MOJOK.COBanyak yang suka dengan serial ‘Start-Up’, namun tak sedikit pula yang terganggu.

Ada yang menarik dari drama Korea ‘Start-Up. Baru beberapa episode, namun ia sudah mampu melahirkan kontroversi di mana-mana. Ia benar-benar memecah belah umat. Perang di Twitter sampai kolom komentar Asianwiki yang membicarakan tentang serial ini rasanya tak pernah sepi. Pada satu titik, bahkan tidak sedikit penonton yang sampai melakukan perundungan terhadap artisnya. Hadeeeh, memang artisnya salah apa, Bund?

Berdasarkan kuis lepasan yang tidak terakreditasi di sebuah aplikasi online, saya ini tergolong agak-agak HSP alias highly sensitive person. Mangkanya, sebagai seorang penonton film atau serial, saya kelewat menjiwai peran dan ceritanya.

Saya kerap terganggu dengan film-film macam Joker, Marriage Story dan Parasite. Padahal itu semua film pemenang penghargaan. Namun khusus untuk Start-Up, sepanjang pengalaman saya menjadi penonton film baik holiwud maupun koreyah, belum pernah saya merasa seterganggu ini.

Saya suka mengamati hal detail seperti musik, rumput, suara hewan, senyum, sorot mata, nada bicara, keselarasan dialog dan bahasa tubuh, serta alur yang menjadi latar cerita sebuah kisah. Bukan hanya akting pemainnya doang. Saya suka drama slow pace dengan hal tersirat.

Menonton film, bagi saya adalah cara singkat untuk membaca sebuah kisah. Saya menyukai film-film yang diangkat dari sebuah novel, webtoon dan karya tulis lainnya, yang biasanya memang lebih kaya akan imajinasi dan literasi. Lets say: A Walk to Remember, The Notebook, The Fault in Our Stars, Twillight Saga, Harry Potter, Extraordinary You, you named it.

Nah, Start-Up memang bukan film yang yang diangkat dari sebuah novel/webtoon, tetapi seharusnya itu bukan alasan kenapa jalan ceritanya jadi harus ngaco.

Penggambaran mendalam second lead di awal cerita

Kita semua menunggu kapan main lead akan dimunculkan sembari dicekoki dengan kisah mengharukan seorang Han Ji-Pyeong di awal cerita. Karakter yang keras kepala, sulit dipahami, meledak-ledak, dan tertutup. Tapi di balik itu, ia ternyata punya hati yang selembut kapas. Hubungan Han Ji-Pyeong dan Nenek Choi (nenek dari tokoh perempuan) pun membekas di episode pertama.

Porsi penggambaran second lead di episode-episode awal ini bagi saya terasa sangat aneh dan terlalu berlebihan. Untung saja saya sudah tahu kalau dia hanyalah supporting system, sehingga tidak semudah itu bagi saya untuk terganggu dengan tokoh second lead. Saya masih fokus pada tokoh utama sampai saat itu.

Baca juga:  Pijat Plus-plus Surabaya yang Tetep Menggeliat meski Pandemi Mencegat

Karakter main lead yang membingungkan hingga episode 10

Nam Do-San adalah karakter yang baik-baik saja. Ia berbakat, manis, patuh pada orang-tua (walau sempat ada crash beberapa kali), dan tentu saja sedikit konyol. Karakter ini diperankan oleh Nam Joo Hyuk yang seksi.

Dari awal, saya masih berharap banyak pada Nam Do-San, bahwa suatu saat ia bakal jadi orang hebat dan keren seperti Nam Joo Hyuuk di dunia nyata.

Saya nyaman saja pada tokoh ini, sampai suatu ketika, terjadi lonjakan karakter aneh dari Nam Do-San. Ia melempar name tag ayah tiri Won In Jae hingga berkeping-keping. Hemmm, saya rasa, penulisan karakter main lead dalam hal ini sungguh nggak hati-hati. Maksud saya, nggak perlu sampai lempar name tag juga kali. Itu benda pecah belah, wooooy. Gimana kalo pecahannya kena mata? Nam Do-San ini sudah 20 tahunan lho, bukan waktunya lagi buat tantrum.

Episode tersebut ditutup dengan deep kiss antara: Seo Dal-Mi dan Nam Do-San. Saya gagal paham dengan motifnya. Kecepetaaaan! Bisa nggak sih pelukan manis dulu gitu?

Lagipula Nam Do-San belum mengungkapkan siapa dia sebenarnya pada Seo Dal-Mi tapi dia udah berani nyium, guys. Nggak tau apa kalau ciuman di drakor itu biasanya sakral. Disimpan untuk episode akhir-akhir, Kek.

