Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Wisatawan yang ke Jogja dan Keinginan Aneh Mereka

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
10 Februari 2020
A A
wisata wisatawan jogja candi kopi klotok pantai gunung kidul mojok.co

wisata wisatawan jogja candi kopi klotok pantai gunung kidul mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Namanya orang melancong, biasanya mereka mencari tempat yang tidak dijumpai di asalnya. Tapi, untuk beberapa wisatawan yang ke Jogja, mereka seringkali datang ke tempat yang sebenarnya sudah ada di daerahnya.

Suatu kali di masa kuliah, saya pernah diminta saudara yang rumahnya Pacitan untuk mengantar mereka ke pantai di Gunung Kidul. Sebagai saudara yang baik dan gabut, tentu saja saya antar. Sesampainya di pantai, antusiasme mereka runtuh. Mereka bilang ternyata Parangtritis mirip sama pantai di Pacitan. Tentu saja cangkem trocoh saya bereaksi, lha rumangsamu pantai Jogja terbuat dari gudeg?

Mereka pikir pantainya bakal beda, maka mereka main ke Jogja. Tentu saja saya bilang kalau ke Jogja, nyarinya jangan pantai saja, tapi mending ke candi atau keraton. Tentu saja gawean saya jadi nambah dengan nganter mereka ke Malioboro malem harinya dan candi besoknya. Tapi saya nggak habis pikir, emang ngapain coba orang dateng berwisata ke tempat yang jenis objek wisatanya sudah ada di daerahnya?

Saya sering didatangi teman dari kampung yang main ke Jogja, minta ditemenin ke Kopi Klotok atau Kopi Merapi, katanya untuk mencari suasana segar. Tapi kemudian saya nyeletuk, orang kita berasal dari kampung yang rumahnya di bawah gunung, suasana segar yang dicari apa coba? Kemudian dia berpikir kalau saya ada benarnya. Tentu setelah itu kita pergi ke objek wisata lain setelah berpikir lama, yaitu Warung Ijo.

Bukan maksud saya untuk tidak merekomendasikan tempat wisata yang sudah terkenal atau mateni rejeki, tapi fenomena ini menurut saya ya lumayan aneh. Bayangkan orang Kulonprogo main ke Wonogiri terus ingin lihat Waduk Gajah Mungkur, padahal mereka sendiri punya Waduk Sermo, ngapain coba? Masih ada tempat lain yang bisa dikunjungi.

Untuk wisatawan yang datang ke Jogja, datang ke Keraton, Malioboro, Tamansari, dan candi-candi itu menurut saya udah pas, soalnya nggak semua daerah punya bangunan macam Keraton. Saking jarangnya, sampai banyak kerajaan bermunculan hingga jadi objek wisata baru. Ya kalau dateng ke tempat yang udah ada di tempat asalmu, kesannya jadi aneh.

Katakanlah asalmu Klaten, merantau ke Jakarta, terus main ke daerah mana gitu di daerah lain karena ingin merasakan suasana sawah kayak Klaten. Bukannya lebih baik pulang ke Klaten? Lebih otentik, setil, dan rindu rumahmu terbalaskan.

Tapi tentu saja uneg-uneg tentang fenomena ini hanya berlaku terhadap orang yang asal daerahnya sudah ada daerah wisata/tempat serupa dengan yang ada di Jogja. Kalau datangnya ke objek wisata yang lain ya nggak apa-apa, malah justru bagus karena meningkatkan pendapatan daerah. Lha kalau datang ke tempat wisata yang di daerah asalnya udah ada, terus jadinya banding-bandingin kan USA.

Apalagi dengan bertambahnya objek wisata yang baru membuat pilihan tempat yang bisa dikunjungi jadi banyak. Jangan terpaku sama yang lagi nge-hype aja, dieksplorasi pilihan yang ada agar ketika kita selesai dari berwisata pikiran kita segar. Kalau wisata dan ujunge maido mah, mending turu.

BACA JUGA Percakapan Basa Basi itu Tetap Berkesan, Kenapa Harus Dibikin Rumit? dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2020 oleh

Tags: JogjaKopi Klotokkopi merapisermowisatawan
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Sisi Gelap Gudeg Jogja Harga Naik, Makin Dihina Orang Tolol MOJOK
Pojokan

Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Aksi topeng ayam di Fore Coffee Jogja. MOJOK.CO

Di Balik Aksi Topeng Ayam Depan Fore Coffee Jogja: Menagih Janji Hak Ayam Petelur untuk Meraih Kebebasan

2 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.