Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sebagai Penonton, Saya Benar-Benar Terganggu dengan Jalan Cerita Serial ‘Start-Up’

Rahmi Nur Hafiyyah oleh Rahmi Nur Hafiyyah
18 November 2020
A A
start-up
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Banyak yang suka dengan serial ‘Start-Up’, namun tak sedikit pula yang terganggu.

Ada yang menarik dari drama Korea ‘Start-Up’. Baru beberapa episode, namun ia sudah mampu melahirkan kontroversi di mana-mana. Ia benar-benar memecah belah umat. Perang di Twitter sampai kolom komentar Asianwiki yang membicarakan tentang serial ini rasanya tak pernah sepi. Pada satu titik, bahkan tidak sedikit penonton yang sampai melakukan perundungan terhadap artisnya. Hadeeeh, memang artisnya salah apa, Bund?

Berdasarkan kuis lepasan yang tidak terakreditasi di sebuah aplikasi online, saya ini tergolong agak-agak HSP alias highly sensitive person. Mangkanya, sebagai seorang penonton film atau serial, saya kelewat menjiwai peran dan ceritanya.

Saya kerap terganggu dengan film-film macam Joker, Marriage Story dan Parasite. Padahal itu semua film pemenang penghargaan. Namun khusus untuk Start-Up, sepanjang pengalaman saya menjadi penonton film baik holiwud maupun koreyah, belum pernah saya merasa seterganggu ini.

Saya suka mengamati hal detail seperti musik, rumput, suara hewan, senyum, sorot mata, nada bicara, keselarasan dialog dan bahasa tubuh, serta alur yang menjadi latar cerita sebuah kisah. Bukan hanya akting pemainnya doang. Saya suka drama slow pace dengan hal tersirat.

Menonton film, bagi saya adalah cara singkat untuk membaca sebuah kisah. Saya menyukai film-film yang diangkat dari sebuah novel, webtoon dan karya tulis lainnya, yang biasanya memang lebih kaya akan imajinasi dan literasi. Lets say: A Walk to Remember, The Notebook, The Fault in Our Stars, Twillight Saga, Harry Potter, Extraordinary You, you named it.

Nah, Start-Up memang bukan film yang yang diangkat dari sebuah novel/webtoon, tetapi seharusnya itu bukan alasan kenapa jalan ceritanya jadi harus ngaco.

Penggambaran mendalam second lead di awal cerita

Kita semua menunggu kapan main lead akan dimunculkan sembari dicekoki dengan kisah mengharukan seorang Han Ji-Pyeong di awal cerita. Karakter yang keras kepala, sulit dipahami, meledak-ledak, dan tertutup. Tapi di balik itu, ia ternyata punya hati yang selembut kapas. Hubungan Han Ji-Pyeong dan Nenek Choi (nenek dari tokoh perempuan) pun membekas di episode pertama.

Porsi penggambaran second lead di episode-episode awal ini bagi saya terasa sangat aneh dan terlalu berlebihan. Untung saja saya sudah tahu kalau dia hanyalah supporting system, sehingga tidak semudah itu bagi saya untuk terganggu dengan tokoh second lead. Saya masih fokus pada tokoh utama sampai saat itu.

Karakter main lead yang membingungkan hingga episode 10

Nam Do-San adalah karakter yang baik-baik saja. Ia berbakat, manis, patuh pada orang-tua (walau sempat ada crash beberapa kali), dan tentu saja sedikit konyol. Karakter ini diperankan oleh Nam Joo Hyuk yang seksi.

Dari awal, saya masih berharap banyak pada Nam Do-San, bahwa suatu saat ia bakal jadi orang hebat dan keren seperti Nam Joo Hyuuk di dunia nyata.

Saya nyaman saja pada tokoh ini, sampai suatu ketika, terjadi lonjakan karakter aneh dari Nam Do-San. Ia melempar name tag ayah tiri Won In Jae hingga berkeping-keping. Hemmm, saya rasa, penulisan karakter main lead dalam hal ini sungguh nggak hati-hati. Maksud saya, nggak perlu sampai lempar name tag juga kali. Itu benda pecah belah, wooooy. Gimana kalo pecahannya kena mata? Nam Do-San ini sudah 20 tahunan lho, bukan waktunya lagi buat tantrum.

Episode tersebut ditutup dengan deep kiss antara: Seo Dal-Mi dan Nam Do-San. Saya gagal paham dengan motifnya. Kecepetaaaan! Bisa nggak sih pelukan manis dulu gitu?

Lagipula Nam Do-San belum mengungkapkan siapa dia sebenarnya pada Seo Dal-Mi tapi dia udah berani nyium, guys. Nggak tau apa kalau ciuman di drakor itu biasanya sakral. Disimpan untuk episode akhir-akhir, Kek.

Iklan

Terlanjur jatuh cinta pada kisah surat-suratan di masa lalu

Han Ji-Pyeong sudah memiliki ikatan dengan Dal-Mi di masa kecilnya. Dan tentu saja itu bukan jenis ikatan yang bisa dilepaskan begitu saja.

Han Ji-Pyeong menjadi penyelamat hari-hari Dal-Mi yang bisa dibilang adalah momen terberatnya. Jika saja tidak ada surat-surat itu, Dal-Mi memang berpotensi akan tetap move on, tapi mungkin dengan cara yang berbeda.