Terlanjur jatuh cinta pada kisah surat-suratan di masa lalu

Han Ji-Pyeong sudah memiliki ikatan dengan Dal-Mi di masa kecilnya. Dan tentu saja itu bukan jenis ikatan yang bisa dilepaskan begitu saja.

Han Ji-Pyeong menjadi penyelamat hari-hari Dal-Mi yang bisa dibilang adalah momen terberatnya. Jika saja tidak ada surat-surat itu, Dal-Mi memang berpotensi akan tetap move on, tapi mungkin dengan cara yang berbeda.

Kalau dari awal Dal-Mi jatuh cinta pada seorang Nam Do-San melalui sikap yang ia bangun melalui surat, maka seharusnya ia merasa aneh dengan Nam Do-San yang pada kenyataannya jauh dari apa yang tergambar di dalam surat.

Main lead, passionate or desperate?

Do-San menangis saat ketahuan Dal-Mi. Dia bohong sama Dalmi. Dia nangis sesenggukan yang nggak mungkin akan dilakukan Kim Shin atau Captain Ri atau bahkan Nam Jo-Hyuuk sendiri di drama-drama sebelumnya (sebagai main lead).

Nangis sesenggukan karena ketahuan bohong sama cewek? Hellllloooooow. Kami lebih menghargai air mata yang tak jatuh. Yah, meskipun secara ilmu kesehatan, air mata yang jatuh lebih menyehatkan.

Tak cukup di situ, Do-San kemudian berani-beraninya nyamperin rumah Dal-Mi dan “diusir” dong. Meskipun begitu, dia tetap ngintilin Dal-Mi. Tunggu-tunggu, sebegitunyakah karakter main lead sampai harus direndahkan begitu rupa? Mana Do-San yang passionate soal start up? Mana karakter living buddha yang dielu-elukan? Mana Do-San yang gila soal pemrograman? Ketika dia mau bangkit pun, kenapa harus bohong dulu karena takut kehilangan cewek, kenapa malah bucin, Do-Saaaaaan?

Baca juga:  Drama Korea dan Hallyu Mengubah Pandangan Hidup Saya

Di setiap kemajuan episode Start-Up, Do-San selalu “ditampar” dengan kondisi dirinya yang terpuruk serta terus dibandingkan dengan Han Ji-Pyeong. Tentu saja Do-San bisa dibilang kalah telak, tapi hebatnya, ia selalu mendapat tempat di sisi Dal-Mi sehingga tidak memberikan tempat untuk second lead untuk meluruskan segalanya. Kebenaran tetap harus diungkapkan. Yang greget mana suaranya?

Do-San punya tempat di setiap episode dengan Dal-Mi, tapi malah menjauhkan tempatnya di hati para penonton seperti kami. Tolong penulis cerita, ada apa ini?

Itulah kenapa saya selalu menantikan kapan waktunya Do-San akan unggul, tapi bukan hanya secara kemapanan lahiriah dengan omset perusahaan ratusan milyar. Karena bukan itu yang kami harapkan. Sepertinya ini akan terjawab setelah episode 10. Dan semua faktor unsur penyusun sebuah cerita bisa dimaksimalkan untuk Do-San di episode-episode akhir tersebut. Dan mungkin Do-San akan dibuat sedemikian rupa hingga surat-surat Han Ji-Pyeong tidak ada lagi artinya di hati Dal-Mi.

Jika ada plot twist, hal itu tampak sia-sia

Seperti kebanyakan drama Korea, akhir cerita Start-Up pun kemungkinan bakal susah ditebak. Dan itu pula yang membuat saya tampaknya bakal tetap menonton sampai akhir episode, meskipun saat ini, saya masih kesal dan rasanya ingin mem-block serial ini seperti menghapus kontak mantan pacar yang mengecewakan.

Bagaimanapun, penulis cerita Start-Up berhasil membuat kompleksitas perasaan penonton. Kecewa dan penasaran. Dan yang terpenting, menaikkan rating.

Saya menunggu apa yang akan dilakukan Do-San untuk mengangkat kembali harga dirinya dan juga chemistry sebagai seorang main lead, menunggu intisari dari cerita ini seperti apa.

Apakah ceritanya akan seindah saat cerita ini dimulai? Tak peduli siapapun yang akan bersanding dengan tokoh perempuan nantinya, sebab hal itu memang tak lagi penting.

Drama yang baik adalah drama yang dapat memberikan suatu pelajaran hidup baru. Pelajaran hidup apa saja, termasuk pelajaran untuk jangan terlalu berharap pada cerita sebuah drama.

BACA JUGA Evolusi yang Terjadi pada Manusia Pecinta Drakor