Orang yang memeriksa saya di IGD tentu saja seorang dokter. Dokter muda berperawakan tinggi dan cukup besar yang sedang menempuh pendidikan spesialis ortopedi. Statusnya sama dengan rekan-rekannya yang bertebaran di rumah sakit pemerintah. Bedanya, kalau di rumah sakit lain mereka menyebut diri asisten, di rumah sakit ini mereka menyebut diri dokter residen.

Saya sedang memejamkan mata dan bernapas dalam-dalam ketika suara dokter residen itu saya dengar menyapa. Jasnya putih, di bahunya tergantung stetoskop, tangan kirinya memegang dokumen kesehatan saya, dan ia mengenalkan diri sebagai dokter residen dari ketua tim dokter yang menangani saya.

Namanya Dokter P.

Besoknya dia muncul di kamar perawatan bersama serombongan laki-laki. Sebagian dari mereka berpakaian tentara. Seorang yang mengenakan jubah putih (dan tampaknya paling senior di antara mereka) menyapa saya: menanyakan usia, pekerjaan, dan lain-lain. Saya menjawab sambil tersenyum. Dia bertanya juga tentang penyakit saya, tapi dokter residen mengambil inisiatif dengan menunjukkan hasil MRI dan menjelaskan dengan casciscus dalam bahasa Inggris.

Saat si dokter senior bertanya (dalam bahasa Indonesia), si dokter residen bersama dua rekannya, bergantian menjelaskan lagi dalam bahasa Inggris. Si senior manggut-manggut. Dia kemudian memberikan perintah. Dan serempak para junior menjawab, “Sir. Yes, Sir.” Sesudahnya mereka meninggalkan saya, tapi saya takjub kepada para dokter muda itu. Bukan karena mereka fasih berbahasa Inggris, tapi jawaban “Sir. Yes, Sir” mereka yang membuat saya penasaran.

Setahu saya, jawaban “Sir. Yes, Sir” hanya dilakukan para serdadu atau semacamnya. Saya tahu hal itu setelah menonton miniseri Band of Brothers yang beberapa tahun silam pernah populer. Bagi saya, jawaban itu sama dengan “Siap” atau “Siap, Pak” yang biasa dilakukan anggota TNI, Polri, dan Pamong Praja.

BACA JUGA:  Sembuhnya Setya Novanto Jangan Dibikin Teori Konspirasi

Para dokter itu menjawab “Sir. Yes, Sir,” apa maksudnya? Apa mereka tentara? Apa mereka sedang menempuh wajib militer? Mengapa tak menjawab dengan “Siap, Pak” saja?

Besoknya, besoknya lagi, dan di hari-hari berikutnya, para dokter muda itu terus dengan jawaban “Sir. Yes, Sir” setiap kali ditanya atau diperintah para senior.

Suatu pagi saya melihat seorang dokter yang pernah magang di rumah sakit Pemprov DKI Jakarta—ia pernah sekali “menangani” saya—di rombongan para dokter yang datang ke kamar saya. Saya menyapanya dan dia tampak kaget, ada pasien mengenalnya.

“Dokter A, Anda sudah tak magang di RS F?”

“Oh, tidak. Saya sekarang dokter residen di sini,” dia menjawab sekenanya. Kulitnya yang putih bersih terlihat memerah.

Saya tak meneruskan bertanya. Saya tak paham mekanisme permagangan dokter. Dari jawaban Dokter A, magang di rumah sakit terkesan begitu mudah. Tak cocok di rumah sakit X, bisa pindah ke rumah sakit Z. Apa benar begitu?

Dan sama dengan Dokter P, dokter A juga selalu menjawab “Sir. Yes, Sir” setiap menjawab pertanyaan atau perintah dari dokter spesialis. Dia seorang wamil? Saya kira bukan, bila melihat posturnya: pendek. Nada bicaranya juga lembut. Tapi kenapa “Sir. Yes Sir?” Apakah itu jawaban sopan dalam bahasa Inggris? Saya tak paham, dan karena itu saya bertanya kepada salah seorang dokter.

“Para dokter magang itu tentara atau sedang ikut wamil?”

“Tidak, Pak. Dokter biasa saja.”

“Jawaban ‘Sir. Yes, Sir’ untuk apa?”

“Haha. Untuk gaya-gayaan mungkin. Ini kan rumah sakit tentara dan banyak dokter yang juga tentara.”

Saya tetap tidak paham sampai suatu hari, ketika seorang dokter senior yang memeriksa saya menanyakan hasil operasi di punggung saya, saya menjawab pertanyaannya dengan awalan, “Sir. Yes, Sir ….”

BACA JUGA:  Ada Tukang Parkir Resah, Nggak Ada Tambah Resah

Dokter itu ngakak.

No more articles