MOJOK.CO Pengidap sindrom impostor takut dipuji dan takut mendapat sorotan. Dia kadang sampai mikir, orang tuh terlalu bodoh untuk tahu bahwa sebenarnya dia nggak bisa apa-apa dan tak berguna. Duh, jangan mikir gitu sih 🙁

Pernah dengar sindrom impostor? Kalau belum, sekarang coba refleksi diri sebentar.

Pernah nggak kamu merasa kamu nggak berhak mendapatkan semua yang sudah kamu capai saat ini? Misalnya ada orang yang memuji, “Ih, kamu kok pinter banget sih kalau ngomongin soal ternak lele,” dan kamu merasa, “Apa sih, aku tuh biasa aja. Cuma tahu-tahu doang.”

Pendeknya, kamu selalu kamu tuh nggak sehebat orang lain. Ya kadang emang bener. Tapi ada kadang yang lain, ketika menurut orang banyak, kamu memang bisa dan hebat kok, tapi kamu nggak pernah menghargai dirimu sendiri.

Jangan kaget ya. Ada kemungkinan kamu mengidap impostor syndrome (sindrom penyemu).

Sindrom impostor menyebabkan orang-orang yang berhasil mencapai sesuatu merasa bahwa itu dicapai dengan faktor eksternal, bukan dari internal. Mereka merasa bahwa orang lain selalu lebih pintar dari dirinya, dan dirinya hanyalah debu tak berarti di semesta. Orang-orang yang mengidap sindrom ini akan merasa bahwa hanya kebetulanlah mereka sampai di titik saat ini, dan tak sanggup mengakui potensi yang ada dalam diri.

Bedakan dengan orang yang rendah hati lho ya. Kalau orang rendah hati mungkin merendah karena sadar di atas langit masih ada langit. Kalau orang dengan sindrom impostor ini benar-benar tidak bisa melihat dirinya pantas meraih itu semua. Semua orang akan selalu di atasnya.

Baca juga:  Nggak Usah Ngaku Mengalami Gangguan Psikologis Kalau Cuma Bersumber dari Infografis

Sekilas, cara pikir demikian bagus untuk membuat orang jadi nggak gampang sombong. Tapi, sindrom ini ada nggak bagusnya. Orang yang tidak bisa mengakui hal baik dalam dirinya akan selalu tertekan, meski dirinya sebenarnya baik-baik saja. Jika mereka berhasil mnecapai sesuatu, mereka takut keberhasilan itu dicapai dengan cara menipu orang atau keberuntungan semata.

Ketakutan akan kegagalan mencapai di level yang tidak wajar bagi pengidap sindrom impostor. Mereka takut pencapaian mereka sebelumnya dianggap sebagai hasil yang dicapai dengan cara yang tidak wajar, dan kegagalan adalah bukti kualitas mereka sebenarnya.

Mengapa orang bisa punya sindrom impostor? Penyebabnya sering datang dari tekanan yang terus-terusan diberikan dan juga kurangnya apresiasi selama masa kanak-kanak. Ekspektasi berlebihan orang tua, katakanlah. Biasanya ekspektasi orang tua yang berlebihan membuat orang tua tidak bisa menghargai kemajuan kecil yang dicapai anaknya. Lingkungan kerja dan sosial yang penuh tekanan juga memberi porsi pengaruh yang besar kepada individu yang terkena sindrom tersebut.

Ciri orang yang terkena sindrom impostor adalah menjadi perfeksionis, bekerja terlalu keras, membatasi daftar pencapaiannya, takut gagal, dan abai pada pujian. Mereka cenderung bertingkah dan berkata sesuai apa yang diinginkan orang lain, bukan ekspresi pikiran mereka. Mereka rentan terhadap potensi depresi dan menjalani hari-hari dengan perasaan tersiksa.

Sindrom impostor lazim ditemukan pada minoritas dan orang-orang yang berprestasi. Karena mereka merasa kecil dalam konteks angka, mereka merasa jika sanggup mencapai titik yang lebih tinggi dibanding mayoritas, mereka sendiri akan menganggap hal itu tidak wajar. Perasaan itu membuat mereka mengasingkan diri.

Baca juga:  Hidup Penuh Insecure, Mau Bahagia Kok Kebanyakan Mikir?

Sindrom ini mempengaruhi 70 persen populasi dunia, meskipun sering tidak disadari. Orang yang terpengaruh sindrom ini sering tidak tahu dan bila tidak ditangani, para penderitanya akan merasakan kecemasan dan kepercayaan diri rendah.

Demi kesehatan mental, jika kamu merasa kamu mengidap sindrom ini, sebaiknya mulailah membuat daftar pencapaian diri dan merenungkan kerja kerasmu untuk mencapai hal tersebut. Berbicara dengan ahli medis juga bisa membantu meringankan efek-efek yang timbul.

Terapi menulis pun bisa membantu orang mengurangi rasa bersalah yang timbul. Terapi menulis ini metodenya dengan menuliskan semua pencapaian dan umpan balik positif yang diterima. Mereka menuliskan hal-hal positif yang ada di diri mereka agar mereka mulai bisa menerima diri mereka sendiri.

Terakhir, jika kamu menemukan teman yang bau-baunya mengidap sindrom impostor, ajak deh dia ngobrol. Beri dia apresiasi. Katakan bahwa dia pantas untuk mendapat ini semua.

Be kind, it could save a life.

BACA JUGA Hakim Nggak Percaya Nunung Depresi Hanya karena Ia Tampil Cengengesan atau artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.



Tirto.ID
Loading...

No more articles