1   +   4   =  

MOJOK.COReal Madrid sedang merayakan kebangkitan mereka sendiri. Tapi di dalam perayaan tersebut Luka Jovic termenung di sudut, memaksakan senyum.

Fede Valverde dan Rodrygo menjadi buah bibir untuk beberapa saat belakangan. Valverde menjadi kunci permainan Real Madrid dan Rodrygo sedang menikmati masa menyenangkan dalam hidupnya. Apa yang lebih menyenangkan selain mencetak hattrick untuk Real Madrid? Kalau bisa, saya akan menukar hidup ini untuk satu kesempatan itu.

Tapi di dalam perayaan, pasti ada pihak yang ikut berpesta namun tidak merasa bahagia, dan orang itu adalah Luka Jovic. Dipinang dengan mahar 70 juta euro, Jovic disebut sebagai transfer terbaik Madrid dan menjadi tanda keseriusan Madrid untuk  kembali berperang dalam gelaran Liga Champion. Alih-alih menjadi bintang utama Madrid, dia harus berpuas menjadi penghangat bangku cadangan dan melihat Benzema ngosak-asik­ pertahanan lawan.

Jovic baru mencetak 1 gol untuk Madrid, dan kesialannya tak berhenti di situ. Peluang yang ia dapat sering kali menerpa mistar. Tiang gawang seakan memperbesar jarak dirinya dengan kesuksesan. Orang-orang menjadi bingung, kenapa sihirnya seolah hilang di Spanyol?.

Jovic bukanlah pemain kacangan. Dia mencetak 27 gol untuk Eintracht Frankfurt musim lalu dalam 36 pertandingan, angka yang hebat untuk pemain muda. Real Madrid meminangnya dengan harapan di masa depan akan menjadi senjata andalan ketika Benzema semakin menua. Namun sayangnya, keberuntungan menyakitinya dan sejauh ini dia belum bisa berbicara banyak.

Baca juga:  Dari Mohamed Salah Hingga Cristiano Ronaldo: Para Pencetak 4 Gol di Akhir Pekan

Perbedaan taktik antara Frankfurt dan Madrid bisa dijadikan alasan utama kenapa dia belum menunjukkan performa terbaiknya. Di Frankfurt, dia dilayani dengan sepenuh hati oleh rekan setimnya. Di Frankfurt, semesta berputar mengelilingi Jovic. Tapi di Madrid, Jovic tidak bisa menerapkan gaya bermainnya karena perbedaannya besar.

Benzema bermain lebih mirip dengan gelandang serang, sering ikut turun membangun serangan dan juga jadi pemantul bola dari gelandang ke penyerang sayap. Peran Benzema amat terlihat semasa Ronaldo masih bermain, dia sering memberi umpan atau sekedar membuka ruang untuk Ronaldo agar bisa menusuk ke dalam pertahanan musuh. Dan sayangnya, Jovic belum bisa bermain seperti Benzema.

Meski Ronaldo sudah pergi, namun perannya terganti oleh Hazard, Bale, dan Rodrygo. Jovic dituntut untuk lebih aktif sebagai penyerang dan terlibat lebih banyak dalam proses membangun serangan, dan sayangnya dia masih belum bisa memenuhi tuntutan tersebut.

Jovic masih sering terlihat ada berada di posisi yang tidak menguntungkan, dan pergerakannya masih belum lincah jika dibanding penyerang Madrid yang lain. Ketika Zidane menggunakan 4-4-2 diamond pun, Zidane lebih memilih menduetkan Benzema dengan Hazard atau Bale. Paktif Benzema dan Bale/Hazard memberi ruang untuk Isco-Kroos-Valverde untuk menciptakan peluang dan juga memberi umpan ke daerah pertahanan.

Menghakimi Jovic sebagai pembelian gagal adalah penilaian terlalu dini. Dia belum diberi waktu bermain yang cukup, pun Benzema beralih menjadi monster yang Madrid butuhkan musim ini. Tetap saja melihat ada pemain yang tidak merasakan kebahagiaan yang sama bukanlah pemandangan yang menyenangkan.

Baca juga:  Kekalahan Juventus dan Peradaban Peluit

Dalam gelaran Supercopa ini, Real Madrid harus mengistirahatkan Benzema dan Bale yang terkena cedera. Praktis Real Madrid hanya memiliki Luka Jovic dan Mariano Diaz sebagai striker, dan jelas pilihan utama akan jatuh pada Jovic. Tidak ada lain kali, Jovic harus segera membuktikan bahwa uang 70 juta euro itu tidak digunakan untuk membeli pemain gagal.

Jovic masih terlihat kikuk, namun setidaknya dia memberikan satu umpan kepada Modric yang berbuah gol. Ini menjadi awal yang baik untuk Jovic, setidaknya dia memberikan kontribusi yang baik bagi tim.

Mungkin untuk saat ini, Jovic harus merasakan pahitnya ekspektasi publik Bernabeu yang hanya menerima performa terbaik dari yang terbaik. Jovic bisa berkata bahwa datang ke Madrid adalah kesialan, namun jika dia mau bertarung, menjadi figur paling dicintai oleh pendukung Madrid bukanlah hal yang mustahil.

Sudut yang kau tempati itu memang gelap, tapi saya selalu yakin sinar mentari Bernabeu adalah tempatmu berada, Jovic!,

BACA JUGA Sadio Mane, Kisah Sepatu Koyak dan Celana Pendek dan artikel menarik lainnya di BALBALAN.



Tirto.ID
Loading...

No more articles