Kalau dari awal Dal-Mi jatuh cinta pada seorang Nam Do-San melalui sikap yang ia bangun melalui surat, maka seharusnya ia merasa aneh dengan Nam Do-San yang pada kenyataannya jauh dari apa yang tergambar di dalam surat.

Main lead, passionate or desperate?

Do-San menangis saat ketahuan Dal-Mi. Dia bohong sama Dalmi. Dia nangis sesenggukan yang nggak mungkin akan dilakukan Kim Shin atau Captain Ri atau bahkan Nam Jo-Hyuuk sendiri di drama-drama sebelumnya (sebagai main lead).

Nangis sesenggukan karena ketahuan bohong sama cewek? Hellllloooooow. Kami lebih menghargai air mata yang tak jatuh. Yah, meskipun secara ilmu kesehatan, air mata yang jatuh lebih menyehatkan.

Tak cukup di situ, Do-San kemudian berani-beraninya nyamperin rumah Dal-Mi dan “diusir” dong. Meskipun begitu, dia tetap ngintilin Dal-Mi. Tunggu-tunggu, sebegitunyakah karakter main lead sampai harus direndahkan begitu rupa? Mana Do-San yang passionate soal start up? Mana karakter living buddha yang dielu-elukan? Mana Do-San yang gila soal pemrograman? Ketika dia mau bangkit pun, kenapa harus bohong dulu karena takut kehilangan cewek, kenapa malah bucin, Do-Saaaaaan?

Di setiap kemajuan episode Start-Up, Do-San selalu “ditampar” dengan kondisi dirinya yang terpuruk serta terus dibandingkan dengan Han Ji-Pyeong. Tentu saja Do-San bisa dibilang kalah telak, tapi hebatnya, ia selalu mendapat tempat di sisi Dal-Mi sehingga tidak memberikan tempat untuk second lead untuk meluruskan segalanya. Kebenaran tetap harus diungkapkan. Yang greget mana suaranya?

Do-San punya tempat di setiap episode dengan Dal-Mi, tapi malah menjauhkan tempatnya di hati para penonton seperti kami. Tolong penulis cerita, ada apa ini?

Itulah kenapa saya selalu menantikan kapan waktunya Do-San akan unggul, tapi bukan hanya secara kemapanan lahiriah dengan omset perusahaan ratusan milyar. Karena bukan itu yang kami harapkan. Sepertinya ini akan terjawab setelah episode 10. Dan semua faktor unsur penyusun sebuah cerita bisa dimaksimalkan untuk Do-San di episode-episode akhir tersebut. Dan mungkin Do-San akan dibuat sedemikian rupa hingga surat-surat Han Ji-Pyeong tidak ada lagi artinya di hati Dal-Mi.

Jika ada plot twist, hal itu tampak sia-sia

Seperti kebanyakan drama Korea, akhir cerita Start-Up pun kemungkinan bakal susah ditebak. Dan itu pula yang membuat saya tampaknya bakal tetap menonton sampai akhir episode, meskipun saat ini, saya masih kesal dan rasanya ingin mem-block serial ini seperti menghapus kontak mantan pacar yang mengecewakan.

Bagaimanapun, penulis cerita Start-Up berhasil membuat kompleksitas perasaan penonton. Kecewa dan penasaran. Dan yang terpenting, menaikkan rating.

Saya menunggu apa yang akan dilakukan Do-San untuk mengangkat kembali harga dirinya dan juga chemistry sebagai seorang main lead, menunggu intisari dari cerita ini seperti apa.

Apakah ceritanya akan seindah saat cerita ini dimulai? Tak peduli siapapun yang akan bersanding dengan tokoh perempuan nantinya, sebab hal itu memang tak lagi penting.

Drama yang baik adalah drama yang dapat memberikan suatu pelajaran hidup baru. Pelajaran hidup apa saja, termasuk pelajaran untuk jangan terlalu berharap pada cerita sebuah drama.

BACA JUGA Evolusi yang Terjadi pada Manusia Pecinta Drakor

Terakhir diperbarui pada 16 Desember 2020 oleh

Tags: drama koreastart-up
Rahmi Nur Hafiyyah

Rahmi Nur Hafiyyah

Manusia normal setengah ibu-ibu. Bisa ditemui di akun @rahmihafiyyah

Artikel Terkait

Dracin bukan sekadar kisah cinta lebay. MOJOK.CO
Ragam

Kisah Cinta “Menye-menye” ala Dracin bikin Hidup Perempuan Dewasa Lebih Berbunga dari Luka Masa Lalu yang Menyakitkan

6 Januari 2026
5 Drama Korea Bertema Pendidikan, Nonton Sambil Belajar Tipis-tipis MOJOK.CO
Hiburan

5 Drama Korea Bertema Pendidikan, Nonton Sambil Belajar Tipis-tipis

21 September 2023
rekomendasi 5 drakor politik
Podium

Rekomendasi 5 Drakor Bertema Politik, Cocok Buat Maraton Nunggu Buka Puasa!

25 Maret 2023
yumi's cells mojok.co
Hiburan

Drama Yumi’s Cells Berbeda dengan Versi Komik, Penulis Jelaskan Alasannya

3 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Perantau Minang di kantin kereta api Indonesia (KAI) dalam perjalanan mudik Lebaran

Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”

13 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.