MOJOK.CO Anak-anak yang suka banget sama dinosaurus dan anak-anak yang suka menggambar gunung di tugas menggambar: dua misteri dunia ini.

Pada satu titik di hidup saya, saya pernah terobsesi dengan dinosaurus. Film Jurassic Park yang saya tonton waktu kecil menimbulkan kecintaan pada dinosaurus, membuat saya tiba-tiba jadi sering menggambar dinosaurus di mana saja. Kadang di buku, lebih sering di tembok. Kecintaan saya pada dinosaurus kelak memengaruhi kecenderungan saya untuk menyukai digimon bernama Agumon dan Pokemon bernama Charizard.

Masa kecil saya juga penuh dengan mencoreti tembok atau buku saya dengan gambar gunung. Kadang juga ada gambar dinosaurus di gunung dan dinosaurus yang saya gambar bisa menyemburkan api.

Tapi yang jelas bukan hanya saya yang masa kecilnya terobsesi dengan dinosaurus dan menggambar gunung. Kalau saya piki-pikir, sampai sekarang masih saya jumpai anak-anak yang suka dinosaurus atau menggambar gunung, saya jadi ingat masa kecil dulu. Masa ketika rasa ingin tahu masih tinggi dan mudah kagum dengan banyak hal. Ketika melihat dinosaurus, rasa ingin tahu itu terpicu, lebih daripada ketika melihat hewan lain.

Dinosaurus memang hewan yang keren. Ukurannya besar, berat bisa berpuluh ton, beberapa spesies di antaranya punya gigi besar yang tajam adalah perpaduan sempurna untuk membuat anak-anak terpesona. Untuk anak kecil, mobil sport atau penghasilan yang tinggi tetap kalah mengagumkan dibanding T-rex atau Brachiosaurus.

Tapi ada faktor lain yang membuat anak-anak suka dinosaurus, dan itu mirip seperti kenapa anak kecil suka menggambar gunung, yaitu karena “diarahkan” untuk suka pada hal itu.

Kok “diarahkan”? Maksudnya bagaimana?

Franchise Jurassic, baik Jurassic Park dan Jurassic World, juga memberi andil dalam memengaruhi anak untuk tergila-gila pada dinosaurus. Setidaknya semenjak tahun ’90-an, ada satu film Jurassic yang dirilis di tiap dekade, dan itu berarti tiap generasi dalam satu dekade mengalami masa menonton film tentang dinosaurus di Isla Nublar.

Film animasi Land Before Time juga mempengaruhi anak-anak untuk merasakan berpetualang di jaman dinosaurus hidup dan berteman dengan Little Foot.

Sama seperti anak-anak suka menggambar gunung, awalnya diarahkan untuk menggambar gunung meski belum tentu tahu tentang konsep gunung seperti apa. Pola gambar gunung biasanya berupa gunung kembar, lalu di tengahnya ada jalan, di kiri-kanan jalan ada sawah dan rumah, lalu ada gambar burung yang lebih mirip gambar alis. Karena waktu kecil kita melihat teman dan orang tua menggambar gunung seperti itu, maka kita berpikir bahwa gambar gunung memang seperti itu.

Obsesi anak pada dinosaurus  dan mengajarkan anak menggambar gunung terbukti bagus, karena meningkatkan minat belajar pada anak. Ketika dikenalkan pada dinosaurus, anak-anak akan berusaha mencari info sebanyak mungkin dengan membaca, menonton dokumenter tentang dinosaurus, menghafalkan nama-nama dinosaurus yang mereka pelajari dari buku atau disebut juga dengan “intense interest“. Bisa saja anak-anak tahu seberapa banyak Brachiosaurus makan ketimbang dirimu, dan itu bagus.

Mengajarkan anak-anak menggambar gunung juga bisa membuat anak peduli pada alam dan membebaskan dirinya untuk berimajinasi. Meski terkesan seperti diarahkan pada satu objek yaitu gunung, namun arahan ini bagus karena memberi anak banyak ilmu positif yang bisa dia petik ketika sudah paham akan maksudnya.

Bagi yang sedang merencanakan anak, sudah punya anak, atau sedang belajar parenting, ada baiknya untuk mengenalkan dinosaurus dan juga menggambar gunung kepada anak. Selain bisa memantik minat belajar mereka, mengenalkan dinosaurus dan gunung bisa juga mengasah imajinasi mereka.

Mendengarkan anak mengoceh tentang bagaimana buasnya Velociraptor dan tembok penuh gambar gunung lebih menyenangkan daripada mendengarkan mereka merengek bermain gadget, bukan?

BACA JUGA Mungkin Kebawa Kultur Startup, Nadiem Makariem Malah Ngerjain Kerjaan Kemkominfo dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.