MOJOK.CODampak virus corona terhadap dunia sepak bola makin hari makin besar. Setelah penundaan pertandingan, tim sepak bola harus menghadapi masalah keuangan.

Liga-liga yang ditunda karena wabah corona tidak hanya merugikan kita sebagai penonton, tapi juga tim sepak bola secara keseluruhan. Tim sepak bola Eropa mulai menghadapi masalah keuangan yang memaksa mereka mencanangkan pemotongan gaji pemain. Beban ekonomi yang harus ditanggung tim tak main-main.

Pemotongan gaji ini adalah hal yang tidak bisa dihindari, mengingat pengeluaran terbesar tim adalah untuk menggaji pemain dan pemasukan hampir tidak ada karena virus corona. Gaji pemain yang berada dalam kisaran puluhan hingga ratusan ribu euro per pekan bukanlah nilai kecil. Pemain seperti Gareth Bale yang digaji 600 ribu euro per pekan, dalam satu bulan klub harus mengeluarkan 2,4 juta euro hanya untuk seorang pemain. Tinggal bayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk menggaji satu skuat.

Klub sepak bola butuh menggelar pertandingan untuk mendapat pemasukan dan uang hak siar turun. Tiket yang dijual nantinya akan masuk ke dalam kantong klub yang digunakan untuk menggaji pemain dan pegawai klub. Klub memang mendapat pemasukan dari transfer, hak siar, sponsor, dan juga penjualan merchandise. Dari sumber pemasukan yang lain, hanya penjualan merchandise yang bisa terus jalan selama pertandingan ditunda karena corona.

Baca juga:  Yasonna Laoly Revisi PP: Mencegah Penularan Apa Menolong Teman?

Apakah penjualan tiket memang sebesar itu? Kita pakai logika dasar saja. Kita asumsikan satu tiket dijual seharga 100 euro dan kapasitas stadion adalah 74 ribu kursi. Jika kursi terisi penuh, maka tim mendapat pemasukan 7,4 juta euro. Dalam satu bulan, klub mendapat 29,6 juta euro lewat tiket. Menunda pertandingan selama 2 bulan bisa menghilangkan potensi pemasukan sebesar 59,2 juta euro.

Tanpa pertandingan, berarti liga tidak selesai. Liga yang tidak selesai berarti uang hak siar tidak akan turun. Klub Serie A terancam bangkrut karena hal ini.

Meski begitu, banyak klub yang pemainnya setuju dengan keputusan klub untuk memotong gaji mereka akibat wabah corona. Pemain Bayern Munchen, Borussia Dortmund, dan Borussia Monchengladbach setuju gaji mereka dipotong untuk membantu keuangan tim. Klub-klub Bundesliga yang bermain di Liga Champions patungan hingga 20 juta euro untuk membantu keuangan tim divisi 2.

Bayern Munchen, Borussia Dortmund, dan Borussia Monchengladbach memberikan contoh bagaimana sebuah klub seharusnya bertindak dalam masa-masa gelap sepak bola. Dengan tidak mengedepankan keuntungan pribadi dan berkorban untuk kepentingan yang lebih besar, akan membuat klub tidak mengemban beban yang berat. Ini juga bisa menjadi contoh untuk banyak pihak agar mereka bersatu bahu meringankan beban yang dipikul karena virus corona.

Dengan memotong gaji mereka sebesar ribuan hingga ratusan ribu euro, para pemain membantu tim untuk bisa menggaji staf-staf seperti cleaning service dan juga pegawai yang merawat fasilitas klub untuk tetap mendapat pemasukan layak. Pemain-pemain tersebut harus dicontoh oleh para miliuner agar mereka mau berbagi harta mereka untuk orang yang pemasukan mereka terkena dampak parah dari wabah corona. Act of kindness ini harus segera ditiru agar dunia tetap optimis memandang hari esok.

Baca juga:  Bundesliga Menjadi Tamparan Keras Untuk Jokowi dan Para Pembantunya

Pertanyaannya adalah, sampai kapan klub kuat menghadapi krisis ini? Belum ada kepastian kapan wabah corona bisa dikendalikan, dan yang bisa dilakukan sekarang adalah tetap mengurung diri di dalam rumah agar semua aman. Klub tak bisa menggaji pemain terus-terusan tanpa ada pemasukan untuk mengganti pengeluaran.

Namun memaksa menggelar pertandingan saat virus corona belum bisa dikendalikan adalah tindakan bunuh diri. Menggelar pertandingan tanpa penonton mungkin bisa menghilangkan resiko penonton tertular, namun yang jadi tumbal justru keamanan pemain dan pegawai klub. Sudah banyak pemain dan staf klub positif terjangkit corona. Meneruskan pertandingan adalah keputusan bodoh.

Untuk waktu dekat ini, klub mungkin masih bisa menggaji pemainnya dengan lancar, namun sampai kapan mereka mampu bertahan?

BACA JUGA Leroy Sane Bukti Kegagapan Strategi Transfer Barcelona, Beda Jauh dengan Real Madrid dan artikel menarik lainnya di BALBALAN.