswa di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Indonesia hingga dugaan tindakan asusila yang menyeret figur syekh hafiz Qur’an, seolah menjadi tamparan keras yang membuyarkan kenaifan tersebut. 

Bareskrim Polri mengungkap jumlah korban dalam kasus dugaan perbuatan cabul terhadap santri yang melibatkan seorang juri hafiz Quran di televisi, Syekh AM. Hingga kini, tercatat lima santri telah dilaporkan menjadi korban.

Sementara UI memberikan sanksi terhadap 16 mahasiswa terduga pelaku kekerasan seksual secara verbal di lingkungan Fakultas Hukum.

Fenomena ini membongkar realitas pahit bahwa penguasaan terhadap teks-teks suci, apa pun agamanya, maupun pasal-pasal hukum tidak otomatis berbanding lurus dengan pengendalian syahwat. Ketika kita terlalu mendewakan label tokoh agama dan predikat intelektual secara membabi buta, kita sebenarnya sedang memberi ruang gelap bagi predator untuk bersembunyi di balik tameng reputasi.

Pertanyaan besar yang kemudian menggantung di benak kita adalah: Mengapa mereka yang memiliki perangkat ilmu pengetahuan, baik itu hukum maupun agama, justru gagal mengendalikan dorongan primitif nafsunya?

Melihat perilaku tokoh agama dan intelektual dari sisi psikologis dan sosiologis

Secara psikologis, ada jurang lebar antara kapasitas kognitif (pemahaman teks, hafalan, logika hukum) dengan regulasi emosional. Memahami pasal hukum atau menghafal ayat suci adalah aktivitas intelektual di tingkat neocortex. 

Namun, dorongan seksual dan perilaku predator sering kali berasal dari bagian otak yang lebih purba (sistem limbik) yang tidak otomatis “jinak” hanya karena seseorang punya label secara akademis atau spiritual. Ilmu sering kali hanya menjadi “aksesori” luar, sementara penyimpangan tetap tumbuh di ruang gelap yang tak tersentuh oleh etika yang mereka pelajari.

Secara sosiologis, status sebagai “orang berilmu” atau “tokoh suci” menciptakan apa yang disebut sebagai asimetri kekuasaan. Di institusi keagamaan atau akademis, pelaku merasa memiliki privilege dan perlindungan sosial. Dua tameng utama yang biasanya melanggengkan kekuasaan para predator ini adalah persepsi publik yang terdistorsi dan struktur sosial yang antipati terhadap pengakuan korban.

Hal ini bermula dari Halo Effect, di mana publik cenderung menganggap bahwa seseorang yang ahli dalam satu bidang (misal: agama atau hukum) pasti memiliki moralitas yang sempurna di bidang lainnya. Celah inilah yang dimanfaatkan predator untuk memanipulasi korban.

Kondisi tersebut diperparah dengan adanya Impunitas Sosial. Di sini, gelar dan reputasi bukan lagi sekadar identitas, melainkan berubah menjadi benteng. Akibatnya, korban kerap ragu melapor karena takut melawan “orang besar”, sementara lingkungan di sekitarnya cenderung melakukan penyangkalan (denial) demi menjaga nama baik institusi.

Publik tak butuh lagi sekadar ceramah moralitas

Masifnya pemberitaan kekerasan seksual di institusi keagamaan dan pendidikan menunjukkan bahwa predator tidak memandang latar belakang. Masalahnya bukan pada “ilmunya”, melainkan pada bagaimana ilmu tersebut dipisahkan dari perilaku sehari-hari.

Ketika seorang tokoh agama atau akademisi hukum terjerat kasus serupa, yang runtuh bukan sekadar reputasi individu tersebut, melainkan kepercayaan publik terhadap institusi moral. Kita dipaksa menghadapi kenyataan pahit: bahwa setinggi apa pun gelarnya, atau pengetahuan agama yang begitu fasih, bukanlah jaminan bagi pengendalian diri.

Publik hari ini tidak butuh lagi sekadar retorika atau ceramah tentang moralitas. Yang dibutuhkan adalah keberanian institusi untuk membedah boroknya sendiri. Ilmu tanpa kendali nafsu hanya akan melahirkan predator yang lebih cerdas dalam memanipulasi keadaan.

Iklan

Sudah saatnya kita berhenti mendewakan figur hanya berdasarkan label intelektual atau spiritualnya, dan mulai membangun sistem pengawasan yang lebih ketat, di mana pun. Mulai dari kampus, hingga lembaga agama. Sebab, nafsu tidak pernah memilih tempat, dan kekuasaan yang tak diawasi selalu punya cara untuk menyimpang. (*)

Terakhir diperbarui pada 20 April 2026 oleh

Tags: Agamapelecehan seksualtokoh agamaui
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO
Esai

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara
Ragam

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
Toilet umum di Jakarta saksi bejat laki-laki otak mesum MOJOK.CO
Urban

Toilet Umum di Jakarta Jadi Tempat Cowok Tolol Numpang Masturbasi, Cuma karena Nonton Girl Band Idola dan Alasan Capek Kerja

10 Februari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO
Esai

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Tidak mau ikut CPNS karena tidak mau jadi PNS/ASN atau abdi negara

PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan

14 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